Berita Banda Aceh
Rahmat Maulizar Terobos Pedalaman Aceh agar Anak Bibir Sumbing Dapat Tersenyum
Rahmat Maulizar, Social Worker Smile Train Indonesia Area Aceh di Rumah Sakit Malahayati, Banda Aceh
Penulis: Muhammad Hadi | Editor: Nurul Hayati
Laporan Muhammad Hadi | Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Saat masuk sebuah Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) di Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh. Penulis kebetulan punya satu teman kelas yang bibir sumbing. Karena penasaran hingga kami sering memperhatikannya baik saat bicara maupun tidak. Maklum, sebagai anak-anak akan memandang sesuatu yang tak biasanya atau masih penasaran.
Terlihat dari wajahnya dia kurang bersemangat seperti kawan-kawan yang lain. Penulis saat itu pun jarang sekali melihatnya tersenyum dan berbicara, kecuali bila ada yang bertanya. Meski akhirnya kami terbiasa dengan bibir sumbingnya dan berkawan serta bermain seperti rekan murid satu kelas lainnya. Karena masih anak-anak tentu saja saat itu tak tahu kenapa bibirnya berbeda dari murid lainnya.
Penulis kembali teringat sahabat masa sekolah di MIN setelah berjumpa dengan Rahmat Maulizar, Social Worker Smile Train Indonesia Area Aceh di Rumah Sakit Malahayati, Banda Aceh. Berawal peringatan HUT Ke-28 Harian Serambi pada tahun 2017. Salah satu kegiatannya mengadakan operasi bibir sumbing dan langit-langit mulut yang bekerja sama dengan Smile Train Indonesia Area Aceh.
Penulis ditugaskan meliput kegiatan operasi bibir sumbing dan bertemu langsung dengan Rahmat Maulizar di Rumah Sakit Malahayati. Rahmat saat itu sudah terkenal setelah dua tahun memimpin Smile Train Indonesia Area Aceh yang gencar mengadakan operasi bibir sumbing.
Saat bertemu Rahmat Maulizar disambut dengan senyuman dan sangat ramah. Selain mempertemukan penulis dengan orang tua dari berbagai kabupaten/kota di Aceh yang sedang antrea menunggu operasi bibir sumbing anaknya. Penulis juga diizinkan untuk masuk ke ruang operasi untuk mengambil foto dan melihat secara langsung dokter spesialis bedah plastik, dr Muhammad Jailani SpBE-RE (K) dan timnya bekerja.
Tentu saja kami harus pakai pakaian operasi demi sterilisasi guna menghindari kuman atau bakteri yang membahayakan pasien. Setelah cukup melihat proses operasi satu anak hingga selesai operasi. Akhirnya kami berdua keluar ruangan dan bertemu dengan orang tua yang anaknya sudah di operasi. Terlihat dari raut wajah ibu bapak tersenyum bahagia menyambut kami.
Karena membayangkan anaknya bisa tersenyum lagi layaknya anak-anak lain tanpa bibir sumbing. Karena para orang tua ini sudah duluan diperlihatkan koleksi foto anak-anak sebelum operasi dan kondisi setelah sembuh dari operasi. Bukan hanya bisa tersenyum lagi, tapi yang perempuan makin terlihat cantik dan pria makin nampak ganteng dari pada sebelum operasi.
Terobos pedalaman Aceh
Kepada Serambinews, Rabu (10/11/2021), Rahmat Maulizar menjelaskan dan menceritakan alasannya masuk ke pedalaman Aceh untuk mencari anak bibir sumbing. Karena syarat utama untuk bibir sumbing anak berumur 10 minggu, berat badan 5 Kg, dan hb (hemoglobin) 10. Untuk langit-langit syaratnya paling telat satu setengah tahun dan jangan lewat usia tersebut. Kalau lewat masa itu, akan terganggu bicaranya, walaupun operasinya bagus, tapi bicaranya tidak normal. Karena masih ada kalimat yang kurang pas.
Rahmat menjelaskan lamanya sembuh, setelah operasi setahun kemudian lukanya sudah agak longgar, dan telah mendekati normal, walaupun sempurna tidak bisa. Karena seminggu buka benang, dan itu sudah boleh beraktifitas, tapi masih tebal lukanya, karena baru. Enam bulan sampai setahun baru lukanya akan lembut, dia akan normal.
Baca juga: Peringati HUT Ke-32 Serambi Indonesia, Lima Anak Jalani Operasi Bibir Sumbing di RSU Malahayati
“Untuk anak yang telah operasi bibir sumbing agar menjaga luka yang baru dibuat jangan digaruk. Karena akan membuat lukanya melebar. Untuk langit-langit dia harus menjaga makanan satu bulan dengan makan cair. Maksudnya semua makanan dicairkan atau diblender. Ini selalu kita jelaskan kepada orang tua sebelum operasi dan setelah operasi,” ujar pria yang punya motto: Karena Hidup untuk memberi manfaat
Makanya Rahmat Maulizar dan timnya tidak hanya memanfaatkan momen pihak ketiga yang mengajak bekerja sama. Tapi pria kelahiran Meulaboh, 20 September 1993 terus bekerja untuk bisa mengoperasi anak-anak bibir sumbing sehingga bisa tersenyum seperti anak lainnya.
Bahkan tak hanya menunggu orang tua menelepon dan datang untuk membawa anaknya operasi bibir sumbing. Rahmat Maulizar rela mengorbankan waktunya untuk keliling Aceh demi mencari anak-anak Aceh supaya bisa operasi bibir sumbing. Rahmat menerobos pendalaman Aceh untuk mencari anak-anak bibir sumbing.
Rahmat Maulizar juga masuk hingga ke pelosok pedalaman untuk menemui keluarga yang anaknya bibir sumbing. Dia menjelaskan tentang operasi bibir sumbing secara lengkap foto sebelum dan sesudah operasi pasien anak-anak. Ini dilakukan untuk menyakinkan orang tua si anak agar bersedia dibawa ke Banda Aceh guna menjalani operasi bibir sumbing secara gratis.
Bahkan Rahmat bercerita pengalaman menerobos pedalaman untuk mencari anak bibir sumbing. Ia berkeliling Aceh hingga ke pedalaman pakai motor Trail. Perjalanannya hingga ke pedalaman Aceh Tamiang, Aceh Utara, Simpang Jernih Aceh Timur, Lesten Gayo Lues, Tongra Gayo lues dan Kuala Baru Aceh Singkil dan Pulo Aceh, Aceh Besar. Selain menerobos jalan rusak, berlumpur, Rahmat juga harus mengarungi sungai dengan perahu untuk mencapai lokasi tujuan di pedalaman Aceh.
“Rahmat pernah sepeda motor bocor ban di tengah hutan. Terus pernah tidur di meunasah saat turun ke pedalaman. Pernah rem blong sepeda motor Trail saat menurun pendakian. Bahkan sering terjungkal juga pernah. Rahmat pernah menembus mulai jalan Babahrot-Tongra - Blangkejeren - Pinding - Lokop hingga ke Peureulak Aceh Timur pakai Trail saat mencari pasien bibir sumbing di pedalaman Aceh,” ujar cerita pengalaman Rahmat.
Kadang Rahmat juga menggandeng kepala daerah dan instansi lain untuk operasi bibir sumbing sehingga orang tua si anak tak perlu datang jauh-jauh ke Banda Aceh. Sehingga anak-anak bibir sumbing di daerah ada yang tak perlu datang ke Banda Aceh.
Baca juga: VIDEO - Mahasiswa Minta KPK Usut Kasus Bisnis PCR dan Tangkap Koruptor di 23 Kabupaten/Kota di Aceh
Kebahagiaan orang tua yang anak-anaknya telah operasi bibir sumbing terlihat jelas. Saat Rahmat turun ke daerah-daerah mencari anak-anak lain untuk operasi bibir sumbing disambut bak pahlawan. Para orang tua anak-anak yang sudah sembuh setelah operasi bibir sumbing mengundangnya ke rumah. Mereka menyambut Rahmat Maulizar bak seorang pahlawan yang sangat berjasa bagi keluarganya. Rahmat pun bisa bertemu dengan anak-anak yang sudah sembuh dan bisa tersenyum kembali seperti anak-anak biasanya.
“Kegiatan sosial yang Rahmat lakukan, yakni operasi bibir sumbing ada sesuatu kepuasan batin setelah kita bantu. Karena setelah kita operasi anaknya, dia menganggap kita menjadi saudara dan menganggap kita ini pahlawan bagi anaknya,” ujar Rahmat, penerima Apresiasi Satu Indonesia Award tahun 2021 Bidang Kesehatan tingkat Nasional.
Kini ketika Rahmat berkunjung ke lapangan atau ke daerah pedalaman mencari anak bibir sumbing. Lulusan S1 Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh ini tak perlu memikirkan penginapan. Karena orang tua mantan pasien bibir sumbing antusias menyambutnya saat datang. Ini kepuasan batin karena mereka menyambut seperti saudara dan keluarga sendiri. Bahkan sering bertanya kapan datang ke rumahnya atau kalau ke daerah jangan lupa singgah di rumah mereka.
“Jadi kini tidak ada hambatan lagi kalau Rahmat ke lapangan. Diajak ke rumah untuk bersilaturahmi, diperkenalkan dengan anggota keluargan lain. Jadi ada kepuasan batin dengan membantu anak-anak bibir sumbing. Ini semua tak terlepas didukung oleh dr Muhammad Jailani dan Smile Train Indonesia dan sahabat-sahabat semuanya,” ujar Relawan kemanusiaan erupsi Gunung Sinabung 2013-2014 Kabupaten Karo-Sumatera Utara.
Para orang tua sangat senang setelah anaknya berhasil menjalani operasi bibir sumbing dan telah sembuh. Karena anak kesayangannya kembali bisa tersenyum seperti anak-anak lainnya. Makanya para orang tua tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada Rahmat Maulizar, dr Jailani dan Smile Train Indonesia.
"Terima kasih Pak berkat bantuan bapak beserta Smile Train Indonesia dan juga dokter Jailani, ananda kami sekarang sudah mendapatkan senyumnya yang baru. Semoga bapak dan seluruh yang telah ikhlas membantu sehat selalu, mudah rezekinya dan makin sukses. Aamiin," kata Puspita Bella, orang tua anak bibir sumbing dari Aceh Tenggara.
Rahmat mengaku tidak akan berhenti untuk terus mencari anak-anak guna bisa segera operasi bibir sumbing. Supaya masa depan anak bibir sumbing seperti anak-anak lainnya yang ceria dan bisa tersenyum. Jadi dari kecil harus segera operasi bibir sumbing. Sehingga saat sekolah mereka sudah tak minder lagi dan bisa percaya diri seperti anak-anak lainnya. Tentu saja bisa tersenyum dengan kawan-kawannya.
Dijelaskan Rahmat, melihat orang dari wajah, kalau wajah tidak nyaman, apalagi dengan bibir sumbing wajahnya, tentu anak tersebut tidak percaya diri. Itulah motivasinya agar anak yang sudah operasi bibir sumbing di Aceh bisa tersenyum lagi, seperti Rahmat kini dapat senyum.
“Jadi sukses seseorang itu juga tergantung dari percaya diri. Kalau percaya diri tidak ada bagaimana dia mau tampil, bagaimana mau pidato, bagaimana mau berbicara atau menyampaikan sesuatu kalau tidak percaya diri. Kuncinya percaya diri. Saya bersyukur bisa tersenyum pada hari ini. Maka saya ingin semua anak yang lain bibir sumbing juga bisa tersenyum seperti saya,” ujar Relawan kemanusiaan Gempa Pidie Jaya 2016.
Mantan pasien bibir sumbing
Rahmat menceritakan kilas balik dirinya dulu yang merupakan salah satu mantan pasien. Ia bertekad akan terus menyebarkan senyuman baru di seluruh pelosok Aceh melalui program Smile Train Indonesia ini.
“Jadi Rahmat memanfaatkan program ini supaya anak-anak Aceh tidak ada yang terlewatkan dengan operasi bibir sumbing. Tapi dapat menggunakan operasi ini sebaik-baik mungkin selagi ada gratis,” ujar Relawan kemanusiaan Gempa dan Tsunami, Palu, Donggala dan Sigi Sulawesi Tengah 2018.
Rahmat menjelaskan awalnya ia mantan pasien bibir sumbing dari tahun 2008 ikut operasi hingga 2010 selesai dioperasi oleh dr Muhammad Jailani. Tahun 2010, Rahmat mnginginkan sendiri untuk membantu anak-anak lain yang senasib dengannya agar dapat operasi bibir sumbing. “Jadi dari tahun 2010 Rahmat bergabung hingga 2021 ini, alhamdulillah anak Aceh terbantu lebih kurang hampir 5.000 operasi bibir sumbing,” ujar Rahmat.
Harapan Rahmat kepada anak-anak yang telah operasi bibir sumbing agar mereka punya masa depan dan bisa mencari peluang-peluang kerja kedepannya. Tentu saja dapat bermanfaat bagi orang lain dan salah satu impiannya agar kelak anak-anak ini bisa mandiri dan sukses nantinya.
“Tapi yang paling penting harapan Rahmat mereka bisa bermanfaat bagi orang banyak. Karena hidup ini hanya sekali dan paling tidak bisa bermanfaat untuk orang lain. Itu tujuan hidup ini sebenarnya,” ujar Wakil Ketua DPD KNPI Aceh Barat 2019-2021.
Pada momentum Hari Pahlawan Tahun 2021, Rahmat mengatakan, kalau penulis sejarah itu ramai, tapi pelaku sejarah sangat kurang. Jadi pahlawan itu jadi sumber inspirasi bagi orang lain. Semua pelaku-pelaku kegiatan sosial merupakan pahlawan yang mengisi masa setelah merdeka dan berjuang untuk bisa memberi manfaat untuk orang lain.
“Orang yang bermanfaat untuk orang lain, orang yang memikirkan nasib orang lain, orang yang berusaha membantu orang susah menjadi senang, itu salah satu pahlawan di masa setelah kemerdekaan ini,” kata Rahmat yang juga Bendahara Umum Ikatan Alumni Universitas Teuku Umar 2021-2023
Baca juga: Cegah Virus Corona, Babinsa Tegur Masyarakat tak Pakai Masker
Salah satunya, kata Rahmat, seperti memberi senyum kepada anak-anak bibir sumbing. Dari dia tidak percaya diri menjadi percaya diri. Dari dia tak tersenyum menjadi tersenyum dan memiliki masa depan. Sehingga anak-anak ini bisa percaya diri sejak kecil dan menjadi modal paling berharga saat dewasa nantinya.
“Itulah pahlawan menurut saya. Jadi orang yang bermanfaat untuk orang lain dalam berbagai bidang merupakan pahlawan setelah kemerdekaan. Jadi berbuat kebaikan untuk sesama dan bermanfaat itu tak harus menunggu kaya dulu. Manfaatkan setiap kesempatan untuk berbuat baik kepada orang lain dengan hal-hal yang berguna,” ujarnya.
Aktif dalam kegiatan sosial
Bukan hanya aktif mencari anak-anak bibir sumbing, Rahmat juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial lain. Misalnya kalau memasuki bulan Ramadhan, Rahmat membangunkan warga untuk sahur di Kabupaten Aceh Barat. Berkeliling kampung merupakan inisiatif sendiri Rahmat Maulizar supaya warga bisa makan sahur tepat waktu.
“Membangunkan warga sahur tiap bulan Ramadhan sudah saya lakukan selama 13 tahun hingga tahun 2021 ini. Terus kalau di bulan Ramadhan ada sebuah komunitas perkumpulan pemuda-pemuda, kami ada memasak bubur kanji sumbangan dari para donatur. Bubur kanji dibagikan untuk orang-orang untuk menu berbuka puasa,” kata Rahmat yang juga Ketua Komunitas Peduli Keselamatan Bersama (KPKB) Barat Selatan 2014-sekarang.
Kemudian, kata Rahmat, ada Gerakan Nasi Subuh setiap Jumat sebulan dua kali. Gerakan Nasi Subuh ini sudah berjalan 22 Jumat hingga Rabu 10 November 2021 atau sudah berjalan hampir setahun.
“Semoga ini terus berlanjut dan bisa memberi manfaat bagi orang lain. Teruslah berbuat baik selama masih hidup dan melihat orang lain bahagia, Rahmat pun bahagia,” kata Rahmat yang tak berhenti mengucapkan terima kasih atas dukungan dari semua pihak hingga dirinya terpilih sebagai penerima Apresiasi Satu Indonesia Award tahun 2021 Bidang Kesehatan tingkat Nasional.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/rahmat-maulizar-di-pedalaman-aceh.jpg)