Jumat, 1 Mei 2026

Internasional

Menteri Luar Negeri Turki Klaim, Rusia dan Ukraina Akan Segera Mencapai Kesepakatan Damai

Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu, Minggu (20/3/2022) mengatakan Rusia dan Ukraina semakn mendekati kesepakatan damai.

Tayang:
Editor: M Nur Pakar
Fatih Akta? - Anadolu Agency
Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglul 

SERAMBINEWS.COM, ISTANBUL - Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu, Minggu (20/3/2022) mengatakan Rusia dan Ukraina semakn mendekati kesepakatan damai.

Khususya, tentang isu-isu kritis dan dia berharap gencatan senjata jika kedua belah pihak tidak mundur dari kemajuan yang dicapai sejauh ini.

Pasukan Rusia menginvasi Ukraina pada 24 Februari 2022.

Presiden Vladimir Putin menyebut tindakan Rusia sebagai operasi khusus yang dimaksudkan mendemiliterisasi Ukraina dan membersihkannya dari apa yang dilihatnya sebagai nasionalis berbahaya.

Ukraina dan Barat mengatakan Putin melancarkan perang pilihan yang agresif.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dan Dmytro Kuleba dari Ukraina bertemu di kota resor Turki Antalya awal bulan ini dengan Mevlut Cavusoglu juga hadir.

Baca juga: Vladimir Putin Telepon Presiden Turki, Sampaikan Tuntutan Rusia ke Ukraina, Syarat Perang Berakhir

Dilansir AFP, Minggu (20/3/2022), Diskusi-diskusi tersebut belum membuahkan hasil yang konkrit.

Tetapi Cavusoglu, yang juga melakukan perjalanan ke Rusia dan Ukraina pekan lalu melakukan pembicaraan dengan Lavrov dan Kuleba.

Dia mengatakan kepada harian Turki Hurriyet, telah terjadi penyesuaian posisi kedua belah pihak pada pokok-pokok penting dan kritis.

“Kami berharap untuk gencatan senjata jika semua pihak tidak mengambil langkah mundur dari posisi saat ini,” katanya, tanpa merinci masalah tersebut.

Juru bicara kepresidenan Turki Ibrahim Kalin, kepada televisi al Jazeera, mengatakan kedua pihak semakin dekat dalam empat masalah utama.

Dia mengutip permintaan Rusia agar Ukraina melepaskan ambisi untuk bergabung dengan NATO.

Baca juga: Turki akan Kirim Bantuan Kemanusiaan ke Ukraina

Kemudian, demiliterisasi, apa yang disebut Rusia sebagai “de-nazifikasi”, dan perlindungan bahasa Rusia di Ukraina.

Ukraina dan Barat telah menolak referensi Rusia untuk "neo-Nazi" untuk pemimpin Ukraina yang terpilih secara demokratis.

Ukraina sebagai propaganda tak berdasar, dan Kalin mengatakan referensi tersebut ofensif ke Kiev.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved