Naik Motor 73 Hari, Pasutri Asal Aceh Tiba di Merauke
Pasangan suami istri (Pasutri) asal Aceh, Dr Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad dan Fitri Zulfidar akhirnya tiba di Merauke, Papua
BANDA ACEH - Pasangan suami istri (Pasutri) asal Aceh, Dr Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad dan Fitri Zulfidar akhirnya tiba di Merauke, Papua, ujung paling timur Indonesia. Pasangan ini memulai perjalanan dari Aceh pada 28 Juli 2021 lalu dengan menggunakan sepeda motor.
“Alhamdulillah, kami sudah tiba di ujung ya," demikian pesan singkat melalui WhatsApp yang dikirimkan Dr Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad alias KBA kepada Serambi tanggal 10 Oktober 2021, pukul 16.55 WIB. Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh ini mengirim WA tersebut dari Merauke.
Kamaruzzaman mengabarkan bahwa ia dan istri, Fitri Zulfidar, tiba di Merauke pukul 14.00 WIT atau pukul 12.00 WIB. Sebagai pembuktian, KBA mengirim beberapa fotonya bersama sang istri di Tugu Nol Kilometer Merauke-Sabang.
Di depan tugu itu pula ‘pasangan tangguh’ ini membentangkan flyer (poster kecil) yang mereka bawa dari Aceh, bertuliskan ‘Touring Indonesia Harmoni’. Logo beberapa sponsor touring terlihat di pamflet mini tersebut.
Touring dalam rangka memperkenalkan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) di sepanjang jalan yang mereka singgahi itu memakan waktu 73 hari. KBA adalah Ketua FKPT Aceh. Ia merasa perlu memperkenalkan di tempat-tempat yang disinggahinya apa itu FKPT.
KBA beruntung karena punya istri yang punya hobi traveling ikut dalam misi tersebut. Berdua saja mereka 73 hari lalu meninggalkan rumahnya di Banda Aceh menuju Merauke. Perjalanan superpanjang itu seluruhnya ditempuh berboncengan naik sepeda motor (sepmor) merek Kawasaki Versys X 250 CC. Total perjalanan yang dilalui pasangan ini lebih dari 10.000 km.
"Saat berangkat dari Banda Aceh kami mulai di angka 29.480 km. Saat tiba di Merauke di speedometer tertera angka 39.618 km," sebut putra Krueng Mane, Aceh Utara ini.
Belum pernah ada pasutri dari Aceh yang tiba di Merauke dengan mengendarai sepeda motor, kecuali KBA dan belahan jiwanya, Fitri. Selama perjalanan, sepmor yang mereka kendarai harus empat kali diservis. Tapi hebatnya, ban sepmor tersebut bertahan hingga ke Merauke, tanpa perlu diganti dengan yang baru.
Perjalanan superjauh ini tidak selamanya mulus dan nyaman. Kendala, meski kecil, tetap saja ada. "Di Padang, lahar kendaraan kami patah dan harus diganti," kata KBA menceritakan salah satu kendala perjalanannya.
Ia juga menyebutkan sejumlah lintasan yang paling menantang. Yakni, jalur Kalimantan, meliputi Berau, Kelay, dan Wahau. "Jalur di Sulawesi juga ada yang ekstrem. Misalnya, Bahodopi, Marosi, Kebun Kopi, Morowali, dan jalur-jalur pegunungan di Erenkang- Toraja-Palopo," rinci KBA.
Jauh menjelajah, ia kini jadi hafal titik-titik penyeberangan saat sepmornya harus naik feri (kapal penyeberangan) antarpulau. Pertama, menyeberang dari Bakaheuni-Merak, lalu Semarang-Kumai, lanjut Sungai Ular-Nunukan, dan Nunukan-Pare Pare. Berikutnya 'nyebrang' dari Bitung ke Ternate; Ternate ke Sidonggali; terakhir Weda ke Sorong, Papua.
Sesampainya di Tanah Papua ada tiga kebahagiaan KBA dan sang istri. Pertama, kebahagiaan saat tiba dan berfoto dalam berbagai pose di Tugu Kilometer Nol Merauke-Sabang. Kedua, ternyata baru mereka pasutri dari Aceh yang melawat sampai ke Merauke dengan naik sepeda motor. Ketiga, di Papua, KBA dan istri jumpa dengan kontingen PON XX dari Aceh.
"Kami sempat bikin video dengan kontingen PON dari Aceh di Papua. Kami bikin yel-yel dan doakan kontingen Aceh berjaya," ungkap KBA.
Lalu, apa hikmah dan kesimpulan yang bisa diambil dari perjalanan panjang ini? Ini jawaban KBA: Indonesia ini sangat luas. Setiap kami melewati daerah, kami selalu berjumpa dengan orang baik dari berbagai suku dan agama yang ada di tanah air.
Apa ada yang perlu diprihatini? "Ya, prihatin juga dengan kondisi alam Nusantara yang sudah dikeruk. Sekarang banyak musibah atau banjir, karena ulah sebagian kalangan yang menjalankan perusahaan, tapi aktivitasnya ikut merusak alam sekitar," jawab KBA.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/dr-kamaruzzaman-bustamam-ahmad-bersama-istrinya.jpg)