Berita Aceh Utara
Korban Banjir Trauma Beternak Ayam
Warga yang tinggal di kawasan rawan banjir dalam Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara menjadi trauma untuk beternak ayam
LHOKSUKON – Warga yang tinggal di kawasan rawan banjir dalam Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara menjadi trauma untuk beternak ayam dalam dua tahun terakhir ini.
Karena, ternak unggas yang dipelihara warga di kawasan itu sering mati setiap kali kawasan itu terendam banjir, seperti yang terjadi pada Kamis (17/3/2022).
Bahkan, banjir yang terjadi kali ini merupakan banjir parah yang ketujuh kali dalam tiga bulan terakhir di tahun 2022.
Malahan, dalam Maret 2022 ini sudah tiga kali kawasan itu terendam banjir.
Banjir sebelumnya terjadi pada 3 Maret dan pada 10 Maret 2022, karena meluap air dari Krueng Keureuto dan Krueng Pirak.
Gampong yang selama ini rawan terjadi banjir di Kecamatan Matangkuli yaitu Desa Lawang, Siren, Leubok Pirak, Krueng Pirak, Pante Pirak, Hagu, Alue Tho, Desa Tumpok Barat, Tanjong Haji Muda, Meuria Alue Entok, Meunasah Meuria, dan beberapa desa lainnya yang dekat Daerah Aliran Sungai (DAS).
“Saya sudah lama tidak memelihara ayam lagi dan ternak lainnya, karena selalu saja ada yang mati ketika terjadi banjir,” ungkap Keuchik Meunasah Lawang, Muhammad Gade kepada Serambi, Sabtu (19/3/2022).
Bukan hanya dirinya, sejumlah warga di kawasannya selama ini juga enggan beternak ayam karena persoalan yang sama.
Muhammad Gade mengungkapkan, beberapa waktu lalu dirinya pernah memelihara ayam dalam jumlah yang banyak, tapi satu ekor pun tidak bisa dipanen, karena satu persatu mati ketika terjadi banjir.
“Bukan hanya itu, ekses sering terjadi banjir juga menyebabkan warga tidak bisa bertani seperti menanam cabai dan tanaman lainnya,” ungkap Muhammad Gade.
Baca juga: Mualem Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir di Aceh Timur
Baca juga: Korban Banjir di Aceh Utara Mengungsi ke Meunasah, Begini Penjelasan BPBD
Ekses banjir yang terjadi pada 17 Maret 2022 lalu, juga menyebabkan padi warga yang baru disemai, kini sudah mati karena terendam banjir dan juga dibawa air banjir.
“Meskipun dalam rumah kami banjir sudah surut, tapi kawasan areal sawah masih terendam sampai hari ini,” ujar Keuchik Meunasah Lawang.
Tarmizi, warga Gampong Alue Tho kepada Serambi, menyebutkan, sebagian warga sudah dua kali melakukan penyemaian padi karena mati terendam banjir, karena dalam bulan ini saja sudah tiga kali terjadi banjir.
“Untuk itu, warga berharap perhatian pemerintah benih padi, karena untuk saat ini sangat membutuhkannya,” katanya.
Tarmizi menyebutkan, di kawasanya sekarang sudah jarang warga yang memelihara ayam jenis apapun, karena selalu merugi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/korban-banjir-acut-2802.jpg)