Minggu, 19 April 2026

Internasional

Parlemen Prancis Kecam China, Genosida Terhadap Muslim Uighur Terus Berlanjut

Parlemen Prancis, Kamis (20/1/2022) mengecam "genosida" oleh China terhadap penduduk Muslim UIghur. Kecaman itu tampaknya akan memperlemah hubungan

Editor: M Nur Pakar
AP/File
Kaum Uighur yang tinggal di Turki membawa bendera Turkestan Timur, meneriakkan slogan-slogan anti pemerintah-China di Istanbul pada 6 November 2018 atas penindasan terhadap kelompoknya di Provinsi, Xinjiang, China. 

China menyangkal genosida atau keberadaan kamp kerja paksa di Xinjiang.

Sebaliknya, China menuduh warga Uighur bersaksi di luar negeri tentang kondisi di dalam wilayah barat laut itu sebagai pembohong.

Resolusi parlemen Prancis muncul saat Uni Eropa mempertimbangkan menanggapi blokade China terhadap ekspor Lituania.

Serta penghancuran kebebasan demokratis oleh Beijing di Hong Kong.

Baca juga: Museum Holokus Yahudi di AS Kumpulkan Bukti Penindasan China Terhadap Muslim Uighur

Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang berusaha menghindari terseret ke dalam konfrontatif dengan China ditanya tentang Uighur.

"Anda benar untuk mengingatkan kami tentang pembantaian, deportasi besar-besaran, dan kerja paksa," katanya.

"Prancis mengangkat ini dengan cara yang sangat jelas dalam semua pembicaraan bilateral kami dengan Beijing," tambahnya.

Kelompok hak asasi manusia mengatakan telah menemukan bukti penahanan massal, kerja paksa, indoktrinasi politik, penyiksaan dan sterilisasi paksa di Xinjiang.

Setelah awalnya menyangkal keberadaan kamp Xinjiang, China kemudian membela sebagai pusat pelatihan kejuruan untuk mengurangi daya tarik ekstremisme Islam.

Amerika Serikat telah menjatuhkan sanksi pada daftar politisi dan perusahaan China yang terus bertambah atas perlakuan terhadap Uighur.

Tetapi, mengarah ke tindakan balas dendam dari Beijing.

Baca juga: China Serang Pernyataan 43 Negara, Buat Tuduhan Tak Berdasar dan Kebohongan Atas Muslim Uighur

China juga telah memberikan sanksi kepada anggota parlemen Eropa, Inggris dan AS.

Termasuk akademisi yang mempelajari Xinjiang dan sebuah firma hukum London.

Hanya Satu-satunya anggota parlemen Prancis yang memberikan suara menentang resolusi.

Dia Buon Tan dari LREM Macron, ketua "kelompok persahabatan" Prancis-Cina.(*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved