Breaking News:

Salam

Luar Biasa Penyelundupan Narkoba di Masa Pandemi

Kepolisian Resor Lhokseumawe menangkap empat tersangka penyelundup narkoba serta menyita 9,5 kilogram sabu-sabu yang dikemas

Editor: bakri
SERAMBINEWS.COM/MISRAN ASRI
Kepala BNNP Aceh, Brigjen Pol Drs Heru Pronoto MSi (tengah) didampingi Kabid Pemberantasan BNNP Aceh, Kombes Pol T Saladin SH (dua dari kanan) serta turut hadir Direktur Narkoba Polda Aceh, Kombes Pol Ade Sapari SIK MH (dua dari kiri) memperlihatkan sabu-sabu yang dikemas dalam kemasan Teh Cina merek Gwan Yin Wang, dalam konferensi pers di Kantor BNNP Aceh, Selasa (13/10/2020). 

Kepolisian Resor Lhokseumawe menangkap empat tersangka penyelundup narkoba serta menyita 9,5 kilogram sabu-sabu yang dikemas dalam plastik teh Cina bermerek Guaniywang. Tersangka dan sabu-sabu itu diamankan polisi dalam satu penggerebekan di tepi pantai kawasan industri PT Arun, Blang Lancang, Lhokseumawe, pada Sabtu (13/11/2021) menjelang petang dan baru dirilis kepada pers lima hari kemudian.

Para pria tersangka penyelundup narkoba asal luar negeri itu, tiga orang warga Kota Lhokseumawe dan satu lainnya warga Kabupaten Bireuen. “Selain sabu-sabu seberat 9,5 kilogram, kami juga mengamankan barang bukti lain yaitu satu telepon genggam dan satu sepeda motor,” ungkap Kapolres Lhokseumawe, AKBP Eko Hartanto.

Kapolres mengungkapkan, para tersangka mengaku hanya berperan sebagai kurir yang diupah Rp 5 juta per orang untuk setiap paket sabu yang berhasil diselundupkan. "Jadi, mereka (tersangka) mengaku melakukan perbuatan itu karena tergiur dengan jumlah upah yang akan diterima jika penyelundupan tersebut berhasil,” kata Kapolres.

Namun, Eko Hartanto, mengatakan para tersangka kasus sabu itu adalah jaringan internasional. Atas perbuatannya, para tersangka dijerat dengan Pasal 114 ayat (2) jo Pasal 112 ayat (2) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman maksimal hukuman mati dan denda 10 miliar rupiah.

Kita menghargai polisi yang sudah menangkap empat tersangka penyelundup narkoba serta menyita barang buktinya yang lumayan banyak. Namun, kita juga berharap polisi bisa terus mengembangkan kasus itu sehingga terungkap siapa pimpinan jaringan narkoba itu. Yang lebih penting lagi, sabu-sabu itu berasal dari negara mana dan bagaimana caranya bisa tiba di pantai Lhokseumawe.

Kita memang tidak heran atas tertangkapnya penyelundup sabu-sabu itu. Sebab, berdasarkan data Polri 2018-2021, situasi pandemi Covid-19 tidak berpengaruh terhadap aktivitas sindikat peredaran gelap narkoba internasional untuk menyelundupkan narkotika, psikotropika, dan obat terlarang masuk ke Indonesia. Menurut BNN 80 persen penyelundupan narkoba menggunakan jalur laut.

Pejabat Bareskrim Polri malah mengatakan telah terjadi peningkatan yang cukup tajam pada tren penyitaan sabu dalam dua tahun terakhir. Dalam periode 2019 hingga 2020 saja, terjadi kenaikan sebesar 131 persen pada jumlah sabu yang disita polisi dari 2,9 ton pada tahun 2019 menjadi 6,7 ton pada tahun 2020. Lalu, sampai semester pertama tahun 2021, Polri sudah menyita 7,1 ton sabu.

Barang-barang haram yang masuk ke Indonesia itu berasal dari beberapa negara pemasok. Antara lain Myanmar dan Afghanistan menjadi pemasok terbesar methamphetamine (sabu), sedangkan Pakistan dan Iran berkontribusi dalam menyelundupkan heroin.

Para pemasok menggunakan berbagai macam modus untuk menyelundupkan barang haram tersebut di antaranya dengan memindahkan muatan yang berisi narkoba dari kapal induk ke kapal nelayan sindikat lokal di tengah laut. Para pemasok juga menggunakan modus lain seperti dengan mengirimkan narkoba melalui teh kemasan, kotak plastik kemasan maupun penyisipan dalam komoditi ekspor makanan.

Seperti sudah sering kita sorot bahwa kondisi geografis Indonesia yang mayoritas berupa lautan dimanfaatkan sebagai jalur favorit bagi para sindikat dalam melakukan penyelundupan narkoba dari luar negeri. Di sisi lain, negeri masih sangat kekurangan petugas pengawas pantai sehingga semakin memperlebar peluang bagi mafia penyelundupan narkoba terutama melalui pantai-pantai perairan Aceh, Riau, dan Kepulauan Riau. Aparat keamanan kita memang sudah sangat paham betul kondisi ini, tapi tetap saja masih sering kecolongan. Nah?!

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved