Puncak Kasus Omicron 35 Hingga 65 Hari, Diprediksi Terjadi Februari Hingga Awal Maret
Tak lupa Luhut meminta masyarakat untuk kompak dan bersiap menghadapi hal-hal yang kemungkinan terjadi di periode tersebut.
SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyampaikan prediksi mengenai puncak kasus Covid-19 varian Omicron di Indonesia.
Prediksi itu didasarkan pada keadaan penularan varian Omicron di beberapa negara, di mana kasus akan mencapai puncaknya pada 35-65 hari sejak awal lonjakan.
"Beberapa negara sudah mengalami puncak kasus omicron dan puncak tersebut dicapai secara cepat dan tinggi. Waktunya berkisar 35-65 hari," kata Budi dalam keterangan pers yang disampaikan secara virtual, Minggu (16/1/2022).
Budi kemudian membandingkan kenaikan kasus Omicron dengan yang terjadi di Tanah Air.
"Indonesia pertama kali kita teridentifikasi (Omicron) pertengahan Desember, tapi kasus kita mulai naik awal Januari. Nah, antara 35-65 hari akan terjadi kenaikan cukup cepat dan tinggi," imbuhnya.
Baca juga: Capaian Vaksinasi Jangka Bireuen Sudah 76,5 Persen
Baca juga: PWNU Aceh Salurkan Bantuan ke Korban Banjir di Aceh Utara, Ini Titik-titiknya
Baca juga: Hati-hati! Lima Titik Rawan Kecelakaan di Aceh Besar, Pengguna Jalan Diminta Tingkatkan Kewaspadaan
Menambahkan keterangan Budi, Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengatakan puncak kasus Omicron diprediksi akan terjadi pada pertengahan Februari hingga awal Maret 2022.
Prediksi tersebut berdasarkan hasil pengamatan pemerintah terhadap kasus Omicron di Afrika Selatan.
"Dari hasil trajectory (Covid-19) di Afrika Selatan, puncak gelombang Omicron diperkirakan terjadi pada pertengahan Februari hingga awal Maret ini," kata Luhut.
Pemerintah kata Luhut, telah melakukan sejumlah langkah mitigasi agar peningkatan varian Omicron dapat diminimalisir. Tujuannya agar lonjakan yang terjadi tidak membebani sistem kesehatan di Indonesia. Adapun langkah mitigasi yang dilakukan pemerintah yakni percepatan vaksinasi dan penegakkan disiplin protokol kesehatan.
"Pengetatan mobilitas akan menjadi opsi terakhir untuk dilakukan," kata Luhut.
Selain itu kata Luhut, pemerintah terus memperhatikan kasus Omicron yang terjadi di negara lain.
Misalnya kasus Omicron di Inggris dan Afrika Selatan yang saat ini telah melewati puncak harian kasus. Selain itu kasus Omicron di Amerika Serikat dan Prancis yang juga mulai melandai.
Baca juga: Aktif Kembali Sebagai Bupati Bener Meriah, Abuya Sarkawi Langsung Kumpulkan Kepala SKPK di Pendopo
Baca juga: Pemerintah Aceh dan Pemkab Aceh Utara Diminta Segera Cari Solusi Penanganan Banjir
Baca juga: Tagana Buka Donasi untuk Korban Rumah Hanyut di Aceh Tamiang
Luhut menyadari cepat atau lambat peningkatan kasus Covid-19 akan terjadi di Indonesia.
"Seperti yang terjadi kemarin di mana (kasus Covid-19 baru ) telah menyentuh angka 1.054 kasus per hari. Terakhir kita mencapai angka tersebut adalah pada tanggal 11 Oktober 2021 yang lalu. Tapi sore ini, hari ini juga menurun kembali di bawah 1.000 yaitu 800 sekian," kata Luhut.
Tak lupa Luhut meminta masyarakat untuk kompak dan bersiap menghadapi hal-hal yang kemungkinan terjadi di periode tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/virus-omicron-dengan-hiv.jpg)