Jumat, 17 April 2026

Konflik Rusia vs Ukraina

Hasil Perundingan Rusia dan Ukraina di Istanbul, Pertemuan Putin dan Zelensky Bakal Terjadi

Medinsky mengklarifikasi dua komponen tersebut adalah komponen militer dan politik, di mana proposal Kiev akan dilaporkan ke Putin.

Editor: Faisal Zamzami
Anadolu Agency
Perundingan Rusia dan Ukraina yang difasilitasi Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Istanbul pada hari pertama, Selasa (29/3/2022). 

SERAMBINEWS.COM - Perundingan Rusia dan Ukraina di Istanbul berjalan konstruktif dan mendekati titik temu, sampai ke tingkat dimungkinkannya pertemuan pemimpin Rusia dan Ukraina untuk berunding secara bilateral, seperti dilaporkan RIA Novosti, Selasa (29/3/2022).

Delegasi Rusia untuk perundingan Rusia-Ukraina di Istanbul mengumumkan dua langkah untuk mengurangi eskalasi konflik di Ukraina setelah pembicaraan hari pertama.

RIA, mengutip delegasi Rusia, mengatakan, langkah-langkah itu termasuk "pengurangan drastis dalam aktivitas militer di arah Kyiv dan Chernihiv," dan kemungkinan pertemuan antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky bersamaan dengan inisialisasi perjanjian perdamaian antara menteri luar negeri kedua negara.

Kepala delegasi Rusia, pejabat tinggi kantor kepresidenan Rusia, Vladimir Medinsky, menyebut perundingan itu “konstruktif,” dan Moskow akan mengambil dua langkah untuk meredakan konflik, kata Medinsky setelah pembicaraan di Istanbul.

Medinsky mengklarifikasi dua komponen tersebut adalah komponen militer dan politik, di mana proposal Kiev akan dilaporkan ke Putin.

"Pembicaraan berlangsung konstruktif. Kami menerima proposal dari Ukraina untuk dipertimbangkan - posisi yang dirumuskan dengan jelas tentang penyertaan mereka dalam perjanjian," kata Medinsky.

"Proposal ini akan dipertimbangkan dalam waktu dekat, dilaporkan kepada presiden, dan tanggapan terkait akan kami berikan."

Moskow mengusulkan untuk mempercepat pertemuan antara kedua presiden. 

Baca juga: Perundingan Rusia-Ukraina di Turki Dimulai, Pertempuran di Sekitar Kiev Bakal Mereda

Baca juga: Presiden Turki Desak Rusia dan Ukraina Sepakati Gencatan Senjata, Harus Segera Akhiri Tragedi

Seperti yang dikatakan Medinsky, Moskow beranjak dari kebijakan bahwa pertemuan antara Putin dan Zelensky akan dimungkinkan ketika para pihak mencapai kesepakatan.

Medinsky berkata, "Format yang diusulkan adalah sebagai berikut - pertama, sebuah perjanjian disiapkan, kemudian perjanjian itu disetujui oleh para perunding, didukung oleh para menteri luar negeri pada pertemuan itu, setelah itu pertemuan kepala negara untuk menandatangani."

"Ini bukan pertanyaan mudah, apalagi ada kemungkinan pertemuan multilateral dengan partisipasi negara-negara penjamin perdamaian dan keamanan di Ukraina," imbuh kepala delegasi tersebut.

Dia menambahkan, Moskow menawarkan untuk mengadakan pertemuan kepala negara bersamaan dengan penandatanganan perjanjian oleh para menteri luar negeri.

"Setelah percakapan yang berarti hari ini, kami telah menyetujui dan mengusulkan solusi yang memungkinkan pertemuan para kepala negara bersamaan dengan penandatanganan perjanjian oleh para menteri luar negeri," ujar Medinsky.

"Terlebih lagi, pada saat inisialisasi dan pertimbangan rincian perjanjian, dimungkinkan untuk membahas berbagai nuansa dan detail politik."

Sementara itu, penasihat Presiden Ukraina, Mykhailo Podolyak, mengatakan cukup banyak kemajuan yang dicapai selama pembicaraan antara delegasi Rusia dan Ukraina pada Selasa di Istanbul untuk memungkinkan Putin dan Zelensky bertemu.

Berbicara di Istanbul setelah pembicaraan selesai antara kedua belah pihak pada Selasa, Podolyak mengatakan, sekarang ada "kemungkinan" kedua presiden dapat bertemu.

"Kami memiliki dokumen yang disiapkan sekarang yang memungkinkan para presiden untuk bertemu secara bilateral," katanya.

Pembicaraan antara kedua pihak akan "terus online 24/7," kata Podolyak, menambahkan bahwa Ukraina membutuhkan "kata-kata yang jelas secara hukum."

"Delegasi Rusia konstruktif dan eling. Ini tidak berarti negosiasinya mudah. Sangat sulit malahan, tapi pihak Rusia memperhatikan proposal Rusia, proposal Ukraina," tambahnya.

Turki sebelumnya juga menjadi tuan rumah pertemuan pertama antara menteri luar negeri Ukraina dan Rusia pada 10 Maret, setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 24 Februari.

  
Pembicaraan di kota selatan Antalya itu gagal menghasilkan gencatan senjata atau membuat kemajuan nyata lainnya.

Turki sebelumnya menjadi tuan rumah pertemuan pertama antara menteri luar negeri Ukraina dan Rusia pada 10 Maret, setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 24 Februari.

  
Pembicaraan di kota selatan Antalya itu gagal menghasilkan gencatan senjata atau membuat kemajuan nyata lainnya.

Presiden Turki Desak Rusia dan Ukraina Sepakati Gencatan Senjata

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Selasa (29/3/2022) mendesak para pejabat Rusia dan Ukraina untuk mencapai gencatan senjata dan mengakhiri tragedi ini.

Dia mengatakan hal itu untuk membuka jalan pertemuan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukaina Volodymyr Zelenskyy.

Negosiasi diharapkan berpusat pada keseimbangan tuntutan Rusia untuk demiliterisasi Ukraina dengan kebutuhan Kiev akan jaminan keamanan dari negara-negara termasuk Inggris dan AS.

"Kami percaya perdamaian yang adil tidak akan ada yang kalah, dan konflik yang berkepanjangan bukanlah kepentingan siapa pun," kata Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Erdogan menyampaikan itu kepada negosiator Rusia dan Ukraina menjelang pembicaraan di Istanbul, menurut kantor berita resmi Anadolu.

Turki, yang menjadi tuan rumah perundingan, menjaga hubungan baik dengan Moskow dan Kiev.

Turki telah memasok Ukraina dengan pesawat tak berawak yang telah terbukti efektif melawan baju besi Rusia.

Tetapi, Ankara menolak menyetujui sanksi terhadap Kremlin, bahkan menyambut oligarki Rusia seperti Abramovich.

Pembicaraan dua hari, tertutup untuk pers, diadakan di dalam kompleks kantor kepresidenan dengan keamanan tinggi.

  
Lokasi pertemuan berdekat dengan kompleks Istana Dolmabahce Istanbul di Selat Bosphorus.

Dengan menjadi tuan rumah pembicaraan, Turki berharap dapat meningkatkan status diplomatiknya sendiri.

Tetapi juga mengakhiri konflik yang telah mendorong harga energi dan pangan global dan merusak industri pariwisata Turki.

Perang juga telah menciptakan ancaman keamanan Laut Hitam.

Dua kali Angkatan Laut Turki menghadapi ranjau yang tidak meledak yang tampaknya melayang dari zona konflik ke perairan Turki.

Satu dibuat ke Selat Bosphorus yang penting, tempat ratusan feri penumpang dan lusinan kapal tanker berisi bahan bakar melintas setiap hari.

 

Baca juga: Korban Robot Trading DNA Pro Melapor ke Polda Metro Jaya karena Merugi Miliaran Rupiah  

Baca juga: Bursa Calon Rektor UTU Sepi Peminat, Satu Pekan Dibuka Belum Ada Pendaftar

Baca juga: Rekam Jejak Brigjen Iwan Setiawan, Danjen Kopassus Pilihan Panglima TNI, Penakluk Gunung Everest

Sumber: Kompastv

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved