Minggu, 19 April 2026

Internasional

80 Persen Warga Palestina Inginkan Presiden Mahmoud Abbas Mundur

Sebanyak 80 persen warga Palestina ternyata menginginkan Presiden Mahmoud Abbas mundur. Hal itu ditemukan berdasarkan sebuah jajak pendapat yang

Editor: M Nur Pakar
AP
Presiden Palestina Mahmoud Abbas 

SERAMBINEWS.COM, JERUSALEM - Sebanyak 80 persen warga Palestina ternyata menginginkan Presiden Mahmoud Abbas mundur.

Hal itu ditemukan berdasarkan sebuah jajak pendapat yang mencerminkan kemarahan yang meluas atas kematian seorang aktivis dalam tahanan pasukan keamanan,

Termasuk tindakan keras terhadap protes selama musim panas, seperti dilansir AP, Selasa (21/9/2021).

Survei yang dirilis Selasa (21/9/2021) menemukan dukungan untuk Hamas tetap tinggi beberapa bulan setelah perang Gaza 11 hari pada Mei 2021.

Dimana pejuang Hamas dilihat oleh orang-orang Palestina telah mencetak kemenangan melawan Israel jauh lebih kuat yang didukung Barat.

Jajak pendapat terbaru oleh Pusat Penelitian Kebijakan dan Survei Palestina menemukan 45% orang Palestina percaya Hamas harus memimpin dan mewakili mereka.

Baca juga: Liga Arab Desak Israel Bertanggung jawab Atas Kondisi Para Tahanan Palestina

Tetapi, hanya 19% yang mengatakan bahwa Fatah sekuler Abbas layak mendapatkan peran itu.

Dimana menunjukkan hanya sedikit perubahan yang mendukung Fatah daripada kepemimpinannya dalam tiga bulan terakhir ini.

“Ini adalah jajak pendapat terburuk yang pernah kami lihat untuk presiden,” kata Khalil Shikaki, kepala pusat jajak pendapat.

Dimana telah mensurvei opini publik Palestina selama lebih dari dua dekade.

“Dia tidak pernah berada dalam posisi seburuk ini," jelasnya.

Terlepas dari popularitasnya yang menurun, masyarakat internasional masih memandang Abbas sebagai pemimpin perjuangan Palestina.

Termasuk sebagai mitra penting dalam proses perdamaian dengan Israel, yang terhenti lebih dari satu dekade lalu. .

Otoritas Palestina (PA) mengelola bagian-bagian Tepi Barat yang diduduki di bawah perjanjian sementara yang ditandatangani dengan Israel pada 1990-

an. Hamas mengusir pasukan Abbas dari Jalur Gaza ketika merebut kekuasaan di sana pada 2007, setahun setelah memenangkan pemilihan parlemen.

Kesengsaraan terbaru Abbas dimulai pada April 2021, ketika dia membatalkan pemilihan umum pertama dalam 15 tahun.

Karena Fatah tampaknya menuju kekalahan memalukan lainnya.

Baca juga: Tidak Ada Bentrokan, Tentara Israel Tembak Seorang Pria Palestina, Usai Pulang Kerja dari Israel

Popularitas Hamas melonjak pada bulan berikutnya di tengah protes di Jerusalem dan perang Gaza.

Karena banyak warga Palestina menuduh PA tidak melakukan apapun untuk membantu perjuangan mereka melawan pendudukan Israel.

Kematian Nizar Banat, kritikus keras PA yang meninggal setelah dipukuli pasukan keamanan Palestina pada Juni 2021 langsung memicu protes di Tepi Barat.

Pasukan keamanan melancarkan tindakan keras sebagai tanggapan dan penangkapan beberapa demonstran.

Jajak pendapat menemukan 78% orang Palestina ingin Abbas mengundurkan diri dan hanya 19% yang berpikir dia harus tetap menjabat.

Ditemukan 63% orang Palestina berpikir Banat dibunuh atas perintah pemimpin politik atau keamanan PA, dengan hanya 22% percaya itu adalah kesalahan.

PA baru-baru ini mengumumkan 14 pejabat keamanan yang ambil bagian dalam penangkapan itu akan diadili.

Sebanyak 96 persen dari mereka yang disurvei merasa itu adalah respons yang tidak memadai.

Baca juga: Qatar Lanjutkan Bantuan untuk Pegawai dan Warga Miskin di Jalur Gaza

Sebanyak 63 persen warga Palestina mendukung demonstrasi yang pecah setelah kematian Banat.

Sebanyak 74% percaya penangkapan demonstran oleh PA merupakan pelanggaran terhadap kebebasan dan hak-hak sipil, menurut jajak pendapat tersebut.

PCPSR mengatakan telah mensurvei 1.270 warga Palestina secara tatap muka di Tepi Barat dan Gaza, dengan margin kesalahan tiga persen.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved