Selasa, 28 April 2026

Berita Eksklusif Pernikahan Terkoyak

Mengungkap Realitas LGBTQ di Banda Aceh

Isu LGBTQ di Banda Aceh mencuat seiring lonjakan kasus HIV/AIDS dan penangkapan pelaku oleh warga serta polisi syariat.

|
Editor: mufti
COVER KORAN SERAMBI INDONESIA
HEADLINE KORAN SERAMBI INDONESIA EDISI AHAD 20251012 

Isu LGBTQ (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Queer atau Questioning) di Banda Aceh mencuat seiring lonjakan kasus HIV/AIDS dan penangkapan pelaku oleh warga serta polisi syariat. Fenomena ini dianggap bertentangan dengan nilai sosial, budaya, dan Syariat Islam yang berlaku di Aceh. Liputan ini bertujuan mengungkap realitas di lapangan, termasuk kisah personal, komunitas, serta dampak kesehatan dan sosial. 

SEBUT saja namanya Sri, seorang perempuan warga Kota Banda Aceh, menikah saat masih kuliah. Suaminya, seorang PNS yang bekerja di salah satu kabupaten di barat selatan Aceh, usianya jauh lebih tua. Hubungan mereka jarak jauh yang hanya sesekali bertemu. Anehnya, setiap kali bertemu, tak pernah ada hubungan suami istri.

Sri sempat mencoba membuka ruang keintiman, tetapi tak pernah mendapat respons. Ia memilih berprasangka baik, mengira suaminya impoten karena faktor usia. Selama kebutuhan hidupnya terpenuhi, ia tak akan mempermasalahkannya. Sepuluh tahun pun berlalu dalam diam.

Hingga suatu hari, saat Sri berkunjung ke tempat suaminya bekerja, seorang pria datang dan mengaku sebagai pasangan dari suaminya. Pria itu mengaku diputuskan karena kehadiran Sri, dan akhirnya membuka rahasia kelam bahwa suaminya adalah gay atau homoseksual, yaitu kelainan seksual yang membuat seseorang pria menyukai sesama jenis.

Meski secara materi tidak ada masalah dan selaku istri selalu merasa diratukan, tetapi ia merasa ada sesuatu yang salah, yang bertentangan dengan hati nuraninya. “Saya merasa seperti memelihara kaum Nabi Luth,” ujar Sri, mengenang masa itu.

Sri kemudian memutuskan berpisah. Hakim Mahkamah Syariah bahkan sempat menawarkan pembatalan pernikahan karena selama satu dekade ia tak pernah disentuh suami. Tetapi ia menolak hal itu. Setahun kemudian Sri menikah lagi dan kini telah memiliki anak.

Kisah lain datang dari seorang dosen perempuan di salah satu kampus swasta di Banda Aceh. Ia menikah pada 2018, di usia 30 tahun, usia yang menurut keluarganya sudah terlambat. Desakan demi desakan membuatnya menyerah pada perjodohan. 

Calon suaminya yang bekerja di sektor swasta saat itu tampak biasa saja, sopan, dan tidak menunjukkan tanda-tanda yang mencurigakan. “Saya pikir, ini jalan terbaik. Saya sudah capek ditanya kapan menikah,” tuturnya lirih saat ditemui Serambi di salah satu warung kopi di Banda Aceh.

Namun sejak malam pertama, ia mulai merasa ada yang ganjil. Tidak ada sentuhan, tidak ada gairah. Ia mencoba memancing, mencoba membuka ruang keintiman, tetapi suaminya tetap dingin. 

Ia memilih diam. Menyimpan semuanya sebagai aib keluarga. Ia masih berharap, mungkin waktu akan mengubah segalanya. Waktu berlalu. Mertuanya pun rajin mengantar pinang muda, berharap cucu segera hadir. Tapi harapan itu tak kunjung menjadi kenyataan.

Tekanan dari keluarga semakin berat. Pertanyaan kapan punya anak, menjadi duri yang menusuk. Akhirnya ia tak sanggup lagi. Ia membuka rahasia yang selama ini ia pendam bahwa suaminya seorang gay.

“Saya bilang ke keluarga, saya sudah mencoba. Tapi dia tidak tertarik pada saya. Saya tahu ini berat, tapi saya tidak bisa terus berpura-pura,” katanya dengan suara bergetar. Keluarganya tentu sangat terkejut. Ia lalu memutuskan berpisah dan hingga kini belum menikah lagi. Trauma itu masih sangat membekas.

Kisah serupa juga dialami seorang perempuan di Aceh Besar. Ia bekerja sebagai PNS di Jantho. Menikah pada tahun 2015, juga karena dijodohkan. Pernikahan itu hanya bertahan setahun. “Saya baru tahu setelah menikah, dia tidak tertarik pada saya. Saya merasa seperti hidup dalam sandiwara,” ujarnya singkat. Ia pun memilih berpisah dan sampai sekarang belum menikah.

Semakin Marak

Homoseksual atau gay adalah bagian dari spektrum LGBTQ (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Queer atau Questioning) dan menjadi bagian inti dari komunitas ini. Rusaknya rumah tangga hanyalah satu dari beberapa dampak lain, seperti resiko penyakit menular, tekanan psikologis, konflik nilai, dan potensi disintegrasi sosial. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved