Rabu, 6 Mei 2026

Ali Mughayat Syah, Pelopor Kedigdayaan Islam di Asia Tenggara

REPORTASE ini merupakan tinjauan biografis atas peran dan kontribusi salah satu sultan Aceh, yakni Sultan Ali Mughayat Syah

Tayang:
Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
T.M. ICHSAN Peminat sejarah Aceh dan penulis buku “Memori Kolektif Aceh”. melaporkan dari Ulee Kareng, Banda Aceh. 

OLEH T.M. ICHSAN Peminat sejarah Aceh dan penulis buku “Memori Kolektif Aceh”. melaporkan dari Ulee Kareng, Banda Aceh.

REPORTASE ini merupakan tinjauan biografis atas peran dan kontribusi salah satu sultan Aceh, yakni Sultan Ali Mughayat Syah. Ia memiliki peranan penting dalam perjalanan sejarah Aceh, bahkan Asia Tenggara. Di antaranya, berjasa sebagai pendiri Kesultanan Aceh Darussalam dan tokoh yang pertama sekali menentang imperialisasi bangsa Barat di Asia Tenggara, setelah kejatuhan Malaka (1511).

Namun dewasa ini, masih banyak masyarakat, khususnya Aceh yang tak mengetahui peran dan kontribusinya dalam mengukuhkan kedudukan Islam di Asia Tenggara. Pada tahun 1453, Sultan Turki Usmani, Muhammad Al- Fatih membuktikan keabsahan nubuat Nabi Muhammad saw mengenai penaklukan Konstantinopel, kota terpenting dan terkuat di dunia. Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya akan dibuka Kota Konstantinopel, sebaik-baik pemimpin adalah yang memimpin saat itu, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan perang saat itu.” (HR. Imam Ahmad 4/235, Bukhari 139).

Penaklukan ini dicatat sebagai sebuah penaklukan yang mengubah dunia. Hal ini sejurus dengan beberapa misi Sultan Al-Fatih: ingin melebarkan dan memperkukuh pengaruh kekuatan Islam di panggung internasional; mengakhiri dominasi Byzantium Romawi Timur di Timur Tengah, serta menguasai perdagangan internasional di wilayah Konstantinopel, dengan membatasi kegiatan bangsa-bangsa Kristen di Laut Tengah.

Oleh sebab tekanan politik dan ekonomi melanda bangsa-bangsa Barat, kemudian dibarengi dengan semangat melanjutkan Perang Salib, maka demi keberlangsungan peradabannya, mereka harus putar otak—berpikir untuk mencari belahan ‘Dunia Baru’.

***

Awal dimulainya agenda imperialisasi ini, ditandai dengan penandatanganan kesepakatan di Tordesillas (Spanyol) pada 7 Juni 1494. Secara ringkas isi perjanjian ini memuat pembahasan tentang pembagian wilayah jajahan, antara Portugis dan Spanyol. Dicatat oleh MC Ricklefs dkk (2013: 166-195) setelah Portugis dapat menaklukkan Kerajaan Goa di pesisir barat India pada tahun 1510.

Selanjutnya, dengan mengusung misi Gold, Glory dan Gospel, serta hasrat imperialisasi dan perluasan wilayah koloninya. Portugis, di bawah pimpinan Alfonso de Alberquerque, yang diperkuat armada tempur sebanyak 18 kapal, dan mengangkut sekitar 1200 balatentara, berhasil menaklukkan Kesultanan Malaka pada Agustus 1511.

Malaka sebagai momok peradaban Islam di Asia Tenggara telah berhasil dikuasai oleh Portugis. Berkat kelihaian Sultan Aceh dalam mencermati perpolitikan internasional, khususnya pascajatuhnya Konstantinopel ke tangan Turki Usmani saat itu. Dengan cekatan, ‘Sang Deklarator Aceh Darussalam’, Sultan Ali Mughayat Syah langsung menyusun kebijakan untuk mematahkan agenda imperialisasi Barat di wilayah Asia Tenggara. Mulanya, ketika Portugis muncul di sekitaran perairan Selat Malaka, Aceh masih merupakan sebuah kesultanan kecil yang tunduk pada tentangganya, Kesultanan Pedir. Pascajatuhnya Malaka, Aceh dijadikan sebagai tempat perdagangan oleh para pedagang muslim. Melihat kemajuan ini, Sultan Ali Mughayat Syah segera mengusahakan upaya pembangunan, agar nantinya Aceh dapat dijadikan pusat perdagangan menggantikan Malaka (Rusdi Sufi, 2006: 9).

Upaya pembangunan ini diawali dengan kebijakan peleburan dua Kesultanan Meukuta Alam dan Darul Kamal (di Banda Aceh dan Aceh Besar sekarang); kemudian disatukan menjadi Kesultanan Aceh Darussalam, yang dideklarasikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah (Teuku Muhammad Ichsan, 2019: 29). Di awal pemerintahannya, Sultan Ali Mughayat Syah (1514-1530) menyusun beberapa program sebagai landasan, (Mohammad Said, 1981: 169-170) 1. Bahwa negara tidak dapat berdiri jika hanya seluas kota ataupun hanya beberapa ratus kilometer saja. Dengan ditaklukkannya beberapa negara yang telah dikuasai Portugis, maka Aceh dapat menekan dominasi bangsa Barat di Asia Tenggara, layaknya Turki Usmani di Eropa. 2. Walaupun Kesultanan Malaka telah jatuh ke tangan Portugis, tapi Aceh membangkitkan kembali semangat bangsa-bangsa muslim bahwa Aceh sebagai “momok Islam” baru di Asia Tenggara yang dapat mematahkan imperialisme Barat. 3. Untuk menghadapi agresi imperialis Barat, maka Aceh perlu membentuk armada perang yang kuat. 4. Ekonomi harus diperkuat dan negara harus mengolalanya secara mandiri. Sultan Ali Mughayat Syah bersama abangnya Panglima Raja Ibrahim selaku Wazirul Harb Aceh Darussalam, segera menyusun agenda persiapan untuk menyambut serangan pasukan Portugis.

Pada tahun 1519, Portugis coba mengganggu ketenteraman publik Aceh Darusalam. Di bawah pimpinan Gaspar de Costa, armada Portugis mendarat di Kuala Aceh. Dengan cekatan pasukan Aceh yang berkekuatan tidak terlalu banyak, dapat langsung memukul pasukan Portugis. Dalam pertempuran tersebut, sebagian besar pasukan Portugis terbunuh. Sisanya, termasuk Panglima Gaspar de Costa, ditawan.

Akhirnya de Costa dapat dibebaskan setelah “ditebus” oleh Nina Cunapam, Laksamana Malaka. Hal ini berhasil membuat Alberquerque ‘Sang Conquistador’ marah besar. Pada tahun 1521, dipersiapkan kembali armada perang yang lebih besar dan kuat. Arrmada ini diberangkatkan di bawah pimpinan Panglima Jorge de Brito. Menyikapi hal itu, Ali Mughayat Syah langsung mengerahkan 8.000 balatentara beserta delapan gajah untuk mematahkan serangan Portugis. Untuk kedua kalinya serangan Portugis dengan mudah dilumpuhkan pasukan Aceh Darussalam; bahkan Panglima Jorge de Brito terbunuh dalam pertempuran tersebut (M. Dien Madjid, 2004: 36-37).

Kemudian, sisa pasukan Portugis tersebut menyingkir ke Pedir, yang pada waktu itu telah dikuasai Portugis; sebelumnya Portugis telah mendirikan sebuah factory (kantor dagang) di Kesultanan Pedir.

Selanjutnya, di bawah komando Panglima Raja Ibrahim, balatentara Aceh Darussalam mengejar sampai ke Pedir. Di Pedir pun terjadi pertempuran hebat, sehingga Sultan Ahmad dan pasukan Portugis harus lari ke Kesultanan Pasai.

Tak tinggal diam, balatentara pimpinan Panglima Raja Ibrahim pun terus mengejarnya hingga ke Pasai. Di Pasai, pasukan Aceh Darussalam dapat menghancurkan kekuatan yang telah tergabung dalam koalisi ini: Portugis, Pedir dan Pasai. Belakangan, Panglima Raja Ibrahim juga telah mengetahui Kerajaan Aru (pada masa itu belum Islam) di Sumatera Timur ingin bergabung dengan koalisi Portugis.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved