Kamis, 30 April 2026

Internasional

Perdana Menteri Lebanon Minta Menteri Pemicu Konflik dengan Arab Saudi Mundur

Perdana Menteri Lebanon, Najib Mikati, Kamis (4/11/2021) mendesak Menteri Penerangan mundur. Seruan yang nyata itu, karena telah menyebankan

Tayang:
Editor: M Nur Pakar
AP/Hussein Malla
Perdana Menteri Lebanon Najib Mikati, meninjau pengawal kehormatan selama upacara yang diadakan pada hari pertama menjabat, di Gedung Pemerintah Kota Beirut, Lebanon, Senin (13/9/2021). 

SERAMBINEWS.COM, BEIRUT - Perdana Menteri Lebanon, Najib Mikati, Kamis (4/11/2021) mendesak Menteri Penerangan mundur.

Seruan yang nyata itu, karena telah menyebankan keretakan diplomatik yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan Arab Saudi.

Pertengkaran itu akan mengacaukan pemerintahan baru Lebanon dan meningkatkan kemerosotan ekonomi negara itu, seperti dilansir AFP.

Perdana Menteri Najib Mikati tidak dapat memberhentikan menteri tanpa persetujuan setidaknya dua pertiga dari kabinet dan presiden Lebanon.

Mikati mengatakan pengunduran diri Menteri Penerangan George Kordahi akan menjadi prioritas dan peta jalan alami untuk keluar dari krisis, ini.

Dia menegaskan pemerintahnya harus menjaga hubungan baik dengan negara-negara Teluk Arab, terutama Arab Saudi.

Baca juga: Arab Saudi Tuduh Hizbullah Sebagai Masalah Nyata di Lebanon

Mikati mengatakan telah setuju dengan Presiden Lebanon Michel Aoun tentang solusi krisis yang mengancam akan memecah pemerintahannya.

Dia juga memiliki kata-kata keras untuk mitranya di pemerintahan, kelompok Hizbullah dan sekutunyayang telah menolak seruan agar Kordahi mundur.

Pertengkaran itu dipicu oleh pernyataan Kordahi yang disiarkan pekan lalu tentang perang di Yaman.

Padahal, koalisi pimpinan Arab Saudi ikut memerangi pemberontak milsi Houthi yang didukung Iran.

Para pejabat Lebanon mengatakan pernyataan Kordahi tidak mewakili pandangan resmi pemerintah.

Riyadh telah menarik duta besarnya dari Beirut dan meminta utusan Lebanon untuk meninggalkan kerajaan.

Arab Saudi juga telah melarang impor Lebanon, sehingga merusak perdagangan luar negeri negara kecil itu dan merampas jutaan dolar AS.

“Negara ini tidak bisa diatur dengan bahasa tantangan dan ketegaran,” kata Mikati, yang kembali ke Beirut dari Glasgow, Skotlandia.

“Kita harus bersatu di belakang satu kata untuk bekerja menyelamatkan negara kita," harapnya.

Baca juga: Hizbullah Dituduh Cengkeram Pemerintahan Lebanon

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved