Jumat, 24 April 2026

Internasional

Lebanon Naikkan Harga Bahan Bakar, Disesuaikan dengan Harga Pasar Gelap

Pemerintah Lebanon, Rabu (20/10/2021) menaikkan harga bahan bakar 25%. Lebanon juga menghapus semua subsidi pada produk bahan bakar dan menetapkan ha

Editor: M Nur Pakar
AP Photo/Hussein Malla/File
Seorang pekerja pompa bensin mencoba menetapkan harga bensin baru setelah kenaikan harga bahan bakar di salah satu SPBU Beirut, Lebanon pada 22 September 2021. 

SERAMbINEWS.COM, BEIRUT - Pemerintah Lebanon, Rabu (20/10/2021) menaikkan harga bahan bakar 25%.

Lebanon juga menghapus semua subsidi pada produk bahan bakar dan menetapkan harga sesuai harga pasar di tengah krisis ekonomi yang memburuk.

Kenaikan baru membawa harga 20 liter bensin beroktan 98 menjadi 312.700 pound Lebanon atau hampir setengah dari upah minimum bulanan.

Dilansir AFP, lonjakan itu mempengaruhi gas memasak dan bahan bakar diesel yang digunakan untuk pemanasan, menandakan musim dingin di depan.

"Secara efektif, subsidi telah dihapus dari bahan bakar secara final," kata Georges Brax, juru bicara Pemilik SPBU di Lebanon.

Dia mengatakan harga baru dihitung pada tingkat pasar gelap.

“Tidak ada lagi subsidi dari bank sentral atau kas negara,” katanya.

Baca juga: Tentara Lebanon Pasok Bahan Bakar ke Perusahaan Listrik, Pemadaman Satu Pekan Berakhir

Dia menambahkan harga bahan bakar dunia juga telah meningkat, berdampak pada penetapan harga di Lebanon.

Kenaikan itu memicu protes terbatas di Beirut, Lebanon selatan dan utara dan seruan untuk kenaikan upah minimum.

Kondisi kehidupan terus memburuk di Lebanon semakin terjerumus ke dalam krisis ekonomi yang telah mendorong lebih dari setengah penduduknya jatuh miskin.

Rencana pemerintah untuk jaring pengaman sosial belum terwujud di negara yang sekarang bergantung pada bantuan keuangan internasional.

Lebanon, negara berpenduduk 6 juta orang termasuk pengungsi Suriah, bergulat dengan kekurangan bahan bakar, obat-obatan, dan barang-barang pokok.

Hal itu akibat cadangan devisa menyusut dan ekonomi menyusut dan mata uang nasional jatuh bebas, turun sampai 90%.

Pemerintah baru mulai menjabat bulan lalu setelah hampir satu tahun kebuntuan politik yang hanya memperburuk krisis ekonomi.

Bank Dunia menggambarkannya sebagai salah satu yang terburuk di dunia dalam 150 tahun terakhir.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved