Ramadhan 1443 H

Abu Muda: Sikapi Kemungkinan Perbedaan Awal Ramadhan dengan Saling Menghargai

Perbedaan penetapan awal ramadhan atau awal syawal, merupakan hal biasa sehingga harus disikapi dengan hati yang jernih.

Penulis: Rahmat Saputra | Editor: Taufik Hidayat
Dok Pribadi
Abu Muda Tgk H Muhammad Qudusi Syam Marfaly 

Laporan Rahmat Saputra | Aceh Barat Daya

SERAMBINEWS.COM, BLANGPIDIE - Ketua Pimpinan Cabang Persatuan Tarbiyah Islamiyah Aceh Barat Daya (Perti Abdya) Abu Muda Tgk H Muhammad Qudusi Syam Marfaly mengimbau kepada ummat Islam Aceh, khususnya Abdya agar menyikapi kemungkinan perbedaan awal ramadhan dengan saling menghargai dan tetap menjaga ukhuwah islamiyah.

"Ramadhan adalah Syahrut Tarbiyah. Tarbiyah atau mendidik diri tidak hanya menyangkut jasadiah dan fikriah tetapi juga qalbiyah. Tarbiyah qalbiyah inilah yang paling penting khususnya selama ramadhan," ujar Abu Muda yang juga Pimpinan Dayah Bustanul Huda Blangpidie.

Menurut Abu Muda, perbedaan penetapan awal ramadhan atau awal syawal, merupakan hal biasa dan sudah terjadi sejak zaman sahabat, sehingga harus disikapi dengan hati yang jernih.

Saat ditanya terkait penentuan awal ramadhan di Dayah Bustanul Huda dan bagi masyarakat Perti, ia menjelaskan bahwa ulama dayah di Abdya menetapkan permulaan Ramadhan dan Syawal melalui sidang itsbat di Masjid Jami' Baitul 'Adhim Blangpidie.

"Penetapan awal Ramadhan dan awal Syawal yang kami lakukan mengikuti pendapat jumhur dalam Mazhab Syafi'i yaitu harus didasarkan dengan Ru'yatul Hilal bil Fi'ly dalam wilayah yang sama mathla' (batas geografis keberlakuan ru'yat). Karenanya, kami meminta jama'ah Perti di Aceh Barat Daya untuk menunggu hasil sidang itsbat," terangnya.

Menyambut ramadhan, Abu Muda menghimbau agar menjadikan ramadhan sebagai momentum berbenah diri dan mempererat silaturahmi.

Lebih lanjut ia menjelaskan, bahwa Ramadhan mendidik kita untuk meluruskan niat dan menata hati agar senantiasa bersyukur atas segala nikmat Illahi, berhusnuzhan kepada sesama, berlapang dada menyikapi perbedaan serta selalu mengingat Allah SWT di segala keadaan.

"Isi ramadhan dengan kegiatan positif dan edukatif serta bermanfaat bagi masyarakat luas. Spirit persatuan harus selalu dikedepankan dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi shaum ramadhan yang dikerjakan secara kolektif, bukan individu. Ini, menunjukkan pentingnya persaudaraan dan kebersamaan selama ramadhan," tegasnya.

Tahun ini kita juga memasuki tahun politik, sehingga rasa persatuan ummat harus semakin ditingkatkan. Tidak ada perbedaan kita di hadapan Allah kecuali taqwa dan hati kita. Karenanya mari tingkatkan iman dan taqwa serta jangan sampai terpengaruh oleh situasi yang memecah belah umat.

"Jangan sampai kita terjebak dalam pertentangan dan perselisihan termasuk perbedaan paham keagamaan," tutupnya.(*)

Baca juga: Hilal tak Terlihat di Langit Aceh, Penetapan Awal Ramadhan Disampaikan Menag

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved