Internasional
Taliban Rangkul Media Sosial: 'Kami Juga Ingin Mengubah Persepsi Masyarakat'
Penguasa Afghanistan, Taliban mulai merangkul media sosial yang sebelumnya terlarang. Pada awal Mei 2021, ketika pasukan AS dan NATO memulai penarika
Kelompok itu mempublikasikan secara bebas di Twitter dan YouTube.
Tetapi Facebook telah menetapkan Taliban sebagai "organisasi berbahaya" dan sering menghapus akun dan halaman yang terkait dengan mereka.
Facebook mengatakan akan terus melarang konten Taliban dari platformnya.
Mr Khosty mengatakan Taliban merasa sulit untuk mempertahankan kehadiran di Facebook, dan berfokus pada Twitter.
Departemen Luar Negeri AS telah menetapkan Jaringan Haqqani sebagai kelompok teroris internasional.
Baca juga: Profil 7 Pemimpin Taliban yang Duduki Pemerintahan Afghanistan, Sirajuddin Haqqani Buronan FBI
Tetapi, pemimpin mereka Anas Haqqani dan banyak anggota kelompok tersebut memiliki akun Twitter dengan ribuan pengikut.
Berbicara dengan syarat anonim, salah satu anggota tim media sosial Taliban mengatakan tim memutuskan menggunakan Twitter.
Bahkan, saat ini, dengan sungguh-sungguh mempromosikan artikel opini New York Times yang ditulis oleh Sirajuddin Haqqani, wakil pemimpin Taliban, pada Februari 2020.
Sebagian besar akun aktif Taliban di Twitter dibuat setelah itu.
"Kebanyakan orang Afghanistan tidak mengerti bahasa Inggris, tetapi para pemimpin rezim Kabul secara aktif berkomunikasi dalam bahasa Inggris di Twitter," katanya.
"Karena audiens mereka bukan orang Afghanistan tetapi komunitas internasional," tambahnya.
"Taliban ingin melawan propaganda mereka dan itulah mengapa kami terlalu fokus pada Twitter," ujarnya.(*)
Pasukan Taliban berpatroli di dekat bandara Kabul awal bulan ini.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/juru-bicara-taliban-zabihullah-mujahid-saat-berpidato-pada-konferensi-pers-pertama-di-kabul.jpg)