Breaking News:

Terus Naik, Sawit Capai Rp 3.100/Kg, Momentum untuk Maksimalkan Pelabuhan di Aceh

Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit terus mengalami kenaikan. Saat ini, sebagaimana informasi dari Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia

Editor: bakri
SERAMBI/RAHMAT SAPUTRA
Para petani menaikkan TBS kelapa sawit ke dalam mobil untuk diangkut ke agen pengepul, Minggu (31/10/2021). 

BANDA ACEH - Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit terus mengalami kenaikan. Saat ini, sebagaimana informasi dari Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Aceh, harga di tingkat pabrik sudah berada pada kisaran 2.900-Rp 3.100/kg.

“Tahun ini harganya (TBS sawit) terus bergerak naik. Di tingkat petani sudah mencapai antara Rp 2.500-2.800/kg dan di tingkat PKS (pabrik kelapa sawit) Rp 2.900-3.100/kg,” sebut Sekretaris Apkasindo Aceh, Fadli, kepada Serambi, Rabu (3/11/2021).

Harga tersebut ia katakan, jauh mengalami kenaikan dibandingkan tahun lalu. Dimana ketika itu harga TBS sawit masih berkisar Rp 900-1.200/kg di tingkat petani dan Rp 1.300-1.500/kg di tingkat PKS.

Fadli menjelaskan, kenaikan harga TBS sawit ini dipicu oleh meningkatkan permintaan CPO (crude palm oil) di pasaran dunia dan dalam negeri. Di pasaran dunia, banyak negara di Uni Eropa sudah membuka diri untuk mengimpor CPO dari Indonesia, Malaysia dan Thailand. “Sebelumnya hanya beberapa negara saja yang mengimpor CPO dari Indonesia, di antaranya India, Cina dan Singapura,” sebutnya.

Di samping itu, imbuhnya, permintaan CPO di pasaran dalam negeri juga tinggi, terutama untuk bahan baku bio solar (B30 dan B40). Fadli menyebutkan, harga CPO di dalam negeri saat ini sudah mencapai Rp 14.371/kg.

“Harga TBS sawit ini sangat ditentukan oleh permintaan CPO di pasar dunia dan pasar lokal. Semakin tinggi permintaan CPO, maka harga sawit juga semakin naik,” papar Fadli.

Momentum bagi Aceh

Sekretaris Apkasindo Aceh, Fadli, menilai, kenaikan harga CPO di tengah tingginya permintaan ini merupakan momentum bagi Pemerintah Aceh dan Kabupaten/Kota untuk mengajak pabrik kelapa sawit (PKS) melakukan ekspor CPO melalui pelabuhan yang ada di Aceh.

Fadli menyebutkan, dari 35 PKS yang ada di Aceh, sejauh ini hanya beberapa di antaranya yang melakukan ekspor melalui pelabuhan lokal. Di antaranya PT Karya Tanah Subur dari Aceh Barat yang melakukan ekspor melalui Pelabuhan Krueng Geukuh, Lhokseumawe.

Menurutnya, masih sangat banyak PKS yang memiliki areal kebun di Aceh belum melakukan ekspor CPO melalui pelabuhan lokal. Padahal, jika hal ini dilakukan akan memberikan keuntungan, karena pungutan dana replanting/PSR (peremajaan sawit rakyat) bisa dikembalikan ke Aceh. “Dana itu bisa digunakan untuk peremajaan tanaman kelapa sawit rakyat yang sudah tua,” ucapnya.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved