Rabu, 20 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Vaksinlah Sewaktu Sehat

Coronavirus Desease 2019 yang disingkat Covid-19 merupakan nama virus yang diberikan oleh International Classification of Deseases (ICD)

Tayang:
Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
CHAIRUL BARIAH, Wakil Rektor II Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (Uniki), Dosen FE Umuslim, dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari  Bireuen 

OLEH CHAIRUL BARIAH, Wakil Rektor II Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (Uniki), Dosen FE Umuslim, dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari  Bireuen

Coronavirus  Desease  2019  yang disingkat Covid-19 merupakan nama virus yang diberikan oleh International Classification of  Deseases (ICD). Pemberian nama resmi ini dilakukan melalui press release dan diumukan WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) pada 11 Februari 2020 sejak Covid  ditemukan pada akhir tahun 2019 di Kota Wuhan, Cina.

Diduga, virus corona berasal dari makanan beku yang masuk dari luar Cina di pasar basah Wuhan. Virus ini telah menggemparkan dunia dan memengaruhi hampir seluruh tatanan hidup manusia. Perekonomian melemah, penyelenggaraan pendidikan berubah, kehidupan sosial juga terdampak parah, bahkan mampu menurunnya tingkat kesejahteraan umat manusia.

Pada Januari 2020, saya dan keluarga sempat jalan-jalan ke beberapa negara ASEAN. Saat itu,  semua tempat wisata yang kami datangi ramai dikunjungi wisatawan. Semua aspek kehidupan saat itu masih normal. Menjelang akhir Januari kami kembali ke tanah air.

Satu bulan berada di kampung halaman, muncullah berita-berita tentang Covid-19 di berbagai media elektronik dan cetak, termasuk berita di salah satu negara yang kami kunjungi.

Rasa takut menghadapi pandemi mewarnai hari-hari yang saya lewati bersama keluarga. Namun, karena yakin bahwa pada saat kami berada di luar negeri kondisi semuanya baik-baik saja. Begitu juga saat kembali ke tanah air. Aceh masih dalam kondisi aman dari Covid masa itu. Informasi Covid setiap hari saya update, termasuk cara-cara pencegahannya, karena tidak ingin penyakit itu menimpa saya dan keluarga, termasuk juga tetangga di seputaran tempat tinggal saya.

Namun, kenyataan berkata lain, suatu pengalaman yang sulit saya lupakan seumur hidup saat divonis terinfeksi Covid-19, walapun telah mengikuti anjuran pemerintah untuk melaksanakan 3M: mencuci tangan, memakai masker, dan menghindari kerumanan, dan berbagai referensi pencegahannya.

Sebenarnya, saya tak ingin mengenang penyebab terinfeksi Covid-19 beberapa bulan lalu. Namun, ada pembelajaran berharga bagi penyintas Covid, yakni harus jujur tentang penyakit yang dideritanya karena akan dapat memutus rantai penyebaran dan menyelamatkan keluarga dan orang lainnya. 

Melawan Covid dengan perawatan intensif selama kurang lebih 15 hari di rumah sakit, bukanlah hal yang mudah  untuk dilalui. Setelah selesai perawatan pun kita masih dihadapkan pada masalah sosial. Waktu itu, sebagian masyarakat belum memahami tentang  Covid-19, sehingga tak ada yang membesuk saat saya sakit. Bahkan, keluarga dekat pun mendapatkan perlakuan tidak adil dalam masyarakat hanya gara-gara saya terinfeksi Covid. Sedih rasanya bila dikenang, seakan-akan terinfeksi Covid-19 adalah suatu aib besar.

Keputusan pemerintah untuk memutus rantai penyebaran Covid-19 melalui pemberian vaksin sangatlah tepat. Enam bulan setelah dinyatakan sehat, saya berusaha untuk mendapatkan vaksin. Beberapa tempat pelaksanaan vaksin saya datangi, tetapi selalu gagal karena tensi darah di atas 170. Minum obat dan makan buah yang dapat menurunkan tensi darah seperti semangka, mentimun, dan nenas telah saya lakukan. Namun, semua belum ada hasilnya. Begitupun, saya tidak menyerah dan setiap hari tetap mengonsumsi buah dan vitamin.

Setelah melalui usaha dan doa, akhirnya hasil pemeriksaan dokter saya dinyatakan dapat divaksinasi. Sesungguhnya, tak ada usaha yang sia-sia bila kita serius menjalaninya. Saya dan keluarga pun semua sudah disuntik vaksin.

Pengalaman dari sahabat saya yang telah divaksinasi, tapi tetap terinfeksi Covid-19, ternyata tidak seperti yang saya alami. Dia lebih kuat dan sakitnya juga tidak terlalu lama. Batuk yang dialaminya tidak parah dan pernapasannya juga tidak sesulit yang saya alami, saturasi oksigen di dalam darahnya juga masih baik.

Pada waktu saya dinyatakan  Covid-19, saturasi oksigen saya sangat rendah, bahkan waktu itu tim dokter menyarankan kepada keluarga agar saya dipasang ventilator karena saya susah bernapas, tetapi keluarga menolaknya. Hanya karena izin Allah saya dapat pulih kembali seperti sekarang. Nah, oleh karenanya saya ingin orang lain jangan sampai merasakan apa yang telah saya alami. Sangat menderita didera Covid.

Hasil perbandingan kondisi sahabat saya yang telah divaksin dan saya pada waktu sakit jauh sekali berbeda. Kondisinya jauh lebih baik meski kami sama-sama terinfeksi Covid. Ternyata, vaksin itu sangat bermanfaat bagi kesehatan. Untuk mendapatkan vaksin Covid-19 sebaiknya ketika kita dalam kondisi sehat. Kalau ada hal yang diragukan tentang kondisi kesehatan sebaiknya konsultasi pada dokter. Jika hasil pemeriksaan dokter dinyatakan boleh divaksin, maka jangan ragu lagi untuk divaksinasi.

Pemerintah saat ini sedang giat-giatnya memberikan vaksin gratis kepada warga yang memenuhi syarat untuk divaksin. Sata bersaksi bahwa perkembangan kesehatan masyarakat secara umum saat ini mulai membaik, sebagaimana yang saya amati di seputaran tempat tinggal saya, Matangglumpang Dua, Kabupaten Bireuen. Aktivitas pasar mulai menggeliat, orang-orang yang berbelanja juga sudah banyak yang tidak memakai masker lagi, semoga segalanya akan kembali  normal.

Warung kopi dan kafe di seputaran tempat tinggal saya dan juga di wilayah Bireuen semua sudah aktif seperti dulu. Pemandangan ini tentu jauh berbeda pada awal pandemi dan diberlakukannya jam malam pada akhir Maret 2020. Namun, kita semua harus tetap waspada bila pandemi menyerang kembali.

Salah satu upaya yang dapat kita tempuh adalah dengan vaksin Covid-19, tentunya harus dalam kondisi sehat.  Manfaat vaksin Covid-19 di antaranya adalah menurunkan angka terinfeksi Covid-19 atau terjangkit Covid berat dan menurunkan tingkat kematian karena Covid.

Vaksinasi juga mendorong terbentuknya herd immunity (kekebalan kelompok), memutus mata rantai penyebaran Covid-19 untuk keluarga dan orang-orang di sekitar kita, di samping untuk  mengurangi dampak ekonomi dan sosial akibat pandemi.

Akibat pandemi Covid-19 banyak tenaga kerja produktif kehilangan pekerjaannya dan beralih ke profesi yang baru. Mungkin dengan upah atau penghasilan lebih rendah. Banyak karyawan perusahaan yang di-PHK.  Silaturahmi secara tatap muka tidak lagi kita lakukan, sehingga kehidupan sosial berubah drastis.  Melihat fenomena ini, masihkah kita tak mau divaksin?

Informasi yang salah tentang vaksin juga sering bermunculan di media sosial. Karena sekarang zamannya digital, kita dengan mudah dapat mengecek kebenarannya. Pastikan info itu bersumber dari pihak dan situs yang bertanggung jawab, bukan propaganda atau bahkan infodemik yang merugikan masyarakat.  Vaksin Covid-19 adalah ikhtiar kita untuk menjaga kesehatan.

Terlepas dari persoalan vaksin, ada hal yang sedikit memberatkan menurut saya, yaitu pada saat ingin bepergian ke Pulau Jawa kita diharuskan melakukan tes PCR. Biayanya hampir 50% dari harga tiket. Kebijakan ini mungkin dapat dipertimbangkan lagi oleh pemerintah, sehingga tidak terlalu berat beban yang dihadapi masyarakat, terutama bagi pelajar dan mahasiswa yang sekolah atau kuliah di luar Aceh.         

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved