Breaking News:

Penjual Kulit Harimau Terancam 5 Tahun Bui

Warga Aceh Tenggara (Agara), tersangka penjual tiga lembar kulit harimau, AS (48), terancam hukuman lima tahun penjara

Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
Tersangka AS menunjukan barang bukti kulit harimau yang diperjual-belikannya. AS (48) tersangka penjual tiga lembar kulit harimau segera disidang setelah berita acara pemeriksaan (BAP) yang dilimpahkan Balai Gakkum KLHK Wilayah Sumatera dinyatakan lengkap oleh Kejati Aceh. 

KUALASIMPANG - Warga Aceh Tenggara (Agara), tersangka penjual tiga lembar kulit harimau, AS (48), terancam hukuman lima tahun penjara karena memperjualbelikan kulit harimau.

Perkara dengan barang bukti tiga lembar kulit Harimau Sumatra itu akan segera disidangkan setelah Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang dilimpahkan Balai Penegakkan Hukum (Gakkum) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Wilayah Sumatera dinyatakan lengkap oleh Kejaksaan Tinggi (Kejati) Aceh.

"Ancaman pidana penjara maksimal 5 tahun dan denda maksimal Rp 100 juta," kata Kepala Biro Hubungan Masyarakat KLHK, Nunu Anugrah, dalam siaran persnya yang diterima di Jakarta, Rabu (22/9/2021).

Kepala Gakkum KLHK Wilayah Sumatera, Subhan, yang dihubungi Serambi, menjelaskan, BAP kasus tersebut telah dinyatakan lengkap pada 20 September. Subhan menambahkan, Balai Gakkum KLHK Wilayah Sumatera akan berkoordinasi dengan Kejaksaan Tinggi Aceh untuk menyerahkan tersangka dan barang bukti agar bisa segera dilimpahkan ke pengadilan.

"Kejati Aceh menyatakan berkas perkara sudah lengkap, sehingga tahapan berikutnya agenda persidangan," kata Subhan melalui saluran telepon.

Subhan menjelaskan AS yang merupakan penduduk Lawe Alas, Aceh Tenggara ditangkap oleh tim Balai Gakkum KLHK Wilayah Sumatera saat berada di Jalan Burung, Deleneg Pokhisen, Aceh Tenggara, pada 13 Agustus 2021. Dalam penangkapan itu petugas menyita barang bukti tiga lembar kulit harimau sumatera, tulang, dan sembilan kilogram sisik trenggiling.

Perbuatan tersangka dinyatakan melanggar Pasal 21 Ayat 2 Huruf d Jo Pasal 40 Ayat 2 Undang-Undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan ancaman pidana penjara maksimal lima tahun dan denda maksimal Rp 100 juta.

Penangkapan AS bermula dari informasi masyarakat tentang adanya transaksi penjualan bagian-bagian satwa dilindungi di Aceh Tenggara. Selanjutnya Balai Gakkum KLHK Wilayah Sumatera membentuk tim untuk mengumpulkan informasi, baru kemudian menjalankan Operasi Peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar. Tim menangkap AS saat bagian-bagian satwa dilindungi itu akan dijualnya.

"Penyidik Balai Gakkum KLHK masih akan terus mendalami kemungkinan keterlibatan pihak lain dalam kasus ini," tutup Subhan.

Sekira 4 ekor Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus) di kawasan wisata Bur Telege, Kampung Hakim Balee Bujang, Kecamatan Lut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah, dilepasliar pada Minggu (19/9/2021). Pelepasliaran dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh.

“Pemilihan kawasan wisata Bur Telege yang terletak di dataran tinggi Gayo dikarenakan kawasan tersebut merupakan habitat yang sesuai bagi elang brontok dari sisi ketersediaan pakan dan keamanan,” kata Kepala BKSDA Aceh Agus Arianto dalam keterangannya.

Burung Elang ini merupakan satwa hasil serahan pada bulan Maret tahun 2021. Keempatnya dititip rawatkan dan direhabilitasi di Lembaga Konservasi Taman Rusa di bawah pengawasan dokter hewan BKSDA Aceh selama kurang lebih 6 bulan. Sebelum dilepasliarkan ke empat ekor elang tersebut telah melalui prosedur pengecekan kesehatan serta telah menjalani proses habituasi di lokasi pelepasliaran.

Elang brontok (Nisaetus cirrhatus) merupakan salah satu jenis satwa liar dilindungi di Indonesia berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar yang Dilindungi.

Keempat ekor elang tersebut telah dinyatakan sehat dan layak perilaku satwa untuk dilepasliarkan. Kegiatan pelepasliaran berjalan lancar dan sesuai dengan tahapan kegiatan yang telah direncanakan dengan memperhatikan protokol kesehatan di masa pandemi dan memenuhi animal welfare. (mad/*/tribunnews.com)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved