Kamis, 28 Mei 2026

Jurnalisme warga

Membangun Masyarakat Siaga Bencana dan Tangguh Bersama

Bencana alam secara sains atau ilmu pengetahuan dipahami sebagai fenomena alam yang terus terjadi

Tayang:
Editor: hasyim

Hari Ahad  pagi, 26 Desember 2004, mentari bersinar seperti biasa menyapa penghuni Bumi. Pagi itu, tepatnya pukul 07:58’:53”, saat masyarakat Aceh sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, tiba-tiba dikejutkan oleh getaran bumi yang dahsyat.

Gempa 9,1 SR, versi lain menyebutkan 9,3 SR, menimbulkan kepanikan di mana-mana. Sesaat kemudian alam pun memberikan isyarat ganjil; air laut mendadak surut, ikan menggelepar, perahu nelayan yang sandar tiba-tiba kandas, burung camar, burung bangau putih terbang menuju daratan dalam kepanikan. 

Namun, sebagian kita tidak pandai membaca tanda-tanda alam (sasmita) seperti saudara-saudara kita di Pulau Simeulue. Mereka hampir semua selamat dari hantaman gelombang pasang tsunami karena kearifan lokal  “smong”.

Kisah tsunami yang melanda dan menghancurkan Simeulue pada Januari 1907 tersampaikan melalui penuturan kearifan lokal di masyarakat yang dinamakan “nafi-nafi”, sehingga 97 tahun kemudian ketika tsunami menerjang Simeulue masyarakatnya telah siaga bencana.

Korban harta benda tak terelakkan, tapi korban manusia akibat tsunami hanya tiga orang. Sedangkan di daratan Aceh, ribuan orang meregang nyawa.  

Gelombang dahsyat “tsunami”, gelombang maut yang menakutkan, kecepatan gelombangnya dari pusat gempa sekitar 700 km per jam. Ini setara dengan kecepatan pesawat jet antarbenua.

Tsunami datang semakin mendekati daratan semakin tinggi menggunung ibarat “karpet yang digulung”. Jeritan kesakitan, kematian menggema, takbir, tasbih, dan tahlil menyertai kepergian sebagian syuhada tsunami.

Hanya dalam hitungan menit, ratusan ribu mayat bergelimpangan, ribuan anak-anak jadi yatim piatu, ribuan perempuan jadi janda, ribuan bangunan kebanggaan manusia hancur berkeping, kecuali sebagian besar rumah tempat manusia sujud masih berdiri kokoh dan tegar. Itulah masjid, “rumah Allah”, seakan memberikan pesan dari langit.

Tsunami tak hanya menghancurkan Aceh, gelombang maut ini terus merayap ke utara menghantam Andaman, memorakporandakan Pukhet di Thailand,  kemudian merangsek ke Sri Lanka dan India.

Tujuh jam kemudian, tsunami menerjang pantai timur Afrika, yaitu Somalia, Madagaskar, dan Tanzania. Korban manusia berjatuhan di mana-mana, yang terbesar di Aceh  mencapai 126 ribu jiwa, di Sri Lanka 45 ribu jiwa, di Andaman dan Nikobar 12 ribu jiwa, di Thailand 4.500 jiwa.

Begitu dahsyatnya tsunami. Menurut PBB, korban akibat tsunami keseluruhannya adalah 229.826 orang hilang dan 186.983 meninggal.  Kerugian material, menurut Bappenas, Rp 41,4 triliun atau sekitar 2,7% dari kegiatan ekonomi nasional tahun itu.

Tsunami 26 Desember 2004 tidak hanya menimbulkan duka yang mendalam bagi Aceh dan Indonesia, tapi dunia pun ikut menangis dan turut berduka.

Maka, kita telah menyaksikan solidaritas dunia tertuju ke Aceh. Tsunami mempersatukan umat manusia dan telah meruntuhkan sekat-sekat geografis, kesukuan, kebangsaan, ras, warna kulit, dan agama.

Kini, 17 tahun sudah tsunami berlalu. Anak-anak kita yang kini berusia 17 tahun mereka tak tahu tentang tsunami Aceh karena saat itu baru lahir.

Anak-anak kita yang kini mahasiswa sebagian besar mereka juga tak ingat tsunami, karena masih balita, bahkan mungkin di antara mereka ada yang sempat hanyut bersama air, hilang dari lingkungan keluarganya, dan berbagai hal lain yang memilukan terjadi dalam suasana panik dan menegangkan 17 tahun lalu.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved