Breaking News:

Jurnalisme Warga

Segarnya ‘Lincah U Grouh’ Apaloet

SAAT menempuh perjalanan dari BandaAceh, saya menyempatkan diri singgah di sebuah pondok rujak (lincah) yang terletak di pingiran Jalan Banda Aceh

Editor: bakri
Segarnya ‘Lincah U Grouh’ Apaloet
FOR SERAMBINEWS.COM
ZULKIFLI, Dosen Universitas Almuslim, Matangglumpang Dua, dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Beureunuen, Pidie

OLEH ZULKIFLI, Dosen Universitas Almuslim, Matangglumpang Dua, dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Beureunuen, Pidie

SAAT menempuh perjalanan dari BandaAceh, saya menyempatkan diri singgah di sebuah pondok rujak (lincah) yang terletak di pingiran Jalan Banda Aceh- Medan, tepatnya di Km 124,5. Lokasi pondok ini bersisian langsung dengan jembatan desa Gampong Lada, Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie. Tujuan saya mampir adalah untuk membuktikan cerita beberapa teman tentang segarnya minuman ‘lincah u grouh’ (rujak berbahan batok kelapa muda) yang tersedia di pondok rujak tersebut. Tempat usaha ‘lincah u grouh’ ini berukuran lebih kurang 4x6 meter, bernama Rujak Apaloet.

Nama tersebut diambil dari nama sang pemilik, yaitu Saidinur (54), populer disapa Apaloet. Menurut Saidinur, ia mulai menekuni usaha rujak sebelum konflik Aceh, meneruskan warisan usaha almarhum orang tuanya. Sedangkan menu ‘lincah u grouh’ plus air kelapa, baru satu tahun terakhir tersedia di tempat usahanya.

‘Lincah u grouh’ merupakan salah satu kuliner masyarakat Aceh yang dulu sering dikonsumsi oleh anak muda, khususnya yang berada di pedesaan, baik saat bermain, maupun saat berkumpul bersama teman sebayanya, atau saat gotong royong. ‘U groh’ sendiri dalam bahasa Aceh berarti batok kelapa yang masih muda, belum berdaging. Warnanya putih seperti gel, dagingnya belum merata, juga belum begitu keras. Kalau dikunyah, masih terasa lembek.

Selama ini kita tahu yang namanya lincah merupakan camilan berbahan dasar aneka buah, kemudian diaduk dengan bumbu yang sudah diracik dari manisan (gula merah) dan dicampur sedikitt kacang yang sudang digongseng. ‘Lincah u grouh’ yang dijual Apaloet berbeda dengan ‘lincah u groeh’ yang ada di daerah Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar. Perbedaannya, mulai dari bahan baku, teknik pengolahan, maupun cita rasanya. Kalau ‘lincah u groh’ di Indrapuri, dibuat dari batok kelapa muda, dikerok, dan diiris kecil-kecil seukuran jari tangan. Kemudian, irisan batok kelapa tersebut dibersihkan, diberi sedikit perasan air jeruk nipis, lalu dicampurkan dengan bumbu rujak Aceh. Jadi, rujaknya berbentuk padat, bukan cair.

Di situlah bedanya dengan ‘lincah u grouh’ racikan Apaloet. ‘Lincah u grouh’ Apaloet, berbentuk cair. Jadi, kalau kita konsumsi, seperti meminum air kelapa biasa, cuma sudah diolah dengan beberapa ramuan dan bumbu. Menurut Apaloet, bahan dasar ‘lincah u grouh’ hasil racikannya itu, berupa air kelapa (u grouh), jeruk nipis, asam kana, sunti, cabai rawit, belimbing, gula, daun jeruk nipis, dan sedikit air putih.

Bahan baku berupa kelapa dikerok tipis-tipis, cabai rawit dan asam sunti digiling, dan jeruk nipis diperas. Takarannya disesuaikan dengan banyaknya air kelapa, sedangkan daun jeruk nipis diiris-iris. Semua bahan disatukan dalam satu tempat, kemudian diaduk sampai merata. “Setelah semua bahan tersebut berpadu maka akan menghasilkan aroma air kelapa segar dengan rasa asam, manis, sedikit pedas, sehingga membuat air liur orang yang menunggu kapan ‘lincah u grouh’ dihidangkan, meleleh,” ujar Apaloet sambil tertawa.

Kalau mau menikmati ‘lincah’ yang dingin, bisa ditambah dengan es batu yang dibuat dari air kelapa juga. Menurut Apaloet, pihaknya tidak memakai es batu biasa atau es kristal. “Es batunya kita buat sendiri dengan bahan bakunya dari air kelapa juga. Karena kalau es batu biasa, lamalama minuman ‘u grouh’- nya bisa terasa tawar,” jelas Apaloet. Kalaupun air kelapa yang sudah dibekukan itu disimpan dalam kulkas, menurut Apaloet, bisa tahan satu minggu, masih terasa enak, segar, dan tidak masam.

Apaloet bertutur, ilmu untuk meracik ‘lincah u grouh’ itu dia peroleh secara turun- temurun dari almarhum ayahnya. “Namun, orang tua saya saat itu tidak berjualan ‘lincah u grouh’, hanya berjualan rujak Aceh biasa. Sedangkan minuman ‘u grouh’ hanya untuk konsumsi pribadi keluarga kami,” jelas Apaloet. Awalnya, lanjut Apaloet, dirinya hanya berjualan rujak Aceh biasa. Namun, karena banyak pelanggan yang menanyakan dan memintanya menyediakan ‘lincah u grouh’, akhirnya Apaloet berinovasi untuk meracik ‘lincah u grouh’ dan ternyata mendapat sambutan baik dari pelanggan.

Selain warisan ilmu dari orang tua, Apaloet juga memanfaatkan sedikit pengalamannya waktu masih remaja. Ia, pernah merasakan nikmatnya rasa ‘lincah u grouh’ saat bermain layangan bersama teman di sawah. “Lalu, saya coba meracik dalam jumlah terbatas,” ujar Apaloet sambil bernostalgia ke masa mudanya. Alhamdulillah, hasilnya bisa diterima pelanggan, sehingga sekarang rujak ‘lincah u grouh’ telah menjadi menu khas dan andalan penjualan di pondok rujak Apaloet.

“Tentunya ini sekaligus sebagai upaya melestarikan kuliner Aceh yang sudah mulai hilang,” jelas Apaloet. Dalam menjalankan usaha, Apaloet dibantu istri dan beberapa anaknya. Tempat usahanya buka Senin sampai Sabtu, dimulai pukul 11.00 hingga 18.00 WIB. Dengan hasil usaha penjualan ‘lincah u grouh’ inilah, kata Apaloet, ia menghidupi keluarga, satu istri dan menyekolahkan lima anaknya.

Saat menjalankan usahanya, Apaloet sering kehabisan bahan baku, kelapa muda. “Kelapa muda harus saya pesan khusus dari agen di wilayah Bireuen dan Aceh Utara. Kalau bahan baku untuk ‘lincah u grouh’ habis, saya hanya berjualan rujak biasa,” ucap Apaloet. Menurutnya, dengan satu buah kelapa bisa dapat dua atau tiga gelas besar ‘lincah u grouh’. “Satu gelas saya jual dengan harga sangat murah, hanya 5.000 rupiah. Saya ambil untung sekadarnya saja,” urai Apaloet.

Pelanggan, kata Apaloet, tidak hanya menikmati ‘lincah’ di tempat jualannya saja. Banyak juga pelanggan yang menjadikan ‘lincah u grouh’ sebagai minuman dalam perjalanan dan dibawa pulang untuk dinikmati bersama keluarga di rumah. “Bahkan pada hari-hari tertentu, banyak dipesan oleh pegawai kantoran, puskesmas, dan rumah sakit,” ujar Apaloet.

Ketika ditanya apa khasiat ‘lincah u grouh’ buatannya, Apaloet menyatakan, tentang khasiat ia tidak bisa memberi satu kesimpulan pasti, apakah bisa menjadi penyembuh penyakit atau lainnya, karena belum ada penelitian secara ilmiah. Namun, ada pelanggan yang meyakini bahwa ‘lincah u grouh’ bisa berkhasiat obat untuk penyakit tertentu. “Yang jelas, setelah meminumnya badan terasa segar,” ungkap Apaloet sambil tertawa lebar.Jika Anda penasaran dan ingin menikmati ‘lincah u grouh’ dengan kombinasi rasa manis dan asam, silakan singgah di pondok rujak Apaloet.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved