Breaking News:

Jurnalisme Warga

Kalau Menyakiti Bukan Cinta Namanya

Ini merupakan sekeping momentum dari luasnya pembahasan Pelatihan Kepenulisan Training of Trainer (ToT) Kekerasan Berbasis Gender (KBG) yang digelar

Editor: bakri
Kalau Menyakiti Bukan Cinta Namanya
IST
AYU ‘ULYA, Koordinator Komunitas Perempuan Peduli Leuser (perempuanleuser.com) dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe), melaporkan dari Banda Aceh

OLEH AYU ‘ULYA, Koordinator Komunitas Perempuan Peduli Leuser (perempuanleuser.com) dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe), melaporkan dari Banda Aceh

“Apa yang tidak disuarakan menjadi suara terkeras yang pernah saya dengarkan,” ucap sang fasilitator, Lena Hanifah. Pernyataan Lena seketika melengangkan seisi forum. Kata-katanya seakan mewakili riuhnya fakta keterbungkaman perempuan di berbagai ranah. Ini merupakan sekeping momentum dari luasnya pembahasan Pelatihan Kepenulisan Training of Trainer (ToT) Kekerasan Berbasis Gender (KBG) yang digelar sejak 9 September-22 Oktober 2021.

Serangkaian acara pelatihan nasional ini digelar secara daring selama tujuh kali pertemuan. Peserta pelatihan merupakan 18 perempuan terpilih dari nyaris 100 pendaftar yang berasal dari berbagai pelosok nusantara. Para perempuan berlatar belakang ragam suku, ras, dan agama itu dipersatukan rasa peduli dan kesamaan aksinya selaku penulis, peneliti, pendamping masyarakat, bahkan penyintas. Saya sendiri merupakan satu-satunya peserta pelatihan ToT Kepenulisan KBG berasal dari Aceh.

KBG merupakan paradigma masif nyaris tanpa solusi komprehensif yang berwara-wiri di tengah-tengah kehidupan  kita. Kasus KBG sejatinya dapat menimpa siapa saja, baik perempuan maupun laki-laki. Beragam wacana ala victim blaming dari rangkaian kata “pantas sih dia di…, sebab dia kan…”, telah membungkam banyak korban, terutama kaum perempuan. Pernyataan tersebut bahkan memperoleh klarifikasi langsung dari Komnas Perempuan melalui kompilasi data dalam Catatan Tahunan (CATAHU) tahun 2021. 

“Melalui CATAHU, kita dapat melihat pola kekerasan. Dari tahun 2008-2020 terdata sebanyak 3.278.193 kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia. Setara dengan 28 kasus kekerasan setiap jamnya,” papar Komisioner Komnas Perempuan, Siti Aminah Tardi, pada momen peresmian pembukaan pelatihan.

Dengan kata lain, nyaris setiap dua menit para perempuan Indonesia—ibu, istri, saudara perempuan, anak perempuan, bahkan cucu perempuan kita—berpotensi masuk dalam lingkaran korban kekerasan. Fakta tersebut tentu mengiris perasaan siapa pun yang memiliki hati nurani. Konon lagi bagi masyarakat muslim di Aceh, di bulan peringatan maulid penuh berkah, yang menyadari betapa berjaraknya masyarakat kita kini dalam meniru perilaku Nabi Muhammad saw. yang sejatinya merupakan pelopor pemberi rasa aman dan memuliakan perempuan.

Siti menambahkan bahwa pada dasarnya CATAHU juga menjadi tolok ukur seberapa responsif negara dalam memenuhi keadilan dan pemulihan bagi korban kasus kekerasan. Baik itu bentuk kekerasan seksual, fisik, psikologi, maupun ekonomi di ranah negara, komunitas, maupun rumah tangga.

Keunikan pelatihan KBG ini terletak pada penggunaan metode pendidikan orang dewasa (POD). Artinya, pelatihan yang diberikan mengacu  pada pengembangan wawasan serta pembelajaran berbasis pengalaman peserta. Semua pembahasan kasus KBG yang dipelajari merupakan kejadian faktual sehari-hari. Selain itu, pendekatan growth mindset—keyakinan bahwa kecakapan, kecerdasan, dan talenta dapat dibangun dan dikembangkan seiring tekunnya seseorang berlatih dan belajar—juga diterapkan sejak awal. Juga yang terpenting adalah ketersediaan ruang aman bagi seluruh peserta mengekspresikan diri mereka. Semua itu menjadikan ruang diskusi selama pelatihan begitu hidup. 

 Namun, para peserta tentu tidak dapat menafikan kemunculan rasa marah, sedih, dan kesal selama membahas realitas yang mencerminkan betapa masih tidak amannya kehidupan perempuan di negeri ini. Dari polemik yang kerap dianggap remeh—yang pada kenyataannya menyakiti—semacam siulan, humor seksis, juga perundungan online, hingga kejadian tragis seperti manipulasi emosi (gaslighting), penganiayaan, pelecehan, dan pemerkosaan. Apakah kondisi mental dan emosional masyarakat kita sebegitu “terlukanya” hingga termotivasi menciptakan derita di mana-mana? Jika bukan demikian, lantas mengapa harus ada yang namanya kekerasan? Bukankah tindak kekerasan merupakan wujud lain dari ketidakberdayaan?

Dukungan dan rasa aman

Selain menghasilkan tulisan sensitif gender, para peserta pelatihan kepenulisan juga dilatih menghasilkan penelitian berperspektif adil gender. Artinya, proses penelitian tersebut memberikan dukungan dan rasa aman bagi korban, terutama perempuan, sebagai responden untuk menyampaikan kekhasan pengalaman mereka sekalipun dalam bentuk ekspresi diam.

“Akan ada masa ketika peneliti berupaya memaknai diamnya responden. Annemarie Samuels memperkenalkan konsep ‘The Power of  Silence’ ini dalam bukunya ‘After the Tsunami’. Dia berkata, ’Narasi memiliki keterbatasan. Tidak semuanya bisa diungkapkan dengan kata-kata. Terlebih saat menghadapi kesedihan yang luar biasa.’ jelas Nor Ismah selaku fasilitator pelatihan.  

Proses Pelatihan ToT Kepenulisan KBG ini pada kenyataannya tidak hanya meningkatkan pengetahuan dan kecakapan di bidang penelitian dan kepenulisan, tetapi juga mengembangkan kepekaan rasa, empati, dan kepedulian para peserta terhadap kondisi masyarakat sekitarnya. Terutama, dalam memberi dukungan terhadap korban kasus kekerasan.

“Saat mewawancarai korban, hindari pertanyaan berulang-ulang. Apalagi pertanyaan yang dapat menyudutkan korban. Jangan sampai menimbulkan trauma lainnya,” saran seorang peserta pelatihan yang berperan sebagai pendamping korban kekerasan di salah satu sesi diskusi.

Saran tersebut menjadi tamparan keras bagi kita semua. Terutama, mengingat banyaknya kasus kekerasan di mana korban kerap diperlakukan tidak adil, bahkan menjadi bulan-bulanan, dalam rentetan proses pelaporan dan penyelidikan. Bak kata pepatah, “Sudah jatuh, tertimpa tangga pula,” trauma yang ada belum sembuh, sudah dicecar trauma selanjutnya.

Bukankah kondisi korban kekerasan yang sedemikian rupa tidaklah boleh disepelekan dan dianggap sekadar candaan? Bayangkan jika hal serupa terjadi pada orang-orang terdekat yang kita sayangi dan cintai, terlebih jika mereka adalah perempuan. Akan sedemikian tegakah kita?

Disadari atau tidak, kita semua merupakan bagian penting dari kehidupan seorang perempuan. Kita bisa jadi adalah seorang ayah bagi anak perempuan, seorang abang bagi saudara perempuan, seorang adik bagi kakak perempuan. Atau kita seorang kakek bagi cucu perempuan dan yang pasti seorang anak yang terlahir dari rahim perempuan. Sehingga, pemberian dukungan dan rasa aman bagi perempuan sejatinya merupakan sebentuk penghargaan bagi diri kita sendiri. Demikian juga ketika kita lakukan penghinaan, bahkan tindak kekerasan pada perempuan sejatinya kita turut menghancurkan bagian terpenting dari jati diri kita juga.

Oleh karenanya, dukungan dan rasa aman bagi masyarakat yang rentan terdampak kekerasan seperti perempuan, anak, lansia, dan kaum marginal merupakan hal penting untuk kita upayakan bersama. Sebab, tindakan nyata adalah sebenar-benar bahasa cinta. Sungguh tidak ada tindakan cinta yang merusak. Jika merusak, bukan cinta namanya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved