Video
VIDEO - Fajri Tetap Memeras Tebu dengan Alat Tradisonal, Dijual Rp 3.000 Gelas
Meskipun memeras tebu dengan alat tradidional banyak menghabiskan tenaga, air tebu tetap dijual dengan harga Rp 3.000 per bungkus.
Penulis: Saiful Bahri | Editor: m anshar
Laporan Saiful Bahri I Lhokseumawe
SERAMBINEWS.COM - Nur Fajri, seorang pria asal Paya Leupah, Kecamatan Simpang Keuramat, Aceh Utara. Pada bulan Ramadhan, Nur Fajri mencari nafkah dengan menjual air tebu di Jalan Malikussaleh di Lhokseumawe.
Namun uniknya, disaat penjual tebu lainya memeras air tebu dengan menggunakan mesin, Fajri malah tetap memeras tebu dengan alat tradisonal, yang dikenal di Aceh dengan nama "Nyeuh teubee".
Kepada Serambinews.com, Fajri menyebutkan, dirinya tetap memeras tebu dengan alat tradisional demi kepuasan pelanggan.
Alasannya, dengan alat tradisonal, rasa air tebu lebih nikmat.
Air yang keluar adalah sari pati tebu. Menggunakan alat ini, ampas yang tercampur dengan air pun sangat dikit.
Pada Ramadhan tahun lalu, dia sempat memeras tebu dengan mesin. Tapi banyak pelanggan yang protes karena cita rasa yang berbeda.
Meskipun memeras tebu dengan alat tradidional banyak menghabiskan tenaga, air tebu tetap dijual dengan harga Rp 3.000 per bungkus.
Dalam sehari pada bulan Ramadhan, Fajri memperoleh keuntungan rata-rata Rp 50 ribu.
Meski untung dikit, tapi kepuasan pelanggan menjadi kebanggan sendiri bagi Fajri.(*)
Narator: Ulfa Jazila
Video Editor: M Anshar