Sabtu, 25 April 2026

Viral Medsos

Akademisi UIN Ar-Raniry Kecam Rektor ITK yang Sindir Wanita Berjilbab sebagai Manusia Gurun

"Menyebut wanita yang menutup kepala sebagai wanita gurun jelas adalah tindakan Xenophobia yang menjijikkan," ungkap Teuku Zulkhairi.

Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Amirullah
For Serambinews.com
Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Dr Teuku Zulkhairi 

Akademisi UIN Ar-Raniry Kecam Rektor ITK yang Sindir Wanita Berjilbab sebagai Manusia Gurun

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Dr Teuku Zulkhairi mengecam pernyataan Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK), Prof Budi Santosa Purwokartiko yang menyindir "penutup kepala ala manusia gurun" kepada wanita yang memakai jilbab.

Tulisan Budi Santosa Purwokartiko yang viral di media sosial dan sudah dihapus ini dianggap menyindir wanita jilbab sebagai manusia gurun.

Namun tangkapan layar pernyataan Prof Budi Santosa Purwokartiko ini kemudian diunggah ulang oleh akun Twitter @Berlianidris pada Jumat (29/4/2022).

"Gelar dan jabatan tinggi tidak menjamin seseorang akan bijak. Menyebut wanita yang menutup kepala sebagai wanita gurun jelas adalah tindakan Xenophobia yang menjijikkan," ungkap Teuku Zulkhairi, Sabtu (30/4/2022) siang.

Baca juga: Capres Prancis Marine Le Pen Akan Melawan Ideologi Islam, Jilbab Akan Dilarang di Depan Umum

Dalam pernyataannya, Teuku Zulkhairi mengatakan bahwa biasanya kita dengar pernyataan-pernyataan anti pakaian muslimah ini muncul dari para politisi pengusung Islamphobia di Barat yang menebar permusuhan kepada muslim untuk kepentingan elektoral dalam pemilu.

Tapi, kata Zulkhairi, sangat disayangkan karena ini muncul dari seorang rektor dan Profesor di negeri yang mayoritas warganya muslim.

"Kebencian kepada identitas muslimah ini sepertinya begitu kuat terpatri di dadanya. Semoga Allah memberinya hidayah," harap Zulkhairi yang juga aktivis Santri Aceh ini.

Teuku Zulkhairi menilai ucapan Rektor ITK di media sosial yang sudah dihaspusnya itu sangat menjijikkan dan terkesan diskriminatif.

"Bukan saja menjijikkan karena menyebut wanita yang menutup kepala sebagai wanita gurun, tapi juga menjijikkan karena kesan diskriminasi dalam tulisannya itu yang mengesankan bahwa wanita yang menutup kepalanya seolah "tidak diharapkan" mengikuti seleksi yang ia lakukan," ujarnya.

Baca juga: Capres Filipina Disambut Meriah di Wilayah Bangsamoro, Pakai Jilbab dan Berkunjung ke Masjid Agung

“Kapan maju negara kita kalau para elit intelektualnya macam itu yang nggak selesai-selesai mengurus jilbab kaum perempuan,” kecam Teuku Zulkhairi.

Ia juga mempertanyakan, apakah Prof Budi selaku Rektor ITK ini mengira bahwa keterbukaan seorang perempuan akan menjadi indikasi kemajuan? Jika ada maka itu adalah pikiran bodoh.

"Sebab tidak ada bukti sama sekali perempuan berjilbab terhambat berkreasi dan berprestasi dalam teknologi karena jilbabnya itu," ujar Zulkhairi.

Kemajuan teknologi, katanya, sama sekali tidak mensyaratkan kaum perempuan harus melepaskan jelbabnya.

“Tidak ada hubungan sama sekali teknologi dengan jilbab perempuan,” terangnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved