Rabu, 13 Mei 2026

Viral Medsos

Akademisi UIN Ar-Raniry Kecam Rektor ITK yang Sindir Wanita Berjilbab sebagai Manusia Gurun

"Menyebut wanita yang menutup kepala sebagai wanita gurun jelas adalah tindakan Xenophobia yang menjijikkan," ungkap Teuku Zulkhairi.

Tayang:
Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Amirullah
For Serambinews.com
Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Dr Teuku Zulkhairi 

Teuku Zulkhairi menyarankan rektor ITK ini agar segera minta maaf atas tindakan Xenophobia ini, dan meminta untuk tidak megusik ketenangan muslimah/muslimah dengan kalimat-kalimat yang melukai.

"Jika sekeluarga Anda yang perempuan tidak memakai penutup kepala, itu urusan Anda tapi hormatilah orang lain yang memakainya tanpa melukainya dengan lisan kita," tegas Zulkhairi.

Baca juga: Siswi Muslim Karnataka Dilarang Masuk Sekolah, Berkemah di Halaman, Protes Larangan Pakai Jilbab

Sebelumnya, Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK), Prof Budi Santosa Purwokartiko membuat gaduh jagat maya dengan pernyataan yang mengandung Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA), Rabu (27/4/2022).

Selain menyebut "penutup kepala ala manusia gurun" kepada wanita yang memakai jilbab, dia juga menyebut mereka tidak seperti mahasiswi lainnya yang memiliki pemikiran terbuka.

Berikut isi tulisan lengkap Prof Budi Santoso yang kontroversial, diduga mengandung SARA:

Saya berkesempatan mewawancara beberapa mahasiswa yang ikut mobilitas mahasiswa ke luar negeri. Program Dikti yang dibiayai LPDP ini banyak mendapat perhatian dari para mahasiswa.

Mereka adalah anak-anak pinter yang punya kemampuan luar biasa. Jika diplot dalam distribusi normal, mereka mungkin termasuk 2,5 persen sisi kanan populasi mahasiswa.

Tidak satu pun saya mendapatkan mereka ini hobi demo. Yang ada adalah mahasiswa dengan IP yang luar biasa tinggi di atas 3.5 bahkan beberapa 3.8, dan 3.9. Bahasa Inggris mereka cas cis cus dengan nilai IELTS 8, 8.5, bahkan 9.

Duolingo bisa mencapai 140, 145, bahkan ada yang 150 (padahal syarat minimum 100). Luar biasa. Mereka juga aktif di organisasi kemahasiswaan (profesional), sosial kemasyarakatan, dan asisten lab atau asisten dosen.

Mereka bicara tentang hal-hal yang membumi: apa cita-citanya, minatnya, usaha-usaha untuk mendukung cita-citanya, apa kontribusi untuk masyarakat dan bangsanya, nasionalisme dan sebagainya.

Tidak bicara soal langit atau kehidupan sesudah mati. Pilihan kata-katanya juga jauh dari kata-kata langit: insaallah, barakallah, syiar, qadarullah, dan sebagaianya.

Generasi ini merupakan bonus demografi yang akan mengisi posisi-posisi di BUMN, lembaga pemerintah, dunia pendidikan, sektor swasta beberapa tahun mendatang.

Dan kebetulan dari 16 yang saya harus wawancara, hanya ada dua cowok dan sisanya cewek. Dari 14, ada dua tidak hadir.

Jadi 12 mahasiswi yang saya wawancarai, tidak satu pun menutup kepala ala manusia gurun. Otaknya benar-benar open mind.

Mereka mencari Tuhan ke negara-negara maju, seperti Korea, Eropa Barat dan US, bukan ke negara yang orang-orangnya pandai bercerita tanpa karya teknologi. (Serambinews.com/Agus Ramadhan)

BERITA TERKAIT

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved