Sabtu, 2 Mei 2026

Alasan Mengapa Beberapa Orang Lemah dalam Matematika, Ada Kaitannya dengan Trauma, Ini Penjelasannya

faktor mengapa seseorang bisa buruk dalam hitung-hitungan karena adanya trauma yang biasa disebut trauma matematika.

Tayang:
Penulis: Yeni Hardika | Editor: Safriadi Syahbuddin
PIXABAY
ilustrasi rumus matematika 

SERAMBINEWS.COM - Melakukan hitungan matematika mungkin mudah bagi sebagian orang.

Bagi mereka yang dianggap mampu dalam bidang ini, hitungan matematika dalam bentuk apapun bisa diselesaikan, meski tanpa alat bantu.

Tapi disamping itu, ada juga beberapa diantaranya yang mungkin mengalami kesulitan saat memecahkan soal hitung-hitungan tersebut.

Walaupun yang dikerjakan hanya hitungan dalam digit sederhana.

Bahkan tak sedikit dari mereka yang mengaku buruk jika dihadapkan dengan hitung-menghitung angka, alias lemah dalam matematika.

Lantas, apa yang menyebabkan sebagian orang lemah dalam matematika?

Apakah kelemahan dalam bidang ini ada kaitannya dengan faktor genetik?

Baca juga: Bantu Siswa Belajar Matematika dan Bahasa Inggris, Korea Utara Andalkan Robot Guru

Baca juga: Al Khawarizmi, Ilmuan Muslim Yang Bawa Pengaruh Besar Bidang Matematika, Pelopor Algoritma & Angka 0

Tak ada kaitannya dengan genetik

Melansir Kompas.com dari The Conversation, faktor mengapa seseorang bisa buruk dalam hitung-hitungan karena adanya trauma yang biasa disebut trauma matematika.

Kemampuan dan ketidakmampuan seseorang dalam soal hitung-hitungan atau matematika juga sebenarnya tak berkaitan sama sekali dengan gender, ras, atau bahkan status ekonomi.

Alasan mengapa bidang ini sangat tidak terkait dengan genetika karena mengingat matematika belum begitu lama menjadi bagian dari kehidupan manusia.

Mengutip dari laman Big Think, insting matematika pada masing-masing orang baru diterapkan dan dikenalkan ketika seorang anak mulai memasuki jenjang sekolah.

Seperti dengan menghitung gambar apel atau gambar berbagai binatang. Inting awal inilah yang akhirnya berguna ketika nantinya seseorang menjadi dewasa dan menyelesaikan soal-soal geometri, aritmatika, dan lain sebagainya.

Nah, perkembangan akan insting ini berkaitan erat dengan pola pembelajaran orang tua di rumah.

Beberapa anak sudah dibekali orang tuanya insting berhitung sederhana sebelum memasuki jenjang Paud, sedangkan beberapa lainnya baru mengenal angka setelah memasuki pintu Paud.

Baca juga: Hukum Matematika dan Matematika Hukum  

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved