Senin, 4 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Tanah Gayo yang Dirindukan

HUTANNYA lebat seperti rambutku. Gunungnya tinggi seperti hatiku. Lautnya luas seperti jiwaku. Alamnya ramah seperti senyumku

Tayang:
Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
AIDIL RIDHWAN putra Pante Garot, Pidie, mengabdi di Dayah dan STIS Ummul Ayman, melaporkan dari Ummul Ayman III, Meunasah Bie, Pidie Jaya 

OLEH AIDIL RIDHWAN,  putra Pante Garot, Pidie, mengabdi di Dayah dan STIS Ummul Ayman, melaporkan dari Ummul Ayman III, Meunasah Bie, Pidie Jaya

"HUTANNYA lebat seperti rambutku. Gunungnya tinggi seperti hatiku. Lautnya luas seperti jiwaku. Alamnya ramah seperti senyumku." Itulah sepenggal lirik lagu grup band Koes Plus yang menggambarkan kekayaan dan kemakmuran alam Indonesia. Saya dan Anda harus sangat bersyukur ditakdirkan menjadi warga Aceh, Republik Indonesia. Selain karena mayoritas warganya yang islami, Aceh juga mempunyai kekayaan alam yang luar biasa, baik di lautan maupun di pengunungan.

Kekayaan alam Aceh terlihat dari pegunungannya yang ditumbuhi beraneka macam tanaman. Itulah salah satu hal yang membedakan Aceh dengan wilayah-wilayah di Jazirah Arab. Di Yaman, misalnya, sepanjang jalan Kota Tarim menuju negara Oman, tak ada pepohonan lebat layaknya di Aceh. Bahkan, penduduk di Kota Tarim, Yaman, pun sangat kagum dengan kekayaan alam yang Allah titipkan untuk negara kita ini.

“Saya takjub dengan Indonesia. Di sana, di samping jalan saja ditumbuhi pohon apel. Masyaallah,” ujar Dr Alawi Abdul Qadir Alaydrus, Dosen Ushul Fiqh di Al Ahgaff University, Yaman, tiga tahun lalu, saat beliau menceritakan kisah perjalanan perdananya ke Indonesia. Ada beberapa wisata pengunungan di Aceh yang menarik untuk dikunjungi. Salah satunya, Takengon. Beberapa waktu lalu, saya bersama 14 orang sahabat berkesempatan mengunjungi kota itu. Ini merupakan kali kedua saya menginjakkan kaki di ‘kota dingin’ sepulang dari Tarim, Yaman, akhir 2018 lalu.

Sebenarnya, kedatangan kami ke wilayah itu bertujuan mengantarkan pengantin pria dari Pidie Jaya ke Simpang Balek, Kecamatan Wih Pesam, Kabupaten Bener Meriah. Kiranya belum afdal jika sudah berada di Simpang Balek tanpa meneruskan perjalanan ke Takengon. Alhasil, jadilah kami menelusuri alam Gayo tersebut.

Dataran Tinggi Gayo adalah daerah yang berada di salah satu bagian punggung pengunungan Bukit Barisan yang membentang sepanjang Pulau Sumatra. Secara administratif, Dataran Tinggi Gayo meliputi wilayah Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Kabupaten Gayo Lues. (Wikipedia). Sebelum meneruskan perjalanan ke Takengon, kami sempatkan waktu untuk singgah di masjid kota Simpang Balek. Masjid Al- Muttaqin namanya. Lokasinya berada di antara kepadatan barisan toko-toko kota Simpang Balek itu.

Dari arah Bireuen, masjid tersebut berada di sebelah kiri jalan. Tak hanya rombongan kami, saya melihat banyak juga pengendara yang singgah di masjid itu. Selain untuk melaksanakan shalat fardu Zuhur, persinggahan pengendara- pengendara itu tentunya juga sebagai momen untuk melepaskan kepenatan selama berkendara. Kelebihan Masjid Al-Muttaqin itu tak hanya dari segi kebersihannya saja, tapi penyediaan air hangat di bak wudu juga menjadikan masjid ini kerap disinggahi pengendara.

Ya, meski siang hari, tapi suasana di Simpang Balek itu terasa dingin. Dengan pasokan air wudu yang hangat, tentu menjadikan suhu tubuh pengendara semakin fresh untuk lebih siap melanjutkan perjalanan. Usai shalat, perjalanan pun dimulai. Dari Simpang Balek menuju Takengon kami tempuh selama hampir dua jam. Saya sangat menikmati perjalanan itu. Melewati jalan berkelok-kelok, pengunungan yang berdiri kokoh, megah seakan menantang siapa pun yang ingin menandinginya.

Pohon-pohon besar tak bertuan serta kehijauan dedaunan itu membuat perjalanan semakin mengasyikkan. Konon lagi musik-musik bergenre pop ala Tommy J. Pisa serta joke-joke hangat dari teman- teman menambahkan kesyahduan siang menjelang sore itu. Canda-candaan itu tentunya kami maksudkan agar suasana perjalanan semakin menggairahkan.

Selain itu, tertawa-tertawa seperti itulah yang membuat sang sopir lebih fresh. Dengan guyonan dan candaan itulah membuat mereka tidak mudah mengantuk selama perjalanan. Dan ini menjadi masukan bagi para pembaca sekalian. Jika Anda melakukan perjalanan yang sangat melelahkan, apalagi di malam hari, ajaklah sopir Anda untuk berbicara atau ketawa-ketiwi. Karena hal tersebut bisa membuat ia semakin bersemangat dalam mengemudi, sehingga hal-hal yang tak diinginkan pun tak akan terjadi. Insyaallah.

Sesampai di Takengon, kami disambut oleh suara azan yang menggema. Pertanda waktu shalat Asar pun tiba. Berada di ‘Kota Dingin’ itu, rasa-rasanya tak lengkap jika tidak menikmati keindahan senjanya, khususnya di seputaran Danau Lut Tawar.

Tak pikir panjang, perjalanan pun kami teruskan. Tujuannya menikmati senja dengan mengelilingi danau tersebut. Meski tak seluas Danau Toba, tapi Lut Tawar itu juga sama-sama menawarkan alam yang begitu memesona. Selain banyaknya tempat wisata, di sepanjang jalan danau yang luas areanya kira-kira 5.472 hektare (Wikipedia) itu juga saya temukan perumahan warga. Bahkan ada satu kompleks perumahan di seputaran danau itu yang bercat warnawarni.

Tepatnya di sebuah dusun di Kampung Rawe, Kecamatan Lut Tawar. Saya senang menikmati keunikan warna pelangi itu. Kenikmatan semilir angin senja semakin saya rasakan saat rombongan kami singgah di sebuah tempat wisata. Warga setempat akrab menyebutnya ‘Pantai Meunye’. Kata ‘Meunye’ merupakan kosakata dalam Bahasa Gayo yang berarti ‘manja’.

Sesuai namanya, tempat wisata itu memang cocok sebagai tempat bermanja ria di waktu senja. Hanya merogoh 2.000 rupiah per orang, kami bisa langsung menikmati keindahan lokasi pantai itu. Mengabadikan keindahan dengan berpotret atau berswafoto adalah momen yang tak bisa dilewatkan begitu saja. Seusai bermanja ria di Pantai Manja, kami melanjutkan sisa-sisa perjalanan mengelilingi danau. Sesampai di sebuah perumahan warga, perjalanan kami hentikan, tepatnya di Desa Genuren, Kecamatan Bintang.

Tujuannya untuk membeli tanaman berupa ubi rambat. Terlihat tiga orang tua sedang duduk-duduk santai di depan sebuah rumah. Dua orang teman saya menghampiri serta mengutarakan keinginannya itu. Setelah mengobrol, salah seorang penduduk itu mengajak mereka ke lokasi tempat penanaman ubi dimaksud.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved