Internasional
Putri Presiden Filipina Sebagai Calon Wapres, Dampingi Putra Marcos Sebagai Capres Filipina
Putri Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengajukan pencalonannya sebagai wakil presiden. Hal itu mengakhiri spekulasi tentang rencana pemilihan
SERAMBINEWS.COM, MANILA - Putri Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengajukan pencalonannya sebagai wakil presiden.
Hal itu mengakhiri spekulasi tentang rencana pemilihan presiden pada tahun 2022.
Sara Duterte-Carpio (43) putri tertua presiden, tidak mengajukan pencalonannya sebagai presiden seperti kandidat lainnya pada Oktober 2021.
Malahan, dia malah mencalonkan diri sebagai Wali kota Kota Davao, seperti dilansir AFP, Minggu (14/11/2021).
Keputusannya bergabung dalam pemilihan presiden datang menjelang tenggat waktu 15 November bagi kandidat ikut pemilihan presiden Mei 2022.
Perwakilan hukum Pengacara Reynold Munsayac menyerahkan sertifikat pencalonan Duterte kepada Komisi Pemilihan Umum.
Dia akan mencalonkan diri dari Partai Lakas-Kristen Muslim Demokrat, milik mantan Presiden Gloria Macapagal-Arroyo.
Sehingga, Lyle Uy menarik pencalonannya dan menunjuk putri pemimpin Filipina itu sebagai penggantinya.
"Ini untuk mengkonfirmasi, Walikota Inday Sara Duterte, melalui perwakilannya, telah mengajukan Sertifikat Pencalonan Wakil Presiden di bawah Lakas-CMD," kata juru bicara Duterte, Christina Garcia Frasco di Facebook.
Baca juga: Putri Pertama Rodrigo Duterte Siap Ikuti Jejak Ayahnya Sebagai Presiden Filipina
Dia segera didukung oleh Partido Federal ng Pilipinas, partai Ferdinand Marcos Jr., putra dan mantan diktator Filipina, untuk menjadi pasangannya.
“Partido Federal ng Pilipinas mengumumkan telah mengadopsi Walikota Davao City Sara Duterte-Carpio sebagai calon wakil presiden," kata partai itu dalam sebuah pernyataan media.
"Kami mendukungnya sebagai pasangan pembawa standar partai Ferdinand 'Bongbong' Marcos, Jr. dalam pemilihan 2022 mendatang, ” tambahnya.
Di Filipina, presiden dan wakil presiden dipilih secara terpisah, tetapi biasanya para kandidat bergabung sebagai pasangan de facto.
“Mengenal ayahnya, saya tidak tahu apakah dia akan setuju putrinya mencalonkan diri sebagai wakil presiden,” kata Ramon Casiple, analis politik dan direktur eksekutif Institut Reformasi Politik dan Pemilihan.
“Dia benar-benar ingin putrinya mencalonkan diri sebagai presiden," tambahnya.