Senin, 13 April 2026

Internasional

Pemimpin Chechnya Serukan Warga Azovstal Menyerah dan Pulang Kembali ke Keluarga Mereka

Pemimpin Chechnya Ramzan Kadyrov, seorang pendukung setia Presiden Rusia Vladimir Putin, Rabu (13/4/2022) mendesak warga Ukraina yang bersembunyi

Editor: M Nur Pakar
AFP
Pemimpin Chechnya Ramzan Kadyrov 

SERAMBINEWS.COM, LVIV - Pemimpin Chechnya Ramzan Kadyrov, seorang pendukung setia Presiden Rusia Vladimir Putin, Rabu (13/4/2022) mendesak warga Ukraina yang bersembunyi di Kota Azovstal untuk menyerah.

"Di dalam Azovstal saat ini ada sekitar 200 orang terluka yang tidak dapat menerima bantuan medis apapun," kata Kadyrov dalam sebuah posting Telegram.

"Bagi mereka dan yang lainnya, akan lebih baik untuk mengakhiri perlawanan yang tidak berguna ini dan pulang ke keluarga mereka," harapnya.

Televisi Rusia menunjukkan gambar dari apa yang dikatakan, marinir yang menyerahkan diri di Illich Iron and Steel Works di Mariupol pada Selasa (12/4/2022), banyak dari mereka terluka.

Itu menunjukkan apa yang dikatakan tentara Ukraina sedang berbaris di jalan dengan tangan di udara.

Salah satu tentara terlihat memegang paspor Ukraina.

Baca juga: Pemimpin Chechnya Dikenal Sebagai Kaki-Tangan Tuan Putin, Siap Melayani Kremlin, Apapun Tugasnya

Wakil Menteri Pertahanan Ukraina Hanna Malyar mengatakan ada risiko tinggi Rusia menggunakan senjata kimia dalam
serangan mereka di negara itu.

Dia menggemakan peringatan sebelumnya oleh Zelenskiy, yang pada Rabu (13/4/2022) mengatakan kepada parlemen Estonia melalui tautan video, Rusia menggunakan bom fosfor untuk meneror warga sipil.

Dia tidak memberikan bukti dan Reuters belum dapat memverifikasi pernyataannya secara independen.

Produksi, penggunaan, dan penimbunan senjata kimia dilarang berdasarkan Konvensi Senjata Kimia 1997.

Fosfor putih, meskipun dikutuk oleh kelompok hak asasi manusia, tidak dilarang.

Rusia membantah menggunakan senjata kimia, dengan mengatakan telah menghancurkan stok bahan kimia terakhirnya pada 2017.

Baca juga: Panglima Perang Chechnya Tegaskan Anak Buahnya Siap Angkat Pedang, Selesaikan Pekerjaan di Ukraina

Serangan Moskow ke Ukraina, serangan terbesar di negara Eropa sejak 1945, telah menyebabkan lebih dari 4,6 juta orang melarikan diri ke luar negeri.

Bahkan, membunuh atau melukai ribuan orang dan membuat Rusia semakin terisolasi di panggung dunia.

Kantor kejaksaan Ukraina mengatakan 191 anak tewas dan 349 terluka sejak awal invasi.

Kremlin mengatakan pihaknya meluncurkan operasi militer khusus untuk demiliterisasi dan denazifikasi Ukraina.

Kiev dan sekutu Baratnya menolak itu sebagai dalih palsu untuk serangan yang tidak beralasan.(*)

Baca juga: Presiden Ukraina Mengejak Vladimir Putin, Tentara Rusia Banyak Sekarat

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved