Rabu, 22 April 2026

Internasional

Perundingan India dan China Gagal, Bahas Ketegangan di Perbatasan Ladakh

Perundingan antara komandan tentara India dan China untuk melepaskan pasukan di sepanjang perbatasan berakhir dengan jalan buntu.

Editor: M Nur Pakar
AP/ Dar Yasin/File
Sebuah konvoi tentara India bergerak di jalan raya Srinagar-Ladakh di Gagangeer, timur laut Srinagar, Kashmir yang dikuasai India pada 9 September 2020. 

SERAMBINEWS.COM, NEW DELHI - Perundingan antara komandan tentara India dan China untuk melepaskan pasukan di sepanjang perbatasan berakhir dengan jalan buntu.

Sehingga, gagal meredakan kebuntuan selama 17 bulan yang kadang-kadang menyebabkan bentrokan mematikan, kedua belah pihak mengatakan Senin (11/10/2021).

Kebuntuan yang terus berlanjut akan mempertahankan pasukan di daerah depan Ladakh untuk musim dingin kedua berturut-turut di bawah suhu beku yang berbahaya.

Kementerian Pertahanan India mengatakan memberikan saran konstruktif, tetapi China tidak setuju dan tidak dapat memberikan proposal berwawasan ke depan.

Juru bicara militer China mengatakan pihak India berpegang pada tuntutan yang tidak masuk akal, seperti dilansir AP, Senin (11/10/2021).

China juga menuduh India tidak realistis, sehingga menambah kesulitan dalam negosiasi.

Para komandan dari kedua tentara bertemu untuk pembicaraan hari Minggu (10/10/2021), setelah jeda dua bulan di Moldo, wilayah China di daerah Ladakh.

Sejak Februari 2021, baik India dan China telah menarik pasukan dari beberapa lokasi berhadapan di tepi utara dan selatan Pangong Tso, Gogra, dan Lembah Galwan.

Baca juga: Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok Tersesat di Ladakh, Tentara India Langsung Tangkap

Tetapi mereka terus mempertahankan pasukan tambahan sebagai bagian dari pengerahan multi-tingkat.

Pasukan telah ditambahkan di Dataran Demchok dan Depsang, kata laporan media India.

Pembicaraan itu terjadi di tengah rasa frustrasi yang diungkapkan oleh panglima militer India.

Dia menyebutkan ada pengerahan besar-besaran pasukan dan persenjataan oleh pihak China.

“Ya, ini adalah masalah yang mengkhawatirkan, pembangunan skala besar telah terjadi dan terus berlangsung," kata Jenderal. MM Naravane pada Sabtu (9/10/2021).

"Untuk mempertahankan pembangunan semacam itu, telah ada pembangunan infrastruktur dalam jumlah yang sama di pihak Tiongkok,” tambahnya.

“Jadi, itu berarti mereka ada di sana untuk tinggal," jelasnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved