Konflik Rusia vs Ukraina
Pejabat Intelijen Amerika Serikat Tak Percaya Roman Abramovich dan Dua Negosiator Ukraina Diracun
Ia menyebut Roman Abramovich dan negosiator perdamaian Ukraina mengalami gejala-gejala karena faktor lingkungan, bukan keracunan.
Meski bukan utusan resmi pemerintah Rusia, Abramovich yang terdampak sanksi ekonomi barat, dilaporkan ikut membantu peredaan konflik Rusia-Ukraina,.
Abramovich masuk daftar nama perseorangan Rusia yang aset-asetnya dibekukan, dan dipersulit pergerakan bisnisnya.
Baca juga: Roman Abramovich, Pemilik Chelsea FC Diduga Diracun dengan Senjata Kimia, Kulit Wajah Mengelupas
Baca juga: Miliarder Rusia Roman Abramovich, Negosiator Perdamaian Ukraina, Diduga Diracuni
Roman Abramovich dan Dua Negosiator Ukraina Diduga Diracun Senjata Kimia
Oligark yang tengah berperan sebagai mediator Rusia-Ukraina sekaligus pemilik Chelsea FC, Roman Abramovich diduga diracun menggunakan senjata kimia. Selain Abramovich, dua negosiator Ukraina juga diduga diracun.
Wall Street Journal melaporkan bahwa Abramovich dan dua negosiator Ukraina menunjukkan tanda keracunan usai rapat di Kiev awal Maret lalu.
Surat kabar ini mengaku mewawancarai sumber anonim yang mengetahui peristiwa tersebut.
Beruntung, Abramovich dan dua negosiator Ukraina yang dimaksud dilaporkan telah pulih dan nyawanya tak terancam.
Menurut laporan Wall Street Journal, Abramovich menunjukkan gejala berupa kulit wajah dan tangan mengelupas, mata merah dan terasa menyakitkan, serta inflamasi kulit yang menyakitkan.
Bellingcat, kolektif investigator yang pernah menyelidiki peracunan Alexei Navalny dan Sergei Skripal oleh Rusia, melaporkan bahwa Abramovich, serta dua negosiator Ukraina merasakan gejala pada malam hari setelah pertemuan di Kiev pada 3 Maret 2022.
Menurut Bellingcat, gejala yang dialami tiga orang itu konsisten dengan keracunan senjata kimia.
Akan tetapi, menurut laporan Wall Street Journal, para ahli yang menyelidiki kasus ini gagal mendapatkan sampel dari ketiga korban tepat waktu.
Investigator Bellingcat yang memimpin penyelidikan, Christo Grozev menyebut gambar-gambar gejala yang dialami konsisten dengan keracunan senjata kimia.
Namun, kegagalan mendapat sampel tepat waktu membuat detail zat yang meracuni Abramovich tidak bisa diketahui.
Investigator yang tengah berada di Lviv, Ukraina tidak bisa mendapatkan sampel karena Abramovich dan tim negosiator terburu-buru bertolak ke Istanbul, Turki.
Kemudian, kasus keracunan ini diselidiki oleh tim ahli forensik dari Jerman.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Roman-Abramovich-3.jpg)