Selasa, 5 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Keramatkah Simpang Keramat?

Petaka perang di Aceh terhitung sejak pemberlakuan Daerah Operasi Militer (DOM), disusul dengan penetapan status Darurat Militer

Tayang:
Editor: bakri
Serambinews
M. YUSRIZAL, S.Pd., Guru Sejarah di SMAN 11 Banda Aceh,  putra perantauan Simpang Keramat, melaporkan dari Lhokseumawe 

OLEH M. YUSRIZAL, S.Pd., Guru Sejarah di SMAN 11 Banda Aceh,  putra perantauan Simpang Keramat, melaporkan dari Lhokseumawe

Petaka perang di Aceh terhitung sejak pemberlakuan Daerah Operasi Militer (DOM), disusul dengan penetapan status Darurat Militer. Pertikaian Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Pemerintah Indonesia sudah bukan rahasia lagi. Anyir tumpah darah tercium sudah hingga ke dunia internasional.

Beberapa daerah di Aceh dipetakan sebagai “zona merah” rawan konflik. Salah-salah melangkah, bersikap, bahkan salah mengambil posisi tidur saat larut malam, siap-siaplah timah panas merobek tubuh. Malaikat Maut kiranya selalu sibuk mondar-mandir di Aceh kala itu, terutama di Kecamatan Simpang Keramat, Kabupaten Aceh Utara.

Kecamatan yang satu ini dikenal sebagai “ladang panas” pertempuran kedua belah pihak dimaksud. Pada medio Desember 2002, warga di beberapa desa dalam Kecamatan Simpang Keramat terpaksa diungsikan lantaran “intimidasi” perang yang terus saja merenggut nyawa masyarakat sipil. Padahal, aksi pengungsian itu terjadi pada sepuluh hari setelah kesepakatan Penghentian Kekerasan, Cessation on Hostilities Agreement (CoHA) antara Pemerintah RI dengan GAM, yang ditandatangani kedua belah pihak pada 9 Desember 2002 di Jenewa, Swiss.

Masih melekat di ingatan saya tatkala almarhum ayahanda menguburkan perhiasan ke dalam septic tank yang dipenuhi tinja, karena membawa perhiasan ke pengungsian tidaklah aman. Rumah berpotensi terbakar/dibakar, menyimpan perhiasan dalam rumah bukanlah solusi cerdas.

Bukan tidak beralasan, kecamatan ini menjadi salah satu pemasok pasukan GAM yang dicap pemerintah pusat sebagai separatis yang perlu ditumpas. Pemerintah menempatkan konsentrasi TNI untuk mengawasi pergerakan GAM siang dan malam, seantero Aceh sepertinya mengetahui kecamatan ini sebagai kecamatan yang “batat” menentang pemerintah, dulunya.

Saya merupakan salah satu orang yang harus banyak-banyak bersyukur lantaran pernah dua kali terjebak dalam perang terbuka, alhamdulillah masih selamat dan hari ini sempat menulis di Jurnalisme Warga di Serambi Indonesia, bukan sebagai bentuk mencungkil-cungkil koreng bekas luka lama, tapi hendak berbagi cerita bagaimana kondisi Simpang Keramat dulu dan kini.

Kisah keuramat di simpang empat

Keramat, karamah, atau dalam bahasa Aceh disebut keuramat adalah kemulian berupa sesuatu di luar logika manusia yang Allah berikan kepada waliyullah. Memang, pada jantung kedai kecamatan ini terdapat empat simpang yang sarat mengandung sejarah keramat. Sekilas, orang akan bergidik jika mendengar nama kecamatan ini lantaran harus mawas diri, bersikap santun, serta menyucikan niat yang dikandung hati tatkala melewati simpang tersebut.

Jika hendak menelusuri jejak historis, benar memang terdapat empat kuburan keramat di setiap empat arah jalan. Arah timur menuju Desa Blang Raleu kita dapat menemukan kuburan keramat Teungku Di Syahid; arah utara menuju Desa Alue Lim kita dapat menjumpai makam Teungku Di Banda; arah barat menuju Buloh Blang Ara terdapat pusara Teungku Paduka Tuan; dan arah selatan menuju Desa Kilometer VIII kita dihadapkan dengan kuburan Teungku Keuramat. Kesemua pusara ini diyakini tempat bersemayamnya jasad para pemuka agama yang diberikan karamah oleh Allah. Atas dasar inilah kecamatan pedalaman Aceh Utara ini ditabalkan namanya jadi Kecamatan Simpang Keramat.

Benarkah karamah? Saya tak sanggup mengupas kebenarannya. Membaca definisi karamah di KBBI tentunya kita paham dan tak perlu meliarkan imajinasi untuk menerka-nerka kebesaran Allah. Namun, beberapa kejadian di luar nalar pernah disaksikan masyarakat setempat. Semisal, kuburan Teungku Paduka Tuan kerap bercahaya pada malam hari. Buldoser pernah mati tanpa sebab ketika sedang pengerjaan jalan di kawasan kuburan Teungku Di Syahid. Mungkin ada segudang kejadian lagi yang tak sanggup dijangkau akal sehat pernah terjadi di kecamatan ini.

Penandatanganan MoU perdamaian antara Pemerintah RI dan GAM pada 15 Agustus 2005 di Helsinki membawa kedamaian bagi seluruh Aceh, tak terkecuali di Simpang Keramat. Kini kecamatan tersebut telah berdamai, menopang hidup dengan hasil pertanian dan perkebunan. Dikenal sebagai ladang perang (dulu), kecamatan satu ini juga dikenal dengan hasil perkebunannya. Rambutan, langsat, manggis, dan durian merupakan komoditas paling diunggulkan. Banyak muge (penggalas) datang untuk memburu hasil perkebunan pada puncak panen antara Agustus-September. Keberkahan tahunan ini seakan Allah turunkan untuk orang-orang keuramat.

Tidak hanya muge, para pembeli yang ingin berburu durian langsung dari pohonnya juga turut datang dan bermalam di sini. Jika beruntung pengunjung akan memacu adrenalin berburu durian dengan harimau atau kawanan babi hutan pada tengah malam. Beberapa tahun belakangan, perkebunan durian monthong mulai dibudidayakan di Kilometer VIII, salah satu desa pedalaman di kecamatan ini. Hadirnya inovasi baru perkebunan menjadikan Simpang Keramat kian dilirik.

Memetik kedamaian dan keberkahan perkebunan di kecamatan ini adalah bentuk nikmat yang begitu besar yang Allah turunkan, tentu harus disyukuri melalui puja-puji saban hari kepada Sang Pencipta. Namun, di balik itu semua, masyarakat dan pemerintah harus jeli melihat petaka yang mungkin timbul di masa depan. Petaka yang kadang kala kita undang sendiri. Kedamaian bagi kecamatan ini makin memudahkan masyarakat dan korporat membuka lahan perkebunan sawit. Merambah hutan dan menanam tanaman penghasil minyak nabati tersebut. Seakan acuh, pada hulu-hulu sungai dan rawa-rawa yang juga turut ditanami tanaman penyedot air ini, tanpa memikirkan dampak lingkungannya pada generasi-generasi berikutnya.

Sebuah kenaifan bagi pertanian padi mulai terasa di tanah keuramat ini. Beberapa anak sungai debit airnya turun drastis. Beberapa lahan sawah penanaman padi tak bisa lagi dilakukan setahun dua kali, masyarakat harus menunggu musim penghujan untuk bertani yang itu hanya terjadi setahun sekali. Bukankah matinya sumber air menandakan makin dekatnya kematian peradaban?

Tidak bermaksud “menggurui”, air adalah sumber daya alam paling penting di planet Bumi. Malaysia yang juga salah satu pengekspor sawit terbesar dunia kini mulai menghentikan penanaman dan giat melakukan pembibitan. Bibit-bibit sawit unggulan Malaysia disinyalir diimpor ke Indonesia untuk ditanami di tanah republik ini, tak terkecuali di tanah “keuramat”.

Jika ini tidak disikapi, petaka lebih besar akan datang memorakporandakan, bahkan mengalahkan dampak petaka saat perang GAM-RI tempo dulu. Tanaman sawit yang merusak lingkungan akan menjadi pembenaran petuah endatu (leluhur); “U laot hanto, u gunong han rab” (Tidak melaut dan tidak pula bertani). Perkebunan dan pertanian adalah identitas Simpang Keramat dan ruh kehidupan bagi generasi-generasi mendatang. Mari kita papah.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved