Kamis, 30 April 2026

Internasional

Pengadilan AS Hukum Seorang Profesor Harvard, Dituduh Buka Hubungan Rahasia dengan China

Pengadilan Amerika Serikat (AS) menghukum seorang profesor Universitas Harvard. Dia dituduh menyembunyikan hubungan rahasia dengan China atas program

Tayang:
Editor: M Nur Pakar
AP/Charles Krupa/File
Profesor Charles Lieber dari Universitas Harvard meninggalkan pengadilan federal, di Boston pada 30 Januari 2020. 

SERAMBINEWS.COM, BOSTON - Pengadilan Amerika Serikat (AS) menghukum seorang profesor Universitas Harvard.

Dia dituduh menyembunyikan hubungan rahasia dengan China atas program rekrutmen yang dikelola Beijing.

Dia dinyatakan bersalah pada semua hal dalam sidang yang digelar pada Selasa (21/12/2021).

Charles Lieber (62) mantan Ketua Departemen Kimia dan Biologi Kimia Harvard telah mengaku tidak bersalah atas dua tuduhan mengajukan pengembalian pajak palsu.

Dimana, terdapat dua tuduhan membuat pernyataan palsu, dan dua tuduhan gagal mengajukan laporan untuk rekening bank asing di Tiongkok.

Juri berunding selama sekitar dua jam dan 45 menit sebelum mengumumkan putusan atas lima hari kesaksian di pengadilan federal Boston.

Baca juga: Artis Mikha Tambayong Kini Bergelar Magister dari Harvard, Bagikan Potret Kelulusan di Instagram

Dilansir AP, Rabu (22/12/2021), pengacara pembela Lieber, Marc Mukasey, berpendapat jaksa tidak memiliki bukti atas tuduhan tersebut.

Dia menyatakan penyelidik tidak menyimpan catatan wawancara mereka dengan Lieber sebelum penangkapannya.

Dia berpendapat jaksa tidak akan dapat membuktikan Lieber bertindak dengan sadar, sengaja, atau membuat pernyataan palsu.

Mukasey juga menekankan Lieber tidak didakwa secara ilegal mentransfer teknologi atau informasi hak milik ke China.

Jaksa berargumen Lieber, yang ditangkap pada Januari 2020 dengan sengaja menyembunyikan keterlibatannya dalam Rencana Seribu Talenta China.

Sebuah program yang dirancang untuk merekrut orang-orang dengan pengetahuan teknologi asing dan kekayaan intelektual ke China.

Lieber membantah keterlibatannya selama penyelidikan dari pihak berwenang AS, termasuk National Institutes of Health.

Dimana, telah memberinya dana penelitian jutaan dolar AS, kata jaksa.

Baca juga: Amerika Serikat Siapkan Anggaran Rp 4,5 Triliun, Bantuan Vaksin Covid-19 ke Negara Lain

Lieber juga menyembunyikan pendapatannya dari program China.

Termasuk $50.000 per bulan dari Universitas Teknologi Wuhan, hingga $158.000 untuk biaya hidup dan lebih dari $1,5 juta dalam bentuk hibah, menurut jaksa.

Sebagai gantinya, kata mereka, Lieber setuju menerbitkan artikel, menyelenggarakan konferensi internasional dan mengajukan hak paten atas nama universitas China.

Kasus ini menjadi salah satu profil tertinggi yang datang dari Departemen Kehakiman AS yang disebut "Inisiatif China."

Upaya yang diluncurkan pada 2018 untuk mengekang spionase ekonomi dari China telah menghadapi kritik.

Karena merugikan penelitian akademis dan sama dengan profil rasial para peneliti China.

Ratusan anggota fakultas di Stanford, Yale, Berkeley, Princeton, Temple dan perguruan tinggi terkemuka lainnya.

Mereka menandatangani surat kepada Jaksa Agung AS, Merrick Garland yang memintanya untuk mengakhiri inisiatif tersebut.

Para akademisi mengatakan upaya membahayakan daya saing bangsa dalam penelitian dan teknologi.

Baca juga: Inggris Segera Ekstradisi Julian Assange ke Amerika Serikat, Dituduh Membocorkan Rahasia Militer

Bahkan, memiliki efek mengerikan pada perekrutan sarjana asing.

Surat-surat itu juga mengeluhkan investigasi yang secara tidak proporsional menargetkan peneliti asal China.

Lieber telah mengambil cuti administratif berbayar dari Harvard sejak ditangkap pada Januari 2020.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved