Sabtu, 11 April 2026

Internasional

Perdana Menteri Israel Temui Presiden Joe Biden di Washington

Perdana Menteri Israel Naftali Bennett akan menemui Presiden AS Joe Biden di Gedung Putih, Washington. Hal itu terjadi di tengah ketegangan yang

Editor: M Nur Pakar
AFP
Perdana Menteri Israel Naftali Bennett (kanan) disambut oleh Menteri Pertahanan AS Jenderal Lloyd Austin selama di Pentagon, AS, Rabu (25/8/2021) sebelum menemui Presiden AS Joe Biden di Gedung Putih. 

SERAMBINEWS.COM, WASHINGTON - Perdana Menteri Israel Naftali Bennett akan menemui Presiden AS Joe Biden di Gedung Putih, Washington.

Hal itu terjadi di tengah ketegangan yang meningkat dengan musuh bebuyutan regionalnya, Iran.

Israel juga sedang bergulat dengan kebangkitan permusuhan bertahap di perbatasan selatannya dengan Jalur Gaza.

Bennett, dalam kunjungan kenegaraannya yang pertama ke luar negeri sejak menjabat, bertemu secara terpisah pada Rabu (25/8/2021) dengan dua menteri.

Yakni, Menteri Pertahanan Lloyd Austin dan Menteri Luar Negeri Antony Blinken.

Pada awal pertemuannya dengan Blinken, Bennett mengatakan berencana berbicara dengan Biden dan pejabat pemerintah, seperti dilansir AP, Kamis (26/8/2021).

Baca juga: Jet Tempur Israel Bombardir Gudang Senjata Hamas di Jalur Gaza

Direncanakan, membahas tentang membatasi perlombaan Iran untuk memperoleh senjata nuklir.

AS dan Israel juga diperkirakan akan membahas pandemi virus corona, perubahan iklim, dan masalah ekonomi.

Bennett telah berbicara untuk menentang kesepakatan nuklir baru antara Iran dan kekuatan dunia.

Dia mengatakanbahwa setiap kesepakatan juga harus mengerem agresi regional Iran.

Dalam beberapa bulan terakhir ini, telah terjadi serangkaian serangan terhadap pengiriman yang terhubung dengan Israel, yang diyakini telah dilakukan oleh Iran.

Awal pekan ini, Bennett mengatakan kepada Kabinetnya akan memberi tahu Presiden AS.

Baca juga: Kepala Intelijen Mesir Kunjungi Israel, Bahas Gencatan Senjata dan Undang PM Israel

"Sekarang waktunya untuk menghentikan Iran," ujarnya.

"Juga tidak memasukkan kembali kesepakatan nuklir yang telah kadaluwarsa dan tidak relevan, bahkan bagi mereka yang menganggapnya relevan," tegas Bennett.

Gesekan antara Israel dan penguasa Hamas di Jalur Gaza telah meningkat dalam tiga bulan terakhir ini seusai perang 11 hari.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved