Konflik Rusia vs Ukraina
Pejabat Intelijen Amerika Serikat Tak Percaya Roman Abramovich dan Dua Negosiator Ukraina Diracun
Ia menyebut Roman Abramovich dan negosiator perdamaian Ukraina mengalami gejala-gejala karena faktor lingkungan, bukan keracunan.
Namun, banyaknya waktu yang terlewat membuat penyebab keracunan tidak bisa diketahui.
Hipotesis investigator menyebut gejala-gejala yang dialami Abramovich dan dua korban bisa disebabkan oleh agen biologis, kimia, atau serangan radiasi elektromagnetik.
Christo Grozev menyebut dugaan peracunan ini disengaja memberi efek yang tidak fatal.
“Itu tidak dimaksudkan untuk membunuh, melainkan untuk memperingatkan,” kata Grozev.
Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky yang juga bertemu Abramovich di Kiev disebut tak mengalami gejala apa pun.
Juru bicara Zelensky menyebut sang presiden tidak tahu-menahu soal insiden dugaan peracunan.
Pihak Ukraina menduga dalang peracunan adalah “kelompok garis keras” di Moskow yang ingin menyabotasi perundingan damai.
Sedangkan orang dekat Abramovich mengaku dalang yang mengincar kelompok negosiator belumlah jelas.
Sejak insiden keracunan ini, Abramovich dilaporkan telah terbang ke Lviv, Istanbul, dan berbagai tempat lain untuk keperluan negosiasi Rusia-Ukraina.
Pemilik Chelsea itu berupaya menjadi “mediator” di tengah konflik.
Presiden Zelensky sendiri telah meminta Abramovich jangan disanksi karena berperan dalam negosiasi Rusia-Ukraina.
Abramovich merupakan orang dekat Vladimir Putin sejak 1990-an.
Bahkan, Abramovich disebut sebagai orang pertama yang merekomendasikan Putin sebagai suksesor Boris Yeltsin.
Baca juga: Wali Kota Sabang Apresiasi Rumoh Restorative Justice Kejari Sabang
Baca juga: Eks Presiden Rusia Ungkap 4 Skenario Negaranya Bakal Menggunakan Senjata Nuklir
Baca juga: Aturan Baru Taliban: Wajibkan PNS Afghanistan Berjenggot dan Berserban, Perempuan Dilarang Sekolah
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Roman-Abramovich-3.jpg)