Kisah Desa Kesetnana di Timur Indonesia akan Dikunjungi Jokowi, Sulitnya Air Bersih, Stunting Parah

Mereka begitu gembira karena sebentar lagi desa hunian mereka yang selama ini lengang, akan sontak berubah semarak tatkala Presiden Joko Widodo akan

Penulis: Muhammad Nasir | Editor: Nur Nihayati
For Serambinews.com
Kesetnana, merupakan salah satu desa Kecamatan Mollo Selatan, Soe, Nusa Tenggara Timur. 

Mereka begitu gembira karena sebentar lagi desa hunian mereka yang selama ini lengang, akan sontak berubah semarak tatkala Presiden Joko Widodo akan berkunjung

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA – Kesetnana, merupakan salah satu desa Kecamatan Mollo Selatan, Soe, Nusa Tenggara Timur.

Desa ini memang masih memiliki banyak keterbatasan, kekurangan sumber air bersih, hingga angka stunting yang masih tinggi.

Tak heran, jika Presiden Jokowi berencana berkunjung ke desa ini.

Celoteh riang dari anak-anak di Desa Kesetnana, terlihat ramai di sore kemarin.

Mereka begitu gembira karena sebentar lagi desa hunian mereka yang selama ini lengang, akan sontak berubah semarak takkala Presiden Joko Widodo akan berkunjung ke desa mereka pada hari ini, Kamis (24/3/2022).

Tidak hanya anak-anak, Wlem Kono (36) yang beristrikan Martha Koan (28) dan sudah memiliki empat anak merasa berbunga-bunga karena akan berjumpa dengan Presiden Jokowi.

Baca juga: Bupati Lantik 301 Kepala Sekolah dan Dua Pejabat Bireuen

Dengan penghasilannya yang tidak seberapa karena hanya mengandalkan pekerjaannya dari pengemudi ojek, kunjungan Jokowi bisa jadi akan mengubah kehidupannya.

Desa Kesetnana menjadi lokasi kunjungan Presiden Joko Widodo karena termasuk desa yang beresiko stunting.

Selain warga kesulitan mendapatkan akses air bersih, faktor ekonomi dan rendahnya pendidikan menjadi potensi keawaman terhadap kesehatan. Hampir sebagian besar warga Desa Kesetnana tidak memiliki jamban yang layak.

Desa Kesetnana menjadi gambaran umum dari 278 desa yang ada di Timor Tengah Selatan yang memiliki prevalensi stunting yang tinggi.

Bahkan angka prevalensi stunting di Kabupaten Timor Tengah Selatan menurut Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021 mencapai 48,3 persen, paling tinggi di Nusa Tenggara Timur bahkan di Indonesia sekalipun.

Dipilihnya Timor Tengah Selatan pada khususnya dan Nusa Tenggara Timur pada umumnya dalam kunjungan Presiden Joko Widodo kali ini memperlihatkan “perhatian penuh” untuk penanganan persoalan angka stunting yang tinggi.

Baca juga: Selandia Baru Cabut Kebijakan Wajib Vaksin Covid-19 Mulai 4 April 2022 

Berdasarkan data SSGI 2021, NTT masih memiliki 15 kabupaten berkategori “merah”. Pengkategorian status merah tersebut berdasarkan prevalensi stuntingnya masih di atas 30 persen.

Ke-15 kabupaten tersebut adalah Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Alor, Sumba Barat Daya, Manggarai Timur, Kabupaten Kupang, Rote Ndao, Belu, Manggarai Barat, Sumba Barat, Sumba Tengah, Sabu Raijua, Manggarai, Lembata dan Malaka. Bersama Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara juga memiliki prevalensi di atas 46 persen

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved