Sabtu, 25 April 2026

AS dan Israel Serang Iran

Iran Ancam Serang UEA dan Bahrain Jika AS Lancarkan Serangan Darat ke Teheran

Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. Iran melontarkan ancaman keras akan melancarkan invasi darat ke Uni

Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS.COM/IST
Rudal Iran menghantam ibukota Tel Aviv di Israel sebagai bagian dari respons agresi Israel–Amerika terhadap Iran. 

Ringkasan Berita:
  • Ancaman itu disampaikan media Fars News Agency, yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), di tengah eskalasi konflik yang terus meningkat antara Teheran dan Washington.
  • Konflik terbuka ini meletus setelah ofensif besar-besaran AS dan Israel pada 28 Februari lalu, yang memicu rangkaian serangan balasan Iran di kawasan Teluk.

 

SERAMBINEWS.COM - Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. Iran melontarkan ancaman keras akan melancarkan invasi darat ke Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain jika Amerika Serikat nekat melakukan serangan darat ke wilayah Republik Islam tersebut.

Ancaman itu disampaikan media Fars News Agency, yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), di tengah eskalasi konflik yang terus meningkat antara Teheran dan Washington.

Konflik terbuka ini meletus setelah ofensif besar-besaran AS dan Israel pada 28 Februari lalu, yang memicu rangkaian serangan balasan Iran di kawasan Teluk.

Meski Donald Trump memperpanjang gencatan senjata, Washington tetap mempertahankan blokade ketat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, memicu kemarahan Teheran.

“Jika ada serangan darat terhadap Iran, maka Bahrain dan UEA adalah target balasan langsung, termasuk melalui operasi darat,” tulis Fars News Agency dalam pernyataannya.

Media tersebut menegaskan Iran tidak membutuhkan negosiasi untuk mengakhiri konfrontasi. “Cukup bagi musuh untuk memahami aturan main,” tulisnya.

Baca juga: Persenjataan AS Menipis, Biaya Perang Lawan Iran Tembus Rp 17 Triliun per Hari

Iran juga memperingatkan bahwa serangan terhadap infrastruktur vitalnya akan berujung pada kekacauan regional. “Fasilitas minyak dan energi di seluruh kawasan akan berada dalam risiko serius,” lanjut pernyataan itu.

Bahkan, Fars menyebut pembunuhan atau sabotase akan dibalas dengan respons yang “telah ditentukan secara resmi.”

Serangan balasan sudah terjadi

Ancaman itu bukan sekadar retorika. Dalam beberapa pekan terakhir, Iran dilaporkan telah melancarkan serangan ke sejumlah negara Teluk sebagai balasan atas operasi militer AS dan Israel.

Serangan ke Dubai sempat melumpuhkan aktivitas penerbangan dan membuat ribuan wisatawan terjebak di bandara internasional, menyusul penutupan ruang udara di sebagian besar Timur Tengah selama beberapa hari.

Situasi semakin genting setelah Iran merilis rekaman yang diklaim menunjukkan pasukan angkatan lautnya menyita kapal kargo di Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menjadi nadi perdagangan energi global.

AS Sita Tanker, Iran Kuasai Kapal

Pada Kamis (waktu setempat), militer AS kembali meningkatkan tekanan dengan menyita kapal tanker minyak Majestic X di Samudra Hindia. Kapal berbendera Guyana itu diduga terlibat penyelundupan minyak Iran.

Departemen Pertahanan AS merilis video pasukan Amerika berada di geladak tanker tersebut. “Kami akan terus menegakkan hukum maritim global untuk memutus jaringan ilegal yang mendukung Iran, di mana pun mereka beroperasi,” tegas Pentagon.

Data pelacakan kapal menunjukkan Majestic X berada di perairan antara Sri Lanka dan Indonesia, dengan tujuan akhir Zhoushan, China. Kapal itu sebelumnya bernama Phonix dan telah dikenai sanksi Departemen Keuangan AS sejak 2024.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved