Kamis, 11 Juni 2026

Berita Lhokseumawe

Setelah Tiga Bulan Mengikuti Fellowship Jurnalisme Pendidikan, GWPP Lepas Peserta Angkatan III

FJP ke-3 yang diadakan GWPP dan PT Paragon Technology and Innovation, diikuti 15 jurnalis terpilih dari Aceh hingga Nusa Tenggara Barat.

Tayang:
Penulis: Jafaruddin | Editor: Taufik Hidayat
Dok GWPP
Peserta Program Fellowship Jurnalisme Pendidikan (FJP) angkatan III mengikuti pelepasan yang diadakan GWPP, Depok secara virtual. 

Laporan Jafaruddin | Lhokseumawe 

SERAMBINEWS.COM, LHOKSEUMAWE – Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) Depok, pada Kamis (30/12/2021) mengadakan pelepasan peserta yang sudah mengikuti program Fellowship Jurnalisme Pendidikan (FJP) angkatan III melalui Zoom Meeting. 

Untuk diketahui,FJP ke-3 yang diadakan GWPP dan PT Paragon Technology and Innovation, diikuti 15 jurnalis terpilih dari Aceh (Serambi Indonesia), sampai Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Sulawesi, Kalimantan dimulai pada 22 September 2021. 

Peserta kegiatan tersebut didampingi empat mentor yang terdiri Mohammad Nasir (Wartawan Senior Kompas 1989-2018), Frans Surdiasis (Kepala Litbang The Jakarta Post), Haryo Prasetyo (Wartawan Senior Media Indonesia), dan Nurcholis Basyari, yang juga Direktur GWPP. 

Pelepasan peserta FJP III itu juga dihadiri Chief Executive Officer (CEO), PT Paragon Technology and Innovation Salman Subakat bersama jajarannya, kemudian juga dihadiri Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kemendikbud Ristek Prof Ir Nizam MSc. 

Kemudian juga peserta atau alumni FJP angkatan I dan II, kemudian Pemimpin Redaksi dari media peserta, serta narasumber. 

“Alhamdulillah, atas berkat Rahmat-Nya, kita dapat bersilaturahmi virtual menghadiri acara augurasi dan pelepasan peserta program Fellowship Jurnalisme Pendidikan (FJP) Angkatan III,” ujar Direktur GWPP Nurcholis MA Basyari saat menyampaikan sambutan. 

Menurut Nurcholis, GWPP mengusung misi “mengarusutamakan isu-isu pendidikan dalam liputan dan pemberitaan media.” 

Gerakan ini lahir atas dasar kesadaran konstitusional betapa penting dan strategisnya pendidikan sebagai salah satu soko guru utama mewujudkan cita-cita luhur “memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa” Para Pendiri Republik tercinta ini. 

Baca juga: Ramai Diperbincangkan, Ini Daya Tarik Metaverse yang Bikin Banyak Orang Rela Investasi Besar-besaran

Baca juga: Razman Nasution Marah Dengar Ucapan Richard Lee hingga Ancam Somasi : Bahasamu yang Santun!

Bahkan tidaklah berlebihan kata Nurcholis, jika dikatakan bangunan Indonesia sebagai satu bangsa dan negara adalah buah pendidikan anak-anak bangsanya.

“Kita sama-sama saksikan pula kemajuan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di negara-negara maju di belahan bumi manapun berkaitan dengan kemajuan sektor pendidikan dan tingkat edukasi warganya,” ujar Nurcholis yang juga mentor GWPP.

Di sisi lain, kata Nurcholis, secara historis, pers dan Indonesia bagaikan dua sisi mata uang dari satu koin yang sama dalam dinamika sejarah eksistensi Indonesia sebagai bangsa dan negara. 

Baik semasa perjuangan prakemerdekaan, kemerdekaan maupun setiap era atau orde pascakemerdekaan. Maka, muncullah positioning pers Indonesia sebagai pers perjuangan. 

Pers yang turut aktif mendorong dan menggelorakan perjuangan kemerdekaan pada masa penjajahan dan memperjuangkan hak-hak publik sebagaimana diamanatkan konstitusi, termasuk hak mendapatkan pendidikan. 

“Sayangnya, disadari atau tidak, kita dihadapkan pada realitas yang mengisyaratkan isu-isu pendidikan kalah pamor dan kurang seksi di mata media jurnalistik atau pers,” ujar mahasiswa S3 Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Fikom Unpad) Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, 

Bahkan media-media dari kelompok besar pun belum memiliki rubrik/halaman/kanal khusus pendidikan. Liputan isu-isu pendidikan ditangani oleh desk atau tim redaksi yang juga menangani isu-isu lain. 

Baca juga: Meski Skuad Garuda Kalah Telak pada Leg Pertama, Legenda Timnas Indonesia Puji Shin Tae-yong

Baca juga: Kapal Rohingya Bergerak  ke Timur

Pemberitaan atau publikasi hasil liputan bidang pendidikan pun diwadahi dalam satu rubrik/halaman/kanal yang memuat bidang atau isu-isu lainnya, seperti Nasional, Humaniora, dan rubrikasi lainnya. 

Tidak jarang, menurut wartawan senior tersebut, isu-isu pendidikan kalah bersaing dalam mendapatkan prioritas liputan dan pemberitaan. Wartawan pendidikan pun tergolong “langka” dan kalah gengsi dengan wartawan politik, olahraga, ekonomi, hiburan/lifestyle, kriminal, misalnya. 

Berangkat dari kondisi seperti itulah GWPP -atas dukungan personal dan institusional Chief Salman Subakat- menginisiasi program Fellowship Jurnalisme Pendidikan (FJP). 

“Alhamdulillah, program Fellowship Jurnalisme Pendidikan ini telah sukses terselenggara sebanyak tiga angkatan dan Insyaa Allah akan dilanjutkan angkatan berikutnya,” kata ayah empat putra tersebut.

Disebutkan, durasi program FJP GWPP perangkatan berlangsung selama tiga bulan, masing-masing diikuti 15 wartawan dari 15 media dari berbagai daerah di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Maluku.

FJP Batch I dan II telah berlangsung secara berkelanjutan pada kurun Januari-Agustus 2021. Adapun FJP Batch III berlangsung pada 20 September – 22 Desember 2021. 

Kegiatan FJP GWPP mencakup tiga aspek, yakni pelatihan, praktik, dan pendampingan (dalam bentuk coaching dan mentoring) dari lima wartawan senior yang punya reputasi dan pengalaman jurnalistik panjang di media-media terkemuka, nasional maupun internasional. 

Kegiatan pelatihan dan pendampingan dilaksanakan secara intensif via daring. “Adapun praktik liputan dan penulisan artikel dilakukan secara hybrid, kombinasi offline-online atau luring dan daring,” ungkap asesor Uji Kompetensi Wartawan (UKW) dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusa

Materi pelatihan lanjut mantan wartawan Media Indonesia, mencakup pengetahuan dan keterampilan jurnalistik, termasuk aspek etika dan hukum pers. Selain itu, para peserta juga mendapatkan pengayaan materi nonjurnalistik terkait dengan pendidikan dan kebangsaan.

Totalnya kata jebolan Universitas Indonesia, ada 13 sesi pelatihan jurnalistik dan 14 sesi pengayaan materi nonjurnalistik selama berlangsungnya program FJP Batch III. 

 Total narasumber yang dihadirkan mencapai 27 orang dari kalangan praktisi media, guru, dosen, mahasiswa/mahasiswi, pelajar, aktivis/komunitas penggerak pendidikan, pengelola lembaga pendidikan, pejabat bidang pendidikan, dan pemangku kepentingan terkait pendidikan. 

Program FJP GWPP dirancang sedemikian rupa agar memungkinkan semua peserta dapat mengikuti seluruh sesi pelatihan dan melaksanakan tugas-tugas liputan yang diberikan para mentor tanpa harus cuti atau meninggalkan tugas sehari-hari sebagai wartawan. 

Program yang kami rancang justru mendorong para peserta tetap aktif bekerja dan produktif menghasilkan karya-karya jurnalistik untuk media masing-masing.  

Selama September - Desember 2021, total karya jurnalistik yang ditulis para peserta mencapai 546 artikel. Jika dirata-rata, per peserta menghasilkan lebih dari 36 artikel (tiga artikel per pekan) tentang pendidikan, termasuk feature, profil tokoh atau lembaga, dan laporan berkedalaman atau indepth reporting.

Artikel itu ditulis dan dipublikasikan, baik sebagai hasil penugasan liputan mandiri maupun liputan bersama. Khusus untuk liputan bersama, tema yang diangkat ialah Merdeka Belajar Kampus Merdeka.

“Sebelum laporan ini saya tutup, perkenankan kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang berkontribusi terhadap suksesnya penyelenggaraan FJP GWPP ini,” kata Mantan Kepala Biro Harian Media Indonesia Padang, Sumatera Barat.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved