Kamis, 7 Mei 2026

Internasional

Perang di Afghanistan Berakhir, Gagal Menghancurkan Taliban Seusai Digulingkan Pasca Serangan 9/11

Pasukan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya berhasil menggulingkan Pemerintahan Taliban di Afghanistan seusai serangan 11 September 2001.

Tayang:
Editor: M Nur Pakar
Jamsyid Umar
Mantan Tentara AS di Afghanistan, Kiyoshi Mino 

SERAMBINEWS.COM, WASHINGTON - Pasukan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya berhasil menggulingkan Pemerintahan Taliban di Afghanistan seusai serangan 11 September 2001.

Saat itu, Osama bin Laden yang mendalangi serangan 9/11, melakukannya dari tempat persembunyian di Afghanistan.yang diperintah Taliban.

Invasi yang dilakukan Presiden AS George W Bush dengan cepat menggulingkan Taliban tetapi tidak menghancurkan mereka.

Juga gagal menangkap Osama bin Laden, yang melarikan diri melintasi perbatasan ke Pakistan.

Bahkan, terus mengancam AS sampai dia terbunuh dalam serangan 2011 yang diperintahkan oleh Presiden Barack Obama.

Tapi sekarang Taliban kembali berkuasa, kembalinya kemenangan yang diaspal oleh kesepakatan pemerintahan Trump tahun lalu untuk menarik pasukan AS dari negara itu.

Namuna, kegagalan nyata pemerintahan Presiden Joe Biden untuk mengantisipasi seberapa cepat Kabul akan jatuh.

Ratusan veteran Perang Afghanistan lainnya dengan panik membantu para penerjemah yang pergi berperang dengan mereka untuk melarikan diri.

Baca juga: Rabi Yahudi-Amerika Menulis Hidup atau Mati. Sebelum Berhasil Dievakuasi dari Afghanistan

Itu menjadi perang terpanjang Amerika Serikat.

“Saya bergabung dengan Angkatan Darat setelah lulus dari perguruan tinggi pada Juli 2001, saat berusia 21 tahun dan tepat sebelum 9/11,” kenang veteran Angkatan Darat Kiyoshi Mino.

Dilansir AP, Jumat (10/9/2021), dia khawatir orang-orang Afghanistan yang ia layani, setelah menginvasi negara itu jatuh ke tangan Taliban.

“Saya berada di tengah-tengah kelas tentang membongkar dan memasang kembali senapan M16 dalam pelatihan dasar," ujarnya.

Dikatakan, para sersan latihan mengumumkan Amerika telah diserang dan bersiap-siap untuk berperang.

"Mereka selalu memainkan permainan pikiran, jadi kami semua mengira ini hanyalah upaya lemah untuk mengacaukan kepala kami atau menakut-nakuti kami," jelasnya.

Hanya saja tidak, karena dia melayani sebagai tentara di Afghanistan, kemudian kembali ke negara itu sebagai pekerja bantuan sipil, katanya.

Baca juga: Jaringan Haqqani Jadi Musuh Terbesar AS, Wahington Bedakan dengan Kelompok Taliban

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved