Rabu, 22 April 2026

Internasional

Harga Makanan Meroket di Afghanistan, Orang Tua Berjuang Beri Makan Anak-anak

Ratapan paling umum di Kabul, Afghanistan dalam seminggu terakhir ini tentang harga makanan yang meroket. Ditambah keputusasaan orang tua yang

Editor: M Nur Pakar
AFP/Hoshang Hashimi
Sejumlah wanita berjalan di area pasar yang tampak sepi pembeli di Kabul, Afghanistan, Rabu (1/9/2021) 

SERAMBINEWS.COM, KABUL - Ratapan paling umum di Kabul, Afghanistan dalam seminggu terakhir ini tentang harga makanan yang meroket.

Ditambah keputusasaan orang tua yang berjuang memberi makan anak-anak mereka.

Serta jutaan orang berjuang memberi makan keluarga mereka.

Ancaman terhadap kebebasan pribadi, pendidikan anak perempuan dan hak perempuan untuk bekerja telah dikecam di seluruh dunia.

Tetapi prospek untuk tidur dalam keadaan lapar memiliki urgensi tersendiri, seperti dilansir BBC, Se;lasa (21/9/2021).

Negara-negara yang ingin membantu warga Afghanistan tetap menolak Taliban dan semua yang diperjuangkannya menghadapi dilema besar.

Baca juga: Diplomat Afghanistan di Luar Negeri Mencaci Sekutu, Serukan Dunia Tolak Akui Taliban

Agar orang dapat bekerja untuk mendapatkan uang, sehingga dapat hidup dan makan.

Tetapi di AS, Inggris, dan negara-negara lain yang memerangi Taliban akan merasa sulit untuk menerima apa pun yang tampaknya berhasil bagi musuh lama mereka.

Alternatifnya mungkin lebih buruk, prospek lebih banyak kesengsaraan bagi rakyat.

Lebih banyak pengungsi, lebih banyak anak-anak kurang gizi.

Bahkan, risiko Afghanistan sekali lagi akan menjadi negara gagal dan tanah bagi para ekstremis jihad.

Sebuah komunitas yang tinggi di atas kota membawa bekas luka perang selama 40 tahun.

Begitu juga dengan keluarga yang tinggal di sini, perang menandai semua cerita mereka.

Baca juga: Negara Teluk dan Uzbekistan Salurkan Bantuan ke Afghanistan, Taruhan Tinggi di Tangan Taliban

Salah satu keluarga yang memiliki rumah hampir kosong, karena barang-barangnya dijual di pasar barang bekas untuk mengumpulkan uang agar dapat pergi ke Pakistan.

Sang ibu, satu-satunya pencari nafkah, mengajar mahasiswa teknik elektro.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved