Senin, 4 Mei 2026

Internasional

Lebanon Dihantam Darurat Pendidikan, 280 Pusat Pendidikan di Beirut Hancur Terkena Ledakan Pelabuhan

ebanon sedang bergulat dengan darurat pendidikan, akbat krisis ekonomi selama betahun-tahun yang ikut membebani siswa dan guru.

Tayang:
Editor: M Nur Pakar
AFP/ANWAR AMRO
Perdana Menteri Lebanon Najib Mikati (kanan) dan Asisten Direktur Jenderal Pendidikan UNESCO Stefania Giannini (kedua-kanan) mendengarkan Maysoun Chehab (tengah), Pejabat Profesional Pendidikan Nasional UNESCO untuk Lebanon, tentang penyelesaian sebuah proyek untuk merehabilitasi 280 bangunan pendidikan yang rusak akibat ledakan pelabuhan Beirut 2020, di Sekolah Mufti Hassan Khaled yang dipugar di Beirut Senin (28/3/2022). 

SERAMBINEWS.COM, BEIRUT - Lebanon sedang bergulat dengan darurat pendidikan, akbat krisis ekonomi selama betahun-tahun yang ikut membebani siswa dan guru.

“Kami sekarang dalam situasi darurat pendidikan," kata Maysoun Chehab dari badan pendidikan dan kebudayaan (UNESCO) PBB.

"Pendidikan di Lebanon berada dalam krisis karena negara ini hidup dalam kemiskinan,” jelasnya.

Dia berbicara di sela-sela acara Senin (28/3/2022) untuk merayakan selesainya proyek UNESCO senilai $35 juta untuk merehabilitasi 280 pusat pendidikan yang hancur akibat ledakan tahun 2020.

Ledakan yang disebabkan oleh pupuk yang disimpan sembarangan di pelabuhan Beirut menewaskan lebih dari 200 orang.

Juga menghancurkan sebagian besar ibu kota dan mengganggu pendidikan 85.000 pemuda.

Baca juga: Pembunuhan Seorang Ibu Bersama Tiga Putrinya Guncang Lebanon, Pelaku Tunangan Salah Seorang Korban

Kepala UNESCO Audrey Azoulay mengunjungi Beirut beberapa minggu lalu, mendorong upaya untuk memulihkan situs warisan dan sekolah yang rusak.

Siswa dan guru sekarang memiliki ruang kelas baru

Dilansir AFP, Rabu (30/3/2022), mereka masih menderita efek kembar dari krisis ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya di Lebanon dan pandemi virus Corona.

Pemadaman listrik setiap hari berlangsung lebih dari 20 jam.

Ditambah melonjaknya harga bensin membuat banyak siswa tidak mampu untuk mencapai kelas atau belajar dari rumah.

Baca juga: Dewan Tertinggi Syiah Lebanon Tabal Sheikh Ali Al-Husseini Sebagai Ulama Piano

“Sekolah tidak memiliki cukup dana untuk beroperasi sebagaimana mestinya," kata Chehab,

"Turu tidak memiliki gaji yang cukup untuk hidup sejahtera," tambahnya.

"Siswa juga tidak memiliki sarana transportasi karena harga bahan bakar yang tinggi,” kata Chehab, kepala pendidikan UNESCO untuk Lebanon.

“Ini semua mempengaruhi kualitas pendidikan," ujarnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved