Selasa, 12 Mei 2026

Aceh Belum Miliki Pabrik Minyak Goreng

Wakil Ketua Kadin Aceh, H Ramli berharap, Pemerintah Aceh, bersama dinas teknis dan PT PEMA perlu merealisasikan pembangunan pabrik

Tayang:
Editor: bakri
SERAMBINEWS.COM/HERIANTO
Pedagang minyak goreng curah di Pasar Induk Lambaro, Aceh Besar, membuka drum minyak yang mau diisi minyak goreng curah yang baru tiba dari Medan, Rabu (24/2/2021). 

* Areal Sawit Capai 400 Ribu Hektare

BANDA ACEH - Wakil Ketua Kadin Aceh, H Ramli berharap, Pemerintah Aceh, bersama dinas teknis dan PT PEMA perlu merealisasikan pembangunan pabrik minyak goreng di Tanah Rencong.

Mengingat Aceh memiliki banyak pabrik CPO serta lahan tanaman sawit yang luas.

Dikatakan, saat ini Aceh memiliki sekitar 55 unit pabrik CPO dan luas areal kebun sawit sekitar 200.000-400.000 hektare.

Baca juga: Ironis, Pabrik CPO Relatif Banyak, Aceh tak Punya Satu pun Pabrik Minyak Goreng

Baca juga: Pemerintah Pusat Akan Dorong Hadirnya Industri Refinery di Aceh, Salah Satunya Pabrik Minyak Goreng

Namun, belum ada satu pengusaha pabrik CPO yang ingin membangun pabrik minyak goreng di Aceh.

“Saya sudah sering menanyakan kepada pengusaha CPO di Aceh soal keinginan mereka membangun pabrik minyak goreng

Namun ada aja alasan-alasan yang diberikan,” kata pedagang grosir bahan pokok itu, Senin (6/12/2021).

Padahal, kata Ramli, ketersediaan bahan baku di Aceh sudah melebihi.

Dimana saat ini ada 55 pabrik CPO dan luas areal yang sangat mendukung.

Dia sendiri gak mengerti apakah hal itu belum mampu memenuhi kebutuhan bahan baku untuk minyak goreng.

Akibat tak memiliki pabrik minyak goreng surah, kata Ramli

 Aceh tidak bisa berbuat banyak ketiga harga minyak goreng melambung tinggi, seperti sekarang.

Hal ini berdampak pada perekonomian masyarakat, terutama para pedagang.

Dikatakan Ramli, naiknya harga minyak goreng curah saat ini imbas dari meroketnya harga TBS sawit dan CPO.

Harga TBS sawit di Aceh saat ini paling rendah ditingkat petani Rp 2.700-Rp 3.100/kg.

Sedangkan harga CPO di Sumut dan Riau Rp 14.750-Rp 15.850/kg.

Dampak dari kenaikan TBS sawit dan CPO itu, mendorong harga minyak gporeng curah melaambung

Dari yang sebelumnya hanya Rp 13.000-Rp 15.000/kg, menjadi Rp 17.500-Rp 18.500/kg di tingkat grosir.

Sedangkan di tingkat eceran harganya mencapai Rp 20.000/kg.

Sementara Pedagang grosir minyak goreng di Pasar Induk Lambaro, Aceh Besar, Aldy Safrullah menyatakan, harga tebus minyak goreng curah kelapa sawit

Seperti sulit untuk turun lagi, karena harga TBS sawit dan CPO masih tetap tinggi.

Menjelang akhir tahun 2021 dan memasuki tahun baru 2022, kata Aldy, berbagai jenis kebutuhan pokok, terus bergerak naik.

Pada bulan lalu, setelah minyak goreng naik, disusul telur ayam ras, gula pasir dan kacang kedelai.

Pada minggu kedua Desember ini, giliran harga tepung terigu cap segi tiga biru naik, dari Rp 198.000 naik menjadi Rp 203.000/sak (25 kg).

Tepung terigu cap payung sudah naik dua minggu lalu dari Rp 167.000 menjadi Rp 172.000/sak dan tepung terigu cap cakra naik dari Rp 210.000 menjadi Rp 215.000/sak (25 Kg).

Kacang kedelai harganya masih bertahan Rp 550.000/sak (50 kg), gula pasir di harga Rp 610.000-Rp 615.000/sak (50 kg)

Telur ayam ras bertahan pada Rp 385.000/ikat (300 butir)

Beras ketan Rp 320.000/sak (25 kg), tepung ketan Rp 190.000/kotak (20 bungkus), tepung beras Rp 110.000/kotak (20 bungkus).(her)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved