Jurnalisme warga
Membangun Masyarakat Siaga Bencana dan Tangguh Bersama
Bencana alam secara sains atau ilmu pengetahuan dipahami sebagai fenomena alam yang terus terjadi
Kita yang menjadi saksi dahsyatnya tsunami perlahan sudah mulai berkurang dan menghilang seiring dengan usia dan kematian. Lama-kelamaan saksi sejarah tsunami akan tidak ada lagi.
Apakah kisah tsunami Aceh juga akan hilang seiring dengan lenyapnya generasi penyintas tsunami Aceh? Tentu tidak, karena kita tidak ingin anak cucu kita melupakan sejarah.
Justru, dengan sejarah tsunami ini kita ingin membangun mereka menjadi masyarakat yang siaga bencana sehingga terbangun masyarakat yang tangguh terhadap bencana.
Aceh sebagai wilayah yang memiliki potensi bencana alam sekaligus potensi sumber daya alam hendaknya mampu menatap masa depan yang lebih optimis dengan memanfaatkan secara tepat sumber daya alamnya untuk melindungi masyarakatnya dari ancaman bencana alam ke depan.
Pemukiman kembali masyarakat di sekitar pantai harus ditata kembali. Tempat-tempat evakuasi penyelamatan (escape building) disiapkan secara baik agar fungsional dan bermanfaat, tidak seperti yang kita saksikan saat ini: nyaris tidak terurus. Demikian juga akses jalan-jalan yang dapat menuntun ke tempat yang aman harus disiapkan.
Permukiman yang wilayah daratan pantainya sempit karena langsung berbatasan dengan bukit, maka perlu disiapkan akses jalan ke bukit (escape hill) untuk evakuasi bila tsunami kembali datang.
Demikian juga kesiapan penanganan pascabencana harus juga menjadi prioritas, seperti sumber daya manusia terampil yang menangani korban bencana, peralatan medis yang cukup, dan stok logistik yang selalu siap menghadapi bencana.
Yang lebih penting dari itu semua adalah menjadikan masyarakat Aceh sadar betul bahwa kita hidup bersama bencana dan harus selalu siaga bencana dan membangun ketangguhan bersama.