Minggu, 26 April 2026

Luar Negeri

FBI Rilis Dokumen Rahasia 9/11, Ungkap Keterlibatan Arab Saudi dengan Serangan 11 September

Dokumen itu mengungkapkan bahwa Arab Saudi memberikan bantuan logistik kepada dua pembajak yang merupakan warga Saudi.

Editor: Faisal Zamzami
Intisari online
Tragedi 9/11 World Trade Center (WTC). 

SERAMBINEWS.COM, WASHINGTON - FBI telah merilis dokumen rahasia setebal 16 halaman yang mengaitkan keterlibatan Arab Saudi dengan serangan 11 September 2011 atau peristiwa 9/11.

Dokumen tersebut dirilis pada Sabtu (11/9/2021), setelah mendapatkan perintah dari Presiden AS Joe Biden, untuk mengungkapkannya.

Dokumen itu mengungkapkan bahwa Arab Saudi memberikan bantuan logistik kepada dua pembajak yang merupakan warga Saudi.

Dikutip dari ABC 10, dokumen itu juga menerangkan adanya kontak antara pembaja dengan rekannya yang berasal dari Arab Saudi pada serangan tersebut.

Tetapi dokumen itu tak memberikan bukti bahwa Pemerintah Arab Saudi terlibat dalam plot pembajakan itu.

Dokumen itu dirilis bertepatan dengan peringatan 20 tahun serangan yang didalangi oleh kelompok teroris Al-Q   aeda.

Pihak Pemerintah Arab Saudi sendiri membantah bahwa mereka terlibat dalam insiden tersebut.

Mereka juga menegaskan tak ada bukti langsung atas keterlibatan Pemerintah Arab Saudi.

Kedutaan Besar Arab Saudi di Washington pada Rabu (8/9/2021), menegaskan mendukung penuh pengungkapan dari dokumen rahasia itu.

Mereka menegaskan hal itu sebagai cara untuk mengakhiri dugaan tak bersalah terhadap Arab Saudi.

Pengungkapan dokumen mengenai serangan 9/11 diperintahkan oleh Biden untuk dibuka ke depan publik, pekan lalu.

Keluarga korban 9/11 meminta Biden untuk membuka dokumen tersebut untuk memperkiuat gugatan mereka terhadap Arab Saudi.

Tindakan tersebut pun kemudian didukung oleh Kongres yang memberikan tekanan kepada Biden untuk melakukannya.

Menurut kelompok Persatuan Keluarga Korban 9/11berdasarkan laporan yang muncul mereka meyakini ada pejabat Pemerintah Saudi yang terlibat.

Termasuk melibatkan upaya terkoordinasi untuk memobiliasai jaringan dukungan penting bagi pembajak 9/11 yang pertama tiba, Nawaf Al-Hazmi dan Khalid Al-Midhar.

“Laporan dan bukti-bukti lainnya mengonfirmasi bahwa ada grup pejabat Pemerintah Saudi yang berafiliasi dengan Kementerian Urusan Islam kerajaan, tempat lahir ekstrimis Wahabi di dalam pemerintahan Saudi yang membantu saat memulai persiapan teror,” bunyi pernyataan mereka dilansir dari Axios.

Serangan 11 September yang diprakarsai oleh Al-Qaeda telah menewaskan 2.996 orang.

Empat pesawat United Airlines dibajak oleh teroris Al-Qaeda dan kemudian melakukan serangan bunuh diri.

Dua pesawat menabrak menara kembar World Trade Centre, satu pesawat menyerang Pentagin, dan satu pesawat lainnya jatuh setelah para penumpang melakukan perlawanan.

Diketahui sebanyak 15 dari total 19 penyerang berasal dari Arab Saudi.

Namun komisi pemerintah AS tidak menemukan bukti bahwa Arab Saudi secara langsung mendanai Al Qaeda, dalang penyerangan.

Hal ini menimbulkan tanda tanya apakah pejabat Saudi secara pribadi memiliki hubungan dengan kelompok militan tersebut.

Keluarga dari sekitar 2.500 korban tewas dan lebih dari 20.000 korban luka, bisnis, dan berbagai perusahaan asuransi, telah menggugat Saudi hingga miliaran dolar.

Dalam sebuah pernyataan atas nama organisasi 9/11 Families United, Terry Strada, yang suaminya Tom terbunuh pada 11 September, mengatakan dokumen yang dirilis oleh FBI menghilangkan keraguan tentang keterlibatan Saudi dalam serangan tersebut.

"Sekarang rahasia Saudi terungkap dan sudah lewat waktu bagi Kerajaan untuk mengakui peran pejabatnya dalam membunuh ribuan orang di tanah Amerika," kata pernyataan itu.

Baca juga: Dikabarkan Telah Tewas, Pemimpin Al-Qaeda Muncul Lewat Video saat Peringatan Serangan 11 September

Baca juga: Bush Tuntut Warga AS Tahu, Islam Damai dan Serangan 11 September 2001 Sebagai Penyimpangan Agama

Arti Peristiwa 9/11 Bagi Afghanistan

Tepat pada Sabtu (11/9/2021) lalu serangan yang juga dikenal dengan sebutan peristiwa 9/11 berusia 20 tahun.

Sebanyak 19 teroris membajak 4 pesawat komersil AS untuk menyerang sejumlah situs penting salah satunya World Trade Center (WTC) di New York City.

Serangan juga diarahkan ke Washington DC, Shanksville di Pennsylvania dan Pentagon di Virginia hingga diperkirakan menyebabkan korban jiwa sebanyak 2.977.

Pimpinan Al Qaeda, Osama bin Laden, yang disebut dilindungi Taliban di Afghanistan diduga jadi dalang dari insiden ini.

Bagi Afghanistan, serangan 9/11 merupakan pemicu Perang Afghanistan selama dua dekade.

Taliban yang berkuasa di Afghanistan sejak 1996 digulingkan oleh pasukan AS pada 2001 karena diduga melindungi anggota Al Qaeda.

Namun tahun ini, Taliban kembali memimpin Kabul dan sebagian besar negara setelah AS dan sekutu menarik pasukannya.

"Ini adalah hari ketika masa-masa buruk dimulai bagi Afghanistan dan warga Afghanistan," kata Haizbullah, seorang pedagang grosir di selatan kota Kandahar, jantung dan ibu kota asli Taliban.

Haizbullah tidak yakin bahwa tujuan AS menginvasi negaranya hanya karena ingin membalas Al Qaeda.

Menurutnya pada 2001 lalu, AS datang untuk menunjukkan kekuatannya sebagai negara besar.

"Amerika datang ke sini untuk menunjukkan kepada dunia bahwa mereka adalah negara adidaya dan 9/11 hanyalah alasan yang mereka buat untuk menduduki Afghanistan," katanya, dikutip dari The Guardian. (kompastv/ Tribunnews.com)

Baca juga: Dikabarkan Telah Tewas, Pemimpin Al-Qaeda Muncul Lewat Video saat Peringatan Serangan 11 September

Baca juga: Peluang Mohamed Salah Ikut Jejak Ronaldo dan Lukaku, Incar Rekor Baru Bersama Liverpool

Baca juga: USK, UTU, dan Disdag Aceh Barat Launching Produk UMKM

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved