Breaking News:

Kesehatan

Keluarga Dapat Berperan dalam Penapisan Balita Gizi Buruk

LiLA Keluarga adalah pendekatan penapisan berbasis masyarakat dengan memberdayakan ibu, pengasuh dan anggota keluarga lain...

Editor: hasyim
SERAMBIFM/ILHAM
Azhari (Nutrisionis Dinkes Aceh), dr Aslinar (Ketua Aceh Peduli Asi) menjadi narasumber Talkshow bersama Yayasan Darah untuk Aceh partner UNICEF, dengan tema "Gerakan Keluarga Mengukur Pita LiLA Balita Aceh Sayang Anak (Gempita ASA)", di Radio Serambi FM 90.2, Senin (20/9/2021). Talkshow dipandu host Iska Novita. 

BANDA ACEH - Cara penapisan balita berisiko atau balita gizi buruk di tingkat masyarakat yang paling mudah dilakukan dan sederhana adalah dengan pengukuran lingkar lengan atas (LiLA). Pengukuran LiLA merupakan pemeriksaan antropometri untuk penemuan dini kasus dan rujukan balita gizi buruk untuk mendapatkan terapi.

Ketua Aceh Peduli ASI, dr Aslinar Sp.A, M.Biomed, mengatakan, ada dua penyebab terjadi gizi buruk pada anak, yaitu penyebab langsung dan tidak langsung. Penyebab langsung datang dari asupan makanan yang tidak memadai dan juga penyakit.

“Makanan yang tidak memadai itu bisa dimulai sejak bayi lahir beresiko sekali gizi buruk kalau tidak mendapatkan ASI eksklusif. Selanjutnya makanan pendamping ASI atau MPASI yang tidak sesuai dan tidak memenuhi semua zat gizi,” kata dr Aslinar saat menjadi narasumber dalam talkshow bertema “Gerakan Keluarga Mengukur Pita LiLA Balita Aceh Sayang Anak (Gempita ASA)”, yang disiarkan langsung melalui di Facebook Serambinews.com dan Radio Serambi FM, Senin (20/9/2021).

Baca juga: Sekda Bener Meriah Luncurkan Program ‘Halamanku Lahan Giziku’

Baca juga: Tingkatkan Gizi di Masa Pandemi Covid-19, Aceh Tamiang Kampanyekan Gemar Makan Ikan

Talkshow yang dipandu Host, Iska Novita ini juga menghadirkan narasumber lainnya Nutrisionis Dinas Kesehatan (Dinkes) Aceh, Azhari SKM MKes dan terselenggara atas kerjasama Yayasan Darah untuk Aceh, Dinkes Aceh, Aceh Peduli Asi, Unicef dan Serambi FM.

Dokter Aslinar melanjutkan, penyebab langsung lainnya adalah penyakit. Apabila bayi atau anak yang sering demam berulang, diare berulang maka itu bisa beresiko mengalami gizi buruk.

Atau anak yang tidak mendapatkan imunisasi secara lengkap itu juga beresiko dalam arti mudah sekalu terserang penyakit, karena tidak ada kekebalan terhadap penyakit menular. “Atau kondisi bayi atau balita yang tidak tertangani dengan cepat karena akses ke layanan kesehatan yang susah,” sebutnya.

Sementara penyebab tidak langsung, dikatakan dr Aslinar yaitu ketersediaan pangan yang tidak cukup yang berkenaan dengan sosial ekonomi masyarakat sehingga makanannya tidak memenuhi zat gizi.

Dalam hal ini, selama ini di Indonesia pengukuran LiLA dilakukan kader terlatih di Posyandu dan atau Tenaga Kesehatan. Namun, sudah banyak bukti-bukti bahwa keluarga dapat berperan aktif dalam penapisan balita berisiko atau balita gizi buruk dengan melakukan pengukuran LiLA secara mandiri.

Dalam konteks pandemi Covid-19 dimana lebih banyak keluarga beraktifitas di rumah, layanan Posyandu belum berjalan secara optimal dan juga untuk mengurangi risiko transmisi virus Corona karena pemakaian pita LiLA secara bergantian, maka pengukuran LiLA mandiri oleh keluarga merupakan salah satu terobosan.

Ia menjelaskan, LiLA Keluarga adalah pendekatan penapisan berbasis masyarakat dengan memberdayakan ibu, pengasuh dan anggota keluarga lain untuk melakukan penapisan balita gizi buruk secara mandiri dirumah dengan menggunakan pita LiLA balita berwarna (merah, kuning dan hijau). Pita LiLA berwarna ini dapat digunakan oleh anggota masyarakat dengan tingkat literasi rendah.

Baca juga: Gubernur Aceh Sambut Baik Lanjutan Program Kerja Sama Indonesia dan UNICEF

Dikatakan, LiLA Keluarga menempatkan keluarga sebagai aktor utama dalam strategi penapisan gizi buruk karena keluarga dapat mendeteksi tanda-tanda masalah gizi sedini mungkin.

Penapisan rutin juga membantu deteksi dini gizi buruk dan bila ditindaklanjuti dengan tepat, termasuk tepat waktu, akan mengurangi angka kematian dan kesakitan terkait gizi buruk.

Nutrisionis Dinkes Aceh, Azhari menambahkan tanda anak mengalami gizi buruk adalah bisa dilihat dari postur tubuhnya, kurus, anak-anak yang sangat kurus. Ketika dilepas bajunya terlihat tulang rusuknya.

“Disamping itu, anak gizi buruk memiliki perilaku yang rewel karena tidak nyaman dan gampang sakit. Bagi anak-anak yang mengalami gizi buruk, itu gampang sekali terkena penyakit infeksi,” sebut Azhari.

Disamping itu, dikatakannya, anak yang mengalami gizi buruk juga bisa dilihat dari kulitnya yang kering, mata cekung, rewel, rambutnya tipis seperti rambut jagung, artinya halus dan gampang sekali tercabut.(una)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved