Jurnalisme Warga
Kalau Menyakiti Bukan Cinta Namanya
Ini merupakan sekeping momentum dari luasnya pembahasan Pelatihan Kepenulisan Training of Trainer (ToT) Kekerasan Berbasis Gender (KBG) yang digelar
Bukankah kondisi korban kekerasan yang sedemikian rupa tidaklah boleh disepelekan dan dianggap sekadar candaan? Bayangkan jika hal serupa terjadi pada orang-orang terdekat yang kita sayangi dan cintai, terlebih jika mereka adalah perempuan. Akan sedemikian tegakah kita?
Disadari atau tidak, kita semua merupakan bagian penting dari kehidupan seorang perempuan. Kita bisa jadi adalah seorang ayah bagi anak perempuan, seorang abang bagi saudara perempuan, seorang adik bagi kakak perempuan. Atau kita seorang kakek bagi cucu perempuan dan yang pasti seorang anak yang terlahir dari rahim perempuan. Sehingga, pemberian dukungan dan rasa aman bagi perempuan sejatinya merupakan sebentuk penghargaan bagi diri kita sendiri. Demikian juga ketika kita lakukan penghinaan, bahkan tindak kekerasan pada perempuan sejatinya kita turut menghancurkan bagian terpenting dari jati diri kita juga.
Oleh karenanya, dukungan dan rasa aman bagi masyarakat yang rentan terdampak kekerasan seperti perempuan, anak, lansia, dan kaum marginal merupakan hal penting untuk kita upayakan bersama. Sebab, tindakan nyata adalah sebenar-benar bahasa cinta. Sungguh tidak ada tindakan cinta yang merusak. Jika merusak, bukan cinta namanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ayu-ulya-pengurus-bidang-sdm-generasi-pesona-indonesia.jpg)