Breaking News

Internasional

Istri Jamal Khashoggi Ditangkap, Telepon Diretas Sebelum Pembunuhan di Istanbul Tanpa Bekas

Pramugari Emirates Hanan Elatr, istri Jamal Khashoggi sempat disekap selama beberapa hari. Elatr harus menyerahkan dua ponsel Android, laptop

Editor: M Nur Pakar
The Washington Post
Hanan Elatr, istri Jamal Khashoggi yang dibunuh di Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki. 

SERAMBINEWS.COM, WASHINGTON - Pramugari Emirates Hanan Elatr, istri Jamal Khashoggi sempat disekap selama beberapa hari.

Elatr harus menyerahkan dua ponsel Android, laptop, dan kata sandinya saat petugas keamanan mengepungnya di bandara Dubai, Uni Emirat Arab (UEA).

Mereka mengantarnya dengan mata tertutup dan diborgol ke sel interogasi di pinggir kota, katanya, seperti dilansir The Washington Post, Selasa (21/12/2021).

Di sana, dia diinterogasi sepanjang malam dan pagi hari tentang jurnalis Arab Saudi Jamal Khashoggi.

Keesokan harinya, pukul 10:14 pada 22 April 2018, saat perangkatnya masih dalam tahanan resmi, seseorang membuka browser Chrome di salah satu Android miliknya.

Mereka menulis alamat situs web "https://myfiles[.]photos/1gGrRcCMO", pada keyboard ponsel.

Menekan acak tombol kecil, membuat dua kesalahan ketik, kemudian menekan "go", menurut analisis forensik baru, pakar keamanan siber Bill Marczak dari Citizen Lab.

Prosesnya memakan waktu 72 detik.

Jurnalis Arab Saudi, Jamal Khashoggi.
Jurnalis Arab Saudi, Jamal Khashoggi. ((AFP/MOHAMMED AL-SHAIKH))

Baca juga: Penangkapan Seorang Pria di Bandara Prancis Tidak Terkait Pembunuhan Jamal Khashoggi

Situs web tersebut mengirimkan paket spyware yang kuat kepada telepon, yang dikenal sebagai Pegasus, menurut analisis baru.

Selama 40 detik berikutnya, ponsel mengirim 27 laporan status dari browser webnya ke server situs web, memperbarui kemajuan yang dibuatnya dalam menginstal spyware.

Spyware telah dikembangkan oleh sebuah perusahaan Israel, NSO Group.

Biasa digunakan untuk melawan teroris dan penjahat.

Situs web itu dikonfigurasi oleh NSO untuk pelanggan Uni Emirat Arab, kata Marczak.

Kelompok penelitiannya berbasis di Universitas Toronto dan dikhususkan untuk mengungkap spionase siber.

Analisis baru memberikan indikasi pertama.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved