Breaking News:

Kemiskinan

Peneliti FEB USK: Kemiskinan Disebabkan Beban Pengeluaran dan Rendahnya Pendidikan

Fakhrudin yang memaparkan hasil kajian tentang kemiskinan di Aceh, menyampaikan, sebagai alternatif rencana tindak lanjut pengentasan kemiskinan bisa

Penulis: Fikar W Eda | Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/FOR SERAMBINEWS.COM
Jalannya desminisai hasil penelitian yang diselenggarakan Bappeda Aceh. 

Laporan Fikar W Eda I Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Penyebab kemiskinan di Aceh terkait dengan beban pengeluaran masyarakat, rendahnya tingkat pendidikan, tingginya biaya transaksi ekonomi dan meningkatnya harga bahan kebutuhan pokok strategis.

Kesimpulan itu disampaikan peneliti Fakhrudin SE MSE dalam Desiminasi hasil-hasil penelitian yang diselenggarakan Bappeda Aceh Bappeda Aceh melalui Bidang Penelitian dan Pengembangan, Rabu (13/4/2022).

Dalam kesempatan yang sama juga dipresentasikan kajian pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui penguatan UMKM Dr Srinita SE MSi dan kajian mengenai analisis makro Aceh yang disampaikan Dr M Abrar SE MSi.

Ketiganya merupakan peneliti dari Fakuktas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh.

Fakhrudin yang memaparkan hasil kajian tentang kemiskinan di Aceh, menyampaikan, sebagai alternatif rencana tindak lanjut pengentasan kemiskinan bisa dengan cara mengutamakan rumah tangga perempuan melalui bantuan-bantuan keuangan dan pemberdayaan.

Teks Naskah Ceramah Ramadhan Dalam Rangka Safari Ramadhan 1443 H

"Pembekalan keterampilan atau pelatihan-pelatihan disertai pendampingan dan pengecekan keberhasilan usaha," katanya.

Fakhrudin juga mengatakan kegagalan perencanaan yang umum disebabkan oleh kesulitan menentukan indikator yang disepakati dari awal.

"Jika kita dari awal kesulitan mengidentifikasi indikatornya maka kita juga akan kesulitan menentukan kebijakan apa atau program/kegiatan apa yang cocok untuk mencapai tujuan tersebut," kata Fakhrudin.

Sementara itu kajian pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui penguatan UMKM dipresentasikan oleh Dr Srinita SE MSi menyebutkan berdasarkan hasil uji kuantitatif kondisi di lapangan, produktifvitas UMKM dipengaruhi oleh harga, tenaga kerja, modal dan produksi sedangkan teknologi, pemasaran dan kebijakan pemerintah belum optimal mempengaruhi produktivitas UMKM di 5 kabupaten/ kota di Aceh.

Tantangan utama yang dihadapi UMKM adalah turunnya permintaan. Turunnya aktivitas dan pertumbuhan ekonomi baik nasional maupun global telah berdampak pada turunnya permintaan masyarakat termasuk untuk produk dan jasa yang dihasilkan oleh UMKM.

Kunjungi BPS Aceh, Haji Uma Bahas Satu Data Indonesia dan Data Kemiskinan Aceh

Dr Srinita menyarankan agar pemerintah daerah harus lebih efektif melaksanakan pelatihan keterampilan terhadap penggiat ekonomi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) untuk meningkatkan skill serta kualitas produksi yang dihasilkan.

Berikutnya yaitu menyediakan layanan pengaduan UMKM untuk mengetahui apa yang sebenarnya dibutuhkan dan kendala yang yang dihadapi oleh penggiat ekonomi UMKM.

Kajian mengenai analisis makro Aceh yang disampaikan oleh Dr M Abrar SE MSi.
Diutarakan bahwa pencapaian kinerja makro ekonomi belum dapat menunjukkan dampak yang maksimum terhadap pengentasan kemiskinan di Aceh maupun di kabupaten/kota.

Kebijakan pembangunan yang tidak mendorong peningkatan kualitas manusia hanya akan membuat daerah bersangkutan tertinggal dari daerah lain, termasuk dalam hal kinerja ekonominya.

Dr Abrar menyarankan agar pemerintah daerah mempunyai regulasi yang jelas mengenai kemiskinan dan ketika regulasi tersebut berlaku hal tersebut harus ditaati dan dijalankan dengan baik oleh pemda dalam menyusun RPJMD.

Pemda juga harus senantiasa memedomani penyusunan APBD dengan mengacu pada RPJMD yang berkualitas agar tercipta pembangunan yang berkesinambungan khususnya penaggulangan kemiskinan.(*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved