Opini
Waspadai Titik Lemah Penularan Covid-19
Lonjakan kasus Covid-19 meningkat tajam, temuan varian delta, antrian pasien di IGD dan Poliklinik Pinere dalam dua minggu terakhir
Oleh Dr. Ferry Dwi Kurniawan, SpP, Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Aceh
Lonjakan kasus Covid-19 meningkat tajam, temuan varian delta, antrian pasien di IGD dan Poliklinik Pinere dalam dua minggu terakhir menjadi pemandangan yang memilukan. Berita kematian pun semakin sering dijumpai dalam lingkungan sekitar.
Kasus Covid-19 di rumah sakit ini hanya gambaran hilir saja, sedangkan kasus di hulu (masyarakat) ibarat banjir bandang. Berikut trend kasus yang naik pada 15 April, 24 Mei, dan 30 Juli 2021.
Pola tersebut sesuai dengan masa inkubasi Covid-19 yang ditengarai menyebar saat acara keagamaan ataupun kerumunan di hari libur. Lonjakan ini persis sama seperti 1-2 bulan lalu yang terjadi di pulau Jawa.
Trend kasus di Aceh yang semakin meningkat semenjak 15 April 2021. Trend tersebut dapat turun dengan upaya dan tekad kuat di semua lapisan masyarakat yaitu;
1. Membendung kasus di masyarakat (hulu). Pada kenyataannya, protokol kesehatan tidak dijalankan dengan baik di masyarakat. Terdapat titik lemah penularan berdasarkan tracing pasien. Gunakanlah prinsip Ventilasi-Durasi-Jarak ketika beraktifitas.
a Acara Keagamaan. Sirkulasi ruangan buruk, jemaah yang padat, tidak memakai masker sering dijumpai saat ibadah berlangsung. Acara di udara terbuka akan lebih baik dibandingkan dengan udara tertutup dengan AC. Durasi sebaiknya dipersingkat dengan mengacu pada rukun ibadah.
Semua menggunakan masker, datang sudah berwudhu, menggunakan sajadah sendiri, dan mengatur jarak. Jemaah yang merasa tidak enak badan, bersin, batuk sebaiknya tidak hadir. Pengurus dapat melarang masuk apabila jemaah tidak mematuhi protokol Kesehatan.
b. Restoran/Kedai Kopi. Cara yang terbaik adalah take away (bawa pulang) atau menggunakan aplikasi antar makanan. Sebagai catatan, layanan antar makan Gofood meningkat 20% selama pandemik dan ini adalah peluang bagi pengusaha untuk meningkatkan penjualan.
Bagi yang hendak dine in (makan di tempat) pastikan area makan terbuka atau sirkulasi udara baik. Durasi makan dapat dipersingkat menjadi 20 menit seperti diterapkan Gubernur Anies. Buatlah menu menjadi paket yang ringkas jadi konsumen tinggal. Upayakan duduk tidak berhadap-hadapan dan perhatikan aliran angin.
Hindari melakukan swafoto (selfie) dengan membuka masker. Pengusaha boleh menegur konsumen yang tidak mentaati prokes, demikian juga konsumen wajib saling mengingatkan.
c. Kantor/Tempat Kerja. Titik lemah yang sering dijumpai adalah makan dan minum bersama di tempat . Ada perasaan aman karena semua rekan kerja telah divaksinasi. Upaya terbaik adalah bekerja dari rumah (work from home). Masuk kerja dapat dibuat bergantian. Upayakan bekerja di ruangan dengan ventilasi yang baik.
Tetap gunakan masker selama bekerja dan apabila hendak makan atau minum pastikan tidak ada orang di sekitar. Perhatikan apakah AC di ruangan apakah AC (air conditioning) jenis sentral atau tidak. Sebagai catatan, kasus Covid-19 di kapal Diamond Princess tahun 2020 ditengarai menyebar melalui sistem AC.
d. Sekolah/Kampus. Pembelajaran tatap muka dilakukan di kelas dengan pintu dan jendela yang terbuka. Durasi pembelajaran dapat dipersingkat menjadi beberapa jam pelajaran. Murid-murid dapat duduk dengan selang satu meja dengan jarak 1-2 meter. Selama proses pembelajaran tatap muka tidak minum atau makan. Semua guru, murid, orang tua wajib menggunakan masker. Satpam dapat menegur bila ada orang tua yang abai menjaga prokes.
Mahasiswa yang hendak bimbingan dengan dosen dilakukan secara daring. Dokumen yang harus ditandatangani dapat dilakukan secara elektronik ataupun menitipkan dokumen tersebut di tempat penitipan. Jangan abai karena infeksi Covid-19 tetap dapat menular pada anak dan dewasa muda tanpa gejala.
e. Pasar/Kedai/Pusat Perbelanjaan. Upayakan catat barang-barang yang perlu untuk dibeli dan batasi durasi belanja. Hindari penjual atau penjaga kedai yang tidak memakai masker ataupun ruangan tertutup. Datanglah pada jam buka dan hindari kerumunan antrian.
Gunakan fasilitas Whatsapp/SMS untuk memesan kebutuhan sehari-hari misalnya ikan atau sayur-sayuran. Cari pedagang yang mau mengantar ke rumah. Resiko terinfeksi lebih kecil, hemat waktu dan transportasi, serta yang penting adalah menggerakan roda ekonomi kecil.
f. Resepsi Pernikahan/Acara Sosial. Titik lemah biasanya kerumunan tamu, makan bersama, swafoto (selfie) dengan membuka masker. Penyelenggara menyediakan tempat cuci tangan, menyusun duduk tidak rapat di ruangan terbuka, menyediakan kotak nasi untuk dapat dibawa pulang, membatasi jumlah undangan, serta memastikan setiap pengunjung menggunakan masker.
g. Berpergian Bersama/Angkutan Umum. Beberapa pasien terinfeksi setelah bepergian bersama dalam satu mobil dalam jangka waktu lama. Upayakan duduk menjaga jarak, pilih dekat jendela, upayakan membuka jendela, dan yang lebih penting menggunakan masker selama perjalanan termasuk supir. Terdengar mungkin kurang nyaman dan yang terbaik adalah menghindari bepergian (5M-mengurangi mobilitas).
h. Rumah. Walaupun rumah adalah pertahanan terakhir namun paling sering dijumpai terinfeksi dari anggota keluarga yang lain. Mayoritas masyarakat tinggal serumah bersama dalam keluarga besar seperti kakek, nenek, paman, bibi, anak, cucu, asisten rumah angga ataupun supir.
Teman yang bertandang apalagi menginap berpotensi untuk menularkan orang rumah. Hal ini dapat dihindari dengan membatasi kunjungan, mengingatkan anak dan remaja untuk selalu menggunakan masker saat bermain bersama dan menyediakan tempat cuci tangan di teras.
2. Memfasilitasi orang tanpa gejala/gejala ringan dengan isolasi mandiri (hulu). Saat ini, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Aceh menyediakan layanan konsultasi bagi yang menjalani isolasi mandiri via Whatsapp di 12 kota/kabupaten. Masyarakat dengan hasil PCR Swab (+) dapat berkonsultasi mengenai kondisi kesehatan mereka. Konsultasi obat, pemantauan gejala, pemeriksaan ulang serta hal lain dapat ditanyakan.
Pasien-pasien yang mengalami perburukan dapat secara dini dipantau dan dirujuk ke IGD Pinere. Layanan ini mendapat animo dan respons yang baik. Sebaiknya layanan serupa dapat dikembangkan dengan melibatkan dinas kesehatan, puskesmas, ataupun fasilitas kesehatan setempat. Dengan memastikan isoman secara tuntas maka rantai penularan dapat diputus serta tingkat keparahan pasien ke rumah sakit dapat dicegah.
3. Menguatkan sumber daya di fasilitas kesehatan (hilir). Saat ini, layanan penanganan kasus Covid-19 di rumah sakit telah diupayakan optimal. Perlu diingat, kasus yang datang tidak bisa dituntaskan hanya dengan membuka ruang rawatan saja. Permintaan kebutuhan obat-obatan, oksigen, alat-alat kesehatan serta tenaga kesehatan tidak diimbangi dengan persediaan.
Sementara itu satu per satu tenaga kesehatan tumbang sakit sedangkan kasus-kasus terus berdatangan. Pembukaan tenaga relawan awam untuk membantu mengurus pasien-pasien serta relawan tenaga kesehatan di Pinere dapat dipertimbangan mengingat kasus yang terus melonjak.
Tidak mudah dan butuh penyesuaian untuk menerapkan hal-hal di atas. Percayalah, bila tidak ada tekad dan upaya penanganan secara bersama-sama maka fasilitas kesehatan dikhawatirkan bisa kolaps.
Upaya ini bukan hanya oleh tenaga kesehatan ataupun pemerintah daerah saja, namun oleh semua lapisan masyarakat. Ayo kita semua berikhtiar dan memohon pertolongan Allah agar pandemik ini segera berakhir. (QS. Ar-Rad Ayat 11).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/dr-ferry-dwi-kurniawan-spp-ketua-perhimpunan-dokter-paru-indonesia-pdpi-aceh.jpg)