Breaking News:

Suku Sasak tak Mengenal Lamaran, Mau Menikah Harus Culik Dulu

Menurut budaya dan keyakinan orang Sasak, tawar menawar hanya berlaku untuk barang dan hal itu tidak berlaku untuk manusia

Editor: bakri
SERAMBI/BUKHARI M ALI
Ini adalah rumah adat suku Sasak yang berada di Desa Sade Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, NTB. Usia rumah adat ini sudah ratusan tahun, atapnya dibuat dari jerami, dinding dari anyaman bambu, dan lantainya dari tanah liat bercampur kotoran kerbau. 

* Reportase dari Desa Sade, Lombok Tengah, NTB

Pepatah lama yang menyebutkan ‘lain lubuk lain ikan, lain ladang lain belalang’ ternyata benar adanya. Paling tidak kondisi itu yang dapat kita saksikan dari adat budaya kehidupan suku Sasak yang berada Desa Sade Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

ADA yang unik atau bahkan aneh terlihat dalam kehidupan suku ini. Salah satunya adalah saat menjelang pernikahan kawula mudanya.

Di banyak daerah di nusantara tercatat bahwa ada tradisi sebelum menikah si anak gadis terlebih dahulu dipinang atau dilamar oleh calon suaminya. Apabila sudah ada kesepakatan kedua belah pihak keluarga, maka selanjutnya akan dikuti oleh proses pernikahan, yang antara lain ditandai dengan upacara pesta adat.

Namun tradisi melamar ini tidak berlaku bagu suku Sasak. Alasannya karena di sana (melamar) tidak ada tawar menawar menyangkut mahar. Menurut budaya dan keyakinan orang Sasak, tawar menawar hanya berlaku untuk barang dan hal itu tidak berlaku untuk manusia.

Di kalangan mereka, apabila ada yang mencoba menawar si gadis dengan mahar tertentu, maka kondisi itu sama saja dengan mempermalukan orang tua si gadis yang bersangkutan. “Masak anak gadis kami dilamar, apa anak gadis kami memang barang yang harus ditawar-tawar harganya,” ungkap Enoh, tokoh masyarakat suku Sasak kepada Serambi di Desa Sade, Rabu (13/10/2021).

Lalu bagaimana cara si pemuda jika ingin mempersunting sang kekasihnya tercinta? Langkah yang harus ditempuhnya adalah harus berani menculik si gadis, untuk kemudian dibawa lari ke rumah orangtua si pemuda. Selanjutnya para tetua adat suku Sasak akan menghubungi orangtua si gadis guna membicarakan langkah-langkah berikutnya untuk persiapan pernikahan putra putri mereka.

Tapi jangan berpikir macam-macam dulu. Perlu dicatat bahwa selama berada di rumah orangtua si pemuda, si gadis tersebut tidak boleh disentuh sama sekali. Artinya harus melaksanakan pernikahan terlebih dahulu baru boleh memiliki si gadis pujaannya.

 “Maksudnya si gadis harus ‘diamankan’ terlebih dahulu di rumah calon suaminya agar ia tidak diculik oleh pemuda yang lain,” papar Enoh, yang belakangan ini lebih memilih sebagai pemandu wisata tentang kehidupan suku Sasak sebagai profesinya.

Menurut catatan berbagai sumber, termasuk Wikipedia Indonesia, sebagian besar suku Sasak beragama Islam. Namun, uniknya pada sebagian kecil masyarakat suku Sasak terdapat praktik agama Islam yang agak berbeda dengan Islam pada umumnya yakni, Islam Wetu Telu.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved