Jumat, 24 April 2026

Berita Luar Negeri

Siprus Temukan 25 Kasus Varian Deltacron,Gabungan Varian Delta dan Omicron

Para ilmuwan di Siprus telah mengidentifikasi 25 pasien terinfeksi varian “Deltacron”, varian Covid yang menggabungkan varian Delta

Editor: bakri
(*)
Grafik lonjakan kasus virus Corona akibat Omicron. 

NICOSIA - Para ilmuwan di Siprus telah mengidentifikasi 25 pasien terinfeksi varian “Deltacron”, varian Covid yang menggabungkan varian Delta dan Omicron.

Leonidos Kostrikis, profesor ilmu biologi di Universitas Siprus, mengatakan varian “Deltacron” memiliki struktur genetik yang mirip varian Omicron dengan genom Delta.

Timnya telah mengidentifikasi 25 kasus varian hibrida sejauh ini dan masih terlalu dini untuk menilai dampaknya, menurut laporan Bloomberg.

Dari yang teridentifikasi, 11 di antaranya adalah pasien yang sudah dirawat di rumah sakit dengan Covid-19, dan 14 di antaranya adalah masyarakat umum.

“Kita akan melihat selanjutnya jika jenis ini lebih patologis atau lebih menular atau jika itu mulai dominan,” ujar Kostrikis melansir Daily Mail pada Minggu (9/1/2022).

Baca juga: Menkes Minta Masyarakat Bersiap Menghadapi Gelombang Omicron

Para ilmuwan telah mengirimkan temuan mereka ke GISAID, database internasional yang melacak virus.

Infeksi Covid biasanya hanya melibatkan satu strain mutan, tetapi dalam kasus yang sangat jarang, dua varian dapat menyerang pada saat yang bersamaan.

Jika ini juga menginfeksi sel yang sama, mereka mungkin dapat bertukar DNA dan bergabung untuk membuat varian baru virus corona.

Bulan lalu, pemimpin Moderna memperingatkan tentang mutan hibrida yang dia khawatirkan akan lebih buruk daripada yang saat ini melanda seluruh dunia.

Dr Paul Burton, Pemimpin perusahaan medis pembuat vaksin itu, memperingatkan tingginya jumlah Delta dan Omicron membuat kombinasi itu mungkin terjadi.

Baca juga: China Uji 14 Juta Penduduk Tianjin, Usai Penemuan Dua Kasus Varian Omicron

Baca juga: Kasus Omicron Meningkat, Puan Minta Pemerintah Siapkan Skenario Terburuk

Dia mengatakan kepada anggota parlemen di Komite Sains dan Teknologi, bahwa 'pasti' mungkin virus dapat bertukar gen dan memicu varian yang lebih berbahaya.

Para peneliti telah memperingatkan bahwa peristiwa-peristiwa ini, yang secara ilmiah disebut 'peristiwa rekombinasi', mungkin terjadi.

Tetapi, itu memerlukan kondisi yang sangat spesifik dan kebetulan dari sebagian besar peristiwa yang tidak dapat dikendalikan.

Hanya tiga varian Covid, yang dibuat oleh virus yang bertukar gen yang sebelumnya telah dicatat.

Virus tersebut sebagian besar mengandalkan mutasi acak untuk membuat lebih banyak varian.

Varian baru tidak muncul selama dua bulan ketika varian Delta mengalahkan varian Alpha melalui metode ini.

Dalam satu kasus, peristiwa rekombinasi terjadi di Inggris ketika varian Alpha bergabung dengan B.1.177, yang pertama kali muncul di Spanyol, pada akhir Januari 2021.

Itu menyebabkan 44 kasus sebelum akhirnya menghilang.

Para ilmuwan di California mengatakan mereka telah mengidentifikasi varian rekombinasi lain pada Februari tahun lalu, dengan galur Kent bergabung dengan B.1.429 yang pertama kali terlihat di daerah tersebut.

Strain baru ini juga menyebabkan sangat sedikit kasus, dan dengan cepat menghilang.(kompas.com)

Baca juga: Perempuan Dilarang Kunjungi Makam Nabi Muhammad, Kasus Omicron Terbanyak Datang dari Arab Saudi

Baca juga: Jokowi Minta WNI Tak Keluar Negeri, Kasus Omicron Meningkat Jadi 414 Orang

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved