Napak Tilas Pahlawan
Senator Aceh Fachrul Razi Napak Tilas Pahlawan dan Ulama Aceh, Dimulai dari Makam Tjoet Nyak Dhien
Tjoet Nyak Dhien meninggal dunia di pengasingannya dan dikebumikan di Kampung Gunung Puyuh, Desa Sukajaya, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumed
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Ansari Hasyim
Laporan Fikar W Eda I JAWA BARAT
SERAMBINEWS.COM, SUMEDANG - Senator Aceh yang baru saja terpilih kembali secara aklamasi sebagai Ketua Komite 1 DPD RI, Fachrul Razi melakukan ziarah ke makam Pahlawan Nasional asal Aceh, Tjoet Nyak Dhien di Sumedang, Jawa Barat, Minggu (22/8/2021).
Fachrul Razi menyempatkan diri berziarah di sela kunjungan kerja di Sumedang sebagai bagian dari rencana mengawali kegiatan Napak tilas pahlawan dan ulama Aceh baik di Aceh maupun luar Aceh.
Napak tilas ini diawali dari Pahlawan Nasional asal Aceh Tjoet Nyak Dhien.
"Ini adalah napak tilas pertama, dan Insya Allah akan dilanjutkan ke seluruh makam pahlawan dan ulama di Aceh," kata senator yang masih lajang ini.
Fachrul yang berasal dari Aceh dalam berbagai kesempatan, selalu mengingat pesan para leluhur atas jasa pahlawan harus dikenang sekaligus mengingat kembali perjuangannya.
Baca juga: NasDem Aceh Rombak Pengurus Daerah, Pasang Target Besar pada Pemilu 2024
Baca juga: Aceh Utara Utamakan Vaksin Moderna untuk Tenaga Kesehatan
"Dengan berziarah seperti ini kita diingatkan kembali terhadap spirit dan perjuangan tanpa kenal lelah oleh perempuan hebat ini. Mendorong kita bangkit kembali agar tidak mudah menyerah dalam situasi sangat sulit sekalipun," kata Fachrul Razi.
Tjoet Nyak Dhien ditangkap oleh kolonialis Belanda dan mengasingkannya ke Sumedang Jawa Barat.
Tjoet Nyak Dhien ditangkap setelah lokasi persembunyiannya dibocorkan oleh panglimanya sendiri, bergelar Pang Laot karena alasan kesehatan dan logistik perang yang kurang dan personil perang yang berkurang drastis karena banyak yang terbunuh.
Tjoet Nyak Dhien meninggal dunia di pengasingannya dan dikebumikan di Kampung Gunung Puyuh, Desa Sukajaya, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.
Keberadaan Makam Tjut Nyak Dhien baru ditemukan pada tahun 1959, setelah Gubernur Aceh saat itu, Ali Hasjmy meminta untuk dilakukan pencariannya di Sumedang berdasarkan data Belanda.
Dalam dokumennya, Pemerintah Belanda hanya menyebut pada tahun 1906 ada satu tahanan politik perempuan Aceh yang dikirim ke Sumedang. Dia diasingkan bersama seorang panglima berusia 50 tahun dan seorang kemenakannya bernama Teungku Nana yang berusia 15 tahun.
Tjut Nyak Dhien menghabiskan dua tahun hidupnya di Sumedang. Pada 6 November 1908, Tjoet Nyak Dien wafat dalam usia 60 tahun.
Selama pengasingan Tjoet Nyak Dhien mengisi waktunya dengan mengajar penduduk sekitar mengaji Al Quran. Hingga akhirnya penduduk Sumedang lebih mengenal Tjoet Nyak Dhien dengan nama Ibu Prabu atau Ibu Suci.
Pada batu nisan makam Tjoet Nyak Dhien, tertera rangkuman riwayat hidupnya, kemudian tertera juga surah at-Taubah dan al-Fajr, serta hikayat Aceh.(*)